Kisah Inspiratif : -6- Nabi Allah Daud Alaihissalam Mencampurkan air matanya kedalam minuman

Kisah Inspiratif : -6- Nabi Allah Daud Alaihissalam Mencampurkan air matanya kedalam minuman

Diceritakan dalam kitab al-Syifâ’ oleh al-Syaikh Qâdlî Iyyâdl bahwa Nabi Allah Daud Alaihissalam mencampukan air matanya ke dalam minumannya, tidak pernah sekalipun dilihat tertawa semenjak melakukan kesalahan, tidak pernah pula terlihat mengarahkan matanya ke atas langit karena rasa malu yang sangat mendalam kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sentiasa menangis hingga akhir hayat beliau.

Dalam satu riwayat dikatakan beliau menangis sampai rumput-rumput tumbuh subur karena air mata beliau dan karena tangisannya menyebabkan pipi mulia beliau dihinggapi binatang ulat.

Dari cerita ini juga dapat diambil satu pelajaran bahwa penyesalan terhadap sebuah kesalahan jika dibandingkan dengan rahmat dan kasih sayang serti ragam nikmat yang telah kita terima dari Allah Azza Wajalla tidak akan dapat terbayarkan. Allah berfirman وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها (jika kalian mencoba untuk menghitung-hitung nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian, maka tidak akan pernah dapat terhitung).

Dengan perbuatan dosa –mestinya—kita tidak akan pernah tidur nyenyak karena siapa tahu dosa kita belum terampuni Allah telah mengambil nyawa kita. Dan kita khawatir betapa banyak kesalahan yang kita lakukan setiap harinya, jika dibandingkan antara kesalahan yang dilakukan dengan kebajikan yang dijalankan, mungkin kita yang tersadarkan tidak akan pernah dapat merasakan manisnya gula, pahitnya empedu dan juga tidak akan pernah dapat merasakan panasnya matahari dan dinginnya salju.
Sudahkah kita merasakan seperti yang dirasakan seorang lelaki yang selalu tidur satu tempat bersama isterinya, namun setiap malamnya bantalnya selalu basah karena air matanya karena takutnya terhadap siksaan Allah?.

Imam al-Asymu’i juga menceritakan bahwa ia telah melihat ‘Ali ibn al-Husain Radliyallahu Anhuma selalu menangis karena sangat takutnya kepada Allah Azza Wajalla, kemudian aku berkata kepadanya (‘Ali ibn Al-Husain);” Wahai Tuanku, mengapa engkau terlalu banyak menangis, bukankah tuanku termasuk ahlul bayt yang telah diturunkan al-Qur’an al-Karim karenanya;”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, ahlul bayt, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya”.

Medengar perkataan saya, beliau kemudian mengatakan;”Haihat (hati-hati wahai Ashmu’i) dan ketahuilah bahwa Allah menciptakan surga bagi mereka-mereka yang mentaatiNya sekalipun dari golongan hamba sahaya yang kulit hitam dan Allah menciptakan neraka bagi mereka-mereka yang berbuat maksiat kepadaNya sekalipun dari keturunan raja-raja Quraisy”.

Dari perbincangan kedua tokoh tersebut kita dapat mengambil pengajaran bahwa surga dan neraka diciptakan Allah sebagai balasan bagi mereka-mereka yang di atas dunia melakukan perbuatan baik dan juga jahat. Bagi yang menjalankan kebajikan Allah akan memberikan tempat kembali yang terbaik yakni Surga dengan segala fasilitasnya dan bagi pekerja kejahatan maka akan disiapkan tempat yang sangat mengerikan yakni neraka.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA