Prof.Agustitin: PENTINGNYA PERAN GURU
Jika kita berkenan menamshami tntang tugas tugas seorang guru betapa sulitnya ,ketika GURU
harus mengikuti perkembangan teknologi saat ini.
Akan tetapi beuntunglah para guru masih begitu mencintai profesinya sehingga masih bersemangat untuk menyesuaikan profesinya dengan perkembangan zaman.
Melalui aktifitas tulis menulis, dan sering mempublikasikan tulisannya dapat dengan mudah menguasai hal hal yang kekinian.
Paling tidak bpk dan ibu guru masih mempunyai semangat untuk mengikuti perkembangan teknologi.
Dengan menulis otomatis belajar, sebab tidak mungkin kemampuan menulis bagus tanpa belajar, membaca danmengikuti perkembangan zaman. GURU harus membuka diri bahwa jika tidak belajar tentang internet, blog aplikasi- aplikasi berbasis IT Psti akan ketinggalan. Jika setiap paparan teknologi baru selalu diikuti paling tidak dibaca kelebihan dan kekurangannya maka keterkejutan budaya, kegagapan- kegagapan terhadap perkembangan IPTEK tidak terjadi.
*GURU HARUS BERUBAH*
Karenanya Guru mau tidak mau harus berubah, tidak mungkin stuck dan hanya mengandalkan kemampuan mainstream.
Di depan kelas guru.tidak mungkin mengajar, dan tidak peduli didengar atau tidak yang penting sudah duduk di kursi sambil membuat administrasi rutin agenda, chek absensi dan membuat analisis ulangan.
Tuntutan banyak lembaga pendidikan pada guru adalah bagaimana guru memaksimalkan tugas tugas sebagai seorang mediator, fasilitator dan sbg motivator untuk mentransfer nilai nilai hidup dan kehidupan yang dalam bahasa agama memaksimalkan tugas untuk memakmurkan jagat raya ini dengan mengerjakan berbagai kinerja makhluk Allah yang telah di ditinggikan derajatnya sebagai upaya mengupdate ilmu pengetahuan. Kesibukan guru itu sebuah kewajiban.
Pelatihan- pelatihan guru yang banyak diselenggarakan, harus lebih diarahkan untuk mengimplementasikan, keluasan berpikir guru dan juga untuk mengeksplorasi diri.
Guru profesional dengan pegangan sertifikasi saat ini masih banyak dipertanyakan. Banyak sekolah mengeluh karena guru akhirnya hanya berdiskusi tentang bagaimana mencari cara agar sertifikasinya lancar, bisa melangkah sampai inphasing dan semakin tinggi pundi pundi guru.
Padahal seharusnya dana sertifikasi itu peruntukannnya adalah memaksimalkan kemampuan dengan terus meningkatkan kemampuan diri, membeli buku referensi dan memaksimalkan kemampuan literasi dan vokasional. Guru itu agen perubahan jika guru saja tidak mau berubah bagaimana dengan siswanya. Maka sertifikasi harusnya mendorong guru untuk terus meningkatkan diri demi perubahan- perubahan yang mau tidak mau harus dihadapi.
Sekarang kecerdasan dan kepintaran siswa itu jauh berbeda dengan yang dulu. Ada fasilitas internet dan teknologi yang mempermudah generasi z atau generasi milenial ini mampu secara cepat menyerap teknologi baru, Jika guru tidak ikut berubah maka akan terjadi gab pengetahuan antara siswa dan guru. Siswa dengan kemampuannya yang cepat menyerap teknologi akan melecehkan guru karena gurunya masih berpikir “old” kuno, kolot dan jadul. Maka interaksi pembelajaran tidak nyambung karena murid merasa tidak mendapat asupan pengetahuan dari gurunya yang masih menggunakan cara- cara lama dalam mengajar.
Dulu ada pepatah bahwa guru selalu digugu dan ditiru oleh warga masyarakat artinya eksistensi Guru menjadi titik sentral dari pengembangan ilmu dan pengetahuan. Di era sekarang guru hadir sebagai fasilitator pembentuk kepribadian anak didiknya dan lebih dari itu GURU sebagai pengontrol dari tumbuh berkembangnya ilmu pengetahuan.
Terlebih terhadap Generasi milenial GURU harus tampil untuk selalu memberi sentuhan moral intelektual,emosional,spiritual dan kinestetiknya
Guru merupakan tokoh penting dalam pembentukan peradaban bangsa. Dalam kitab pendidikan Islam, guru sering disamakan dengan ustaz, mualim, murabi, mudaris, dan muadib. Keberadaannya tidak akan bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Hal ini dikarenakan keberadaan guru yang memanusiakan manusia. Tanggung jawab memanusiakan manusia ini tidak bisa diambil alih oleh teknologi. Sehubungan dengan tanggung jawab inilah, peradaban suatu bangsa akan terbentuk dengan kekhasannya. Justru dengan kemajuan teknologi begitu pesat, keberadaan guru semakin diperlukan. Gunanya sebagai pembentuk karakter dan pembatas terjangan-terjangan negatif dari teknologi. Keberadaan guru ini mendapat perhatian khusus dari Allah Taala, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, dan makhluk lain.
Dalam Islam, guru mendapat derajat tertentu. Bahkan, derajat khusus bagi guru ini mendapat perhatian khusus pula di hadapan Allah Taala. Derajat guru dalam Islam tergambar dalam firman Allah. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Mujadalah:11). Guru adalah orang berilmu. Karena itu, Allah Taala akan menempatkan guru pada derajat tertentu. Namun, jika kita kaji ayat ini, derajat yang dijanjikan Allah Taala itu akan diperoleh kalau sejalan dengan keimanan. Secara linguistik, orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetah merupakan persyaratan mutlak untuk memperoleh derajat yang tinggi itu.
Keistimewaan guru ini juga ditegaskan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Beliau bersabda,Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan ikan besar, semuanya bersalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR Tirmizi). Begitu tingginya derajat guru juga tergambar dalam sabda Rasulullah yang lain, Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para syuhada(HR Abu Daud dan Tarmizi).
Inti kutipan Alquran dan hadis tersebut menegaskan betapa tingginya makam guru (yang beriman). Kemuliaan ini tentu saja disebabkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan guru. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran inilah yang akan membentuk karakter madaniah suatu bangsa. Jadi, wajar saja ada ungkapan yang mengatakan bahwa guru merupakan profesi mulia. Akan tetapi, pernyataan ini semestinya kita lanjutkan dengan jika guru tersebut benar-benar mendidik dengan keimanan.
Pada hakikatnya, Allah Taala Maha Guru. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga guru. Jibril Alaihisallam pun guru. Orang tua atau siapa pun yang menyampaikan kebaikan dan kebenaran adalah guru. Di masa dan negara tertentu, pemerintahnya begitu mempedulikan keberadaan guru. Kepedulian ini sebagai bentuk gerakan menghormati para pencerdas kehidupan. Kepedulian ini sangat wajar karena pemilik alam semesta saja menganjurkan penghormatan kepada para guru. Bahkan, dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullahi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas bersabda, Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya). Ini suatu teguran keras dari Rasul dengan perkataan tidak termasuk golongan kamiâ, Artinya, beliau tidak mau mengakui sebagai umatnya kepada siapa saja yang tidak memuliakan guru, termasuk orang tua.




