Dakwah TGB (104) ISRA MIKRAJ, TRADISI PENGUATAN KEISLAMAN

Dakwah TGB (104) ISRA MIKRAJ, TRADISI PENGUATAN KEISLAMAN

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa
Secara hitungan hijriah, peristiwa Isra dan Mikraj terjadi pada tahun kesepuluh setelah diutusnya Baginda Nabi Muhammad saw. atau tiga tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Demikian menurut pendapat ahli sejarah yang kuat.

Berarti, kalau kita hitung rentang waktu peristiwa Isra dan Mikraj sampai sekarang yang kita berada pada tahun 1443 H., maka peristiwa tersebut telah berlalu 1446 tahun. Sungguh jarak waktu yang sangat jauh dengan masa kita.

Menariknya, meski peristiwa maha dahsyat itu berlalu hampir lima belas abad, namun rasanya peristiwa itu begitu dekat dalam kehidupan kita sebagai orang Islam.

Peristiwa Isra dan Mikraj dekat, bukan karena padanya ada amanah kewajiban salat lima waktu, atau bukan pula karena ia menjadi mukjizat super hebat, tapi menurut Syekhona TGB, semuanya terasa dekat karena berkat guru-guru dan orang tua kita yang telah mentradisikan dan mendidik kita setiap tahunnya.

Syekhona Tuan Guru Bajang menegaskan pemilihan diksi “mendidik” sebagai penegasan akan sebenar-benar kenyataan, bahwa semua berkat jasa para guru dan orang tua kita, yang telah mendidik kita menyelami setiap makna dari ibadah dan peristiwa penting dalam Islam.

Syekhona TGB pun mengutip kata ulama ما تكرر تكرر . “Mendidik itu sama dengan pembiasaan”. Inilah salah satu bentuk dakwah Islamiah orang-orang tua atau guru-guru kita pada masa dahulu. Metode dakwah yang tak banyak dijumpai di negara-negara lain.

“Isra dan Mikraj ini adalah bagian dari tradisi keagamaan yang dilakukan oleh guru-guru kita, agar Islam itu tidak hanya kita hafal, agar nilai-nilai Islam itu tidak hanya kita ketahui, tapi kita rasakan dan amalkan dalam kehidupan kita.” Tegas Syekhona TGB yang bernama lengkap Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA itu.

Pentradisian yang dicontohkan para pendahulu ini bisa dinamai “dakwah bil hal”. Maksudnya, tidak hanya alquran dan hadis yang dihafal, tapi para guru dan orang tua dahulu juga mengajari kita cara menghayati ajaran-ajaran Islam. Endingnya pun, pengamalan Islam di Indonesia bisa hidup di hati kita.

“Mari kita hidupkan tradisi keagamaan yang memang sudah diwarisi dari guru-guru kita.” Katanya kembali menyeru agar pentardisiaan ini selalu disemarakkan.

Demikian pula halnya pada Peringatan Hari Hesar Islam (PHBI) yang lain.

Kalau di bulan Rajab ada Isra dan Mikraj, maka nanti pada bulan Ramadan ada Nuzulul Quran. Pada bulan Muharram ada Tahun Baru Islam dan Asyura. Beberapa bulan berikutnya pada bulan Rabiul Awwal ada lagi peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

“Semua itu adalah bagian dari menghadirkan nilai-nilai keagamaan dan menjadi bagian dari keseharian kita.” Pungkasnya.

Ikhtiar menghadirkan nilai-nilai keagamaan semacam ini sejalan dengan pernyataan Imam Mawardi. Sang Imam menegaskan bahwa pilar-pilar penting untuk kokohnya suatu masyarakat atau bangsa adalah pilar pertamanya disebut دين متبع “agama yang diikuti”. Bukan agama yang hanya محفوظ في الصدور “semata di hafal di dada” atau hanya tertulis pada lembaran-lembaran buku.

Falhamdulillah, pentradisian tersebut semarak di tanah air kita. Bahkan saking semaraknya, pentradisian di Nusa Tenggara Barat atau Lombok (terutama Sasak), sampai kalau –misal– DKM masjidnya meniadakan peringatan Isra dan Mikraj, terasa di hati kita ada sesuatu yang kurang. Tak tanggung-tanggung di satu wilayah ada yang “demo” Ketua Takmir masjidnya.

Kenyataan “ghirah” ini yang ditegaskan Syekhona TGB sebagai satu bukti, bahwa guru dan orang tua kita telah berhasil menanamkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat kita. Satu penanaman nilai-nilai Islam dengan metode dakwah yang damai tapi meresap di hati umat.

Dakwah ulama, guru dan tetua kita dahulu demikian Arif dan bijak. Syekhona Tuan Guru Bajang menyebut dakwah mereka sebagai dakwah tanpa kekerasan atau teriak-teriak bertakbir di tengah jalan. Sebuah perjuangan dan metode dakwah yang patut diapresiasi dan diteruskan oleh kita generasi berikutnya.

Demikian pernyataan dan persaksian yang disampaikan oleh ulama yang pernah studi di Al-Azhar Mesir dan pernah melawat ke Jordan dan Maroko atau ke banyak negara lainnya.

“Walaupun Indonesia ini, jaraknya sekian ribu kilo dari tempat lahirnya Islam, tapi nilai-nilai Islam kokoh dan kuat di Indonesia. Alhamdulillah!” Demikian pujinya di Islamic Center NTB, 2 Maret 2022 M/29 Rajab 1443 H.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 4 Maret 2022 M.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA