Kajian Mukhtarul Ahadits Ponpes NW Jakarta : Cahaya Shalawat yang Menuntun Langkah Menuju Keselamatan
Sinar5News.com -Jakarta – Suasana Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta pada siang hari ini Selasa, 8 Desember 2025 terasa berbeda. Meski para santri baru saja kembali dari sekolah, wajah-wajah lelah mereka seakan sirna ketika pengajian kitab Mukhtārul Aḥādīts karya almarhum As-Sayyid Ahmad Al-Hasyimi dimulai. Ada ketenangan yang hadir, ada harapan yang tumbuh, saat Ust. Sugiatul Fathi, M.Sos.I mulai membuka lembaran hadis dan mengajak para santri merenung lebih dalam tentang makna shalawat.

Pada kesempatan ini, beliau mengkaji hadis ke-722, sebuah hadis yang menggetarkan jiwa karena berbicara tentang bekal paling berharga di hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah, yaitu cahaya di atas Shirāṭul Mustaqīm.
Teks Hadis (No. 722):
النُّورُ عَلَى الصِّرَاطِ لِمَنْ أَكْثَرَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ،
وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِينَ مَرَّةً غُفِرَ لَهُ ذُنُوبُ ثَمَانِينَ سَنَةً.
“Cahaya di atas Shirāṭ diberikan kepada orang yang memperbanyak shalawat kepadaku. Dan siapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jumat 80 kali, diampuni dosa 80 tahun.”
Mendengar hadis ini, suasana pengajian menjadi hening. Para santri menundukkan kepala, seakan merasakan jarak antara dunia dan akhirat yang tiba-tiba terasa begitu dekat. Ust. Sugiatul Fathi menjelaskan dengan suara lembut namun penuh ketegasan, bahwa shalawat bukan hanya rangkaian kata—melainkan cahaya penyelamat, penuntun seseorang ketika tidak ada lagi cahaya selain cahaya amalnya.
Beliau mengingatkan para santri bahwa saat manusia melintasi Shirāṭul Mustaqīm—sebuah jembatan yang lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang—tidak ada kekuatan yang dapat menolong kecuali amal saleh yang dahulu dikerjakan. Dan shalawat, kata beliau, adalah salah satu amal termudah namun memiliki ganjaran teramat besar: menjadi cahaya yang menerangi langkah, memberi keseimbangan, dan menjadi sebab keselamatan.
Para santri yang sebelumnya letih terlihat kembali bersemangat. Ada yang meneteskan air mata, ada yang memandang jauh ke depan dengan penuh tekad. Mereka menyadari bahwa shalawat bukan hanya amalan tambahan, tetapi kunci untuk menghapus masa lalu dan penuntun masa depan.
Ust. Sugiatul Fathi menutup pengajian dengan pesan yang sangat menyentuh,
“Jika kalian ingin hidup damai, bershalawatlah. Jika ingin hati tenang, bershalawatlah. Jika ingin selamat di akhirat, perbanyaklah shalawat. Cahaya itu akan menunggu kalian di saat tidak ada cahaya lain.”
Pengajian hari ini tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga meniupkan ruh baru dalam diri setiap santri. Mereka pulang dengan hati yang hangat, membawa tekad untuk memperbanyak shalawat—bukan karena sekadar dianjurkan, tetapi karena mereka telah merasakan bahwa di balik shalawat ada cahaya, ada ampunan, dan ada jalan keselamatan yang Allah sediakan bagi hamba-hamba yang tidak lelah mencintai Rasulullah ﷺ.
Diliput oleh Redaktur media SinarLIMA (Sinar5News.com), Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah



