Cerpen Ke-2; Menunggu Rezeki, Menjaga Doa, Depan ATM BRI Karang Satria 

Cerpen Ke-2; Menunggu Rezeki, Menjaga Doa, Depan ATM BRI Karang Satria 

Cerpen Ke-2: Menunggu Rezeki, Menjaga Doa, Depan ATM BRI Karang Satria 

Rabu malam, 7 Januari 2026, selepas senja meredup, anak saya, Muhammad Akromul Fithrah, meminta tolong dengan nada penuh harap. Ia memohon agar saya mengambilkan gajinya di Bank BRI, sebesar 5,2 juta rupiah. Katanya, insyaallah proses pencairannya sehabis magrib. Uang itu telah diniatkan untuk kebutuhan hariannya, untuk istrinya, dan untuk susu anaknya yang masih balita—rezeki yang sederhana, namun sangat berarti.

Menjelang magrib, saya mendatangi ATM BRI di wilayah Bekasi. Layar mesin itu masih menampilkan angka yang sama, belum bertambah. Seusai menunaikan salat magrib, saya kembali mencoba. Namun rezeki itu rupanya belum diizinkan turun.

Akhirnya, saya menunggu di ATM BRI Unit Karang Satria, Tambun Utar, Bekasi. Menunggu di malam hari selalu menghadirkan perasaan yang berbeda. Waktu terasa berjalan pelan, sementara hati berusaha tetap tenang dan pasrah. Dalam benak saya, terlintas wajah anak saya yang bekerja sebagai petugas keamanan di kawasan Cikarang, menjalani tugas dengan penuh tanggung jawab demi keluarganya.

Sambil menunggu, saya memandang sekitar. Kendaraan berlalu-lalang di jalan raya, manusia berjalan dengan kesibukan dan urusannya masing-masing. Warung-warung kecil tetap membuka pintu rezekinya, toko sablon berdiri di pinggir jalan, ruko-ruko berjejer rapi—semua bergerak dalam takdirnya sendiri. Saya sadar, setiap orang sedang menjemput rezekinya dengan cara yang berbeda-beda.

Di depan ATM itu, saya menundukkan hati. Tak ada tempat bergantung selain kepada Allah. Saya berdoa dengan lirih, semoga gaji anak saya segera cair, semoga penantian ini menjadi ladang kesabaran, dan semoga rezeki yang datang membawa keberkahan. Waktu salat isya kian dekat, dan saya berharap semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.

Malam itu saya belajar kembali, bahwa rezeki tidak pernah salah alamat. Ia datang tepat pada waktunya, sesuai kehendak-Nya. Tugas manusia hanyalah berusaha, menunggu dengan sabar, dan menjaga doa agar tetap hidup di dalam dada.

Penulis: Marolah Abu Akrom 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA