Jakarta Timur, 3 Mei 2026 — Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti acara walimatussafar haji Bapak Puryanto dan Ibu Erma Khikmawati yang digelar di kediaman mereka, Jalan Rengas Elok Blok D2 No. 6, Perum Aneka Elok, Cakung, Jakarta Timur, pada Minggu (3/5/2026).
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh agama dari Kudus, di antaranya Kiai H. Mutian, Kiai Haji Sanusi, serta Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Kudus, Kiai Ulinnuha. Turut hadir pula para ustaz dari wilayah Jakarta Timur, seperti Ust. Subhan, M.A., Ust. Qomar, dan Ust. Mukhlis, S.Pd.I, Ust. Fathi serta masyarakat sekitar yang ikut mendoakan keberangkatan calon jemaah haji.
Dalam mauizah hasanahnya, Kiai Ulinnuha menyampaikan bahwa kebahagiaan orang yang mendapat panggilan haji adalah kebahagiaan yang luar biasa, bahkan melebihi kebahagiaan saat menikah. Ia menegaskan bahwa panggilan untuk berhaji adalah anugerah besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri.
“Kebahagiaan berhaji bukan hanya dirasakan oleh calon jemaah, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya. Maka siapa pun yang sudah mendapat panggilan haji, wajib bersyukur,” ungkap beliau.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang sudah mendaftar bisa langsung berangkat ke Tanah Suci. Ada yang tertunda karena kesehatan, bahkan ada yang dipanggil Allah sebelum sempat menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Dalam pesannya, Kiai Ulinnuha menekankan pentingnya membawa “bekal” saat berhaji. Namun, bekal terbaik bukanlah materi, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Bekal takwa itu, lanjut beliau, diwujudkan dengan memperbanyak taubat, meminta maaf kepada sesama, serta menyelesaikan urusan hak sesama manusia (haqqul adami), termasuk hutang piutang.
“Kalau masih punya hutang yang belum bisa diselesaikan, maka kewajiban haji bisa gugur. Karena haji adalah perjalanan yang penuh risiko,” jelasnya.
Selain itu, beliau juga mengingatkan agar calon jemaah haji meninggalkan sifat sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Di Tanah Suci, semua manusia sama di hadapan Allah.
“Yang dibawa ke sana bukan pangkat atau jabatan, tapi sifat sebagai hamba Allah. Di sana, orang seperti kita itu banyak, jadi tidak perlu merasa istimewa,” tuturnya.
Kiai Ulinnuha juga menjelaskan bahwa haji merupakan “madrasah kehidupan” yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Tanda haji mabrur, katanya, dapat dilihat dari perubahan perilaku setelah pulang dari haji.
Di antaranya adalah semakin gemar bersedekah, ringan membantu sesama, menjaga ibadah, serta menebarkan salam dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ditutup dengan doa bersama agar Bapak Puryanto dan Ibu Erma Khikmawati diberikan kelancaran, kesehatan, serta memperoleh haji yang mabrur.
Doa’ dan harapan terbaik semoga Bapak Puryanto dan Ibu Erma khikmawati mendapatkan keselamatan dan kesehatan baik itu saat berangkat, saat menunaikan Haji dan saat kembalinya ke kampung halaman Indonesia. Dan semoga dimudahkan untuk melaksanakan ibadah haji, serta mendapatkan haji yang mabrur dan mabrurah, keluarga, anak dan harta yang ditinggalkan dalam lindungan Allah SWT.





