Sinar5news- Jakarta- Tanggal 1 Juni, kalender menorehkan tinta merah. Bukan sekadar libur, tapi napas bangsa yang ditarik panjang. Sejak Bung Karno berdiri di depan BPUPKI, 1945. Menanam lima benih di dada Nusantara.
Pancasila… Lima sila, lima jari yang mengepal jadi satu. Bukan mantra di bibir, tapi denyut di nadi. Dari Sabang yang mengaji fajar. Sampai Merauke yang menidurkan senja.
Hari Lahir Pancasila datang lagi. Mengingatkan kita: merdeka itu bukan finish. Ia adalah jalan panjang dan berbatu. Kita jalan bersama, walau langkah tak sama.
Sila pertama, Ketuhanan., Kita belajar berteduh di langit yang sama. Beda arah sujud, tapi satu rintik doa untuk negeri yang tak pernah lelah mengampuni.
Sila kedua, Kemanusiaan., Adil itu sederhana: menatap mata sesama. Tanpa mengukur tinggi rendahnya dompet. Tanpa menimbang warna kulit dan logat. Karena luka di Papua sama perihnya dengan luka di Aceh.
Sila ketiga, Persatuan., Indonesia bukan satu, tapi kita paksa jadi satu. Seperti anyaman pandan: kuat karena berbeda. Badai boleh menggoyang, tapi simpul tak pernah lepas. Selama kita masih mau bilang “kita”, bukan “aku”.
Sila keempat, Kerakyatan., Suara rakyat bukan gema di gedung. Ia bisik ibu di pasar, jerih bapak di sawah. Demokrasi hidup saat kita mau mendengar. Bukan hanya saat butuh didengar.
Sila kelima, Keadilan., Keadilan sosial bukan piala di lemari. Ia nasi di piring yang cukup untuk semua. Ia sekolah yang pintunya tak dikunci harta. Ia senyum anak kecil yang tak dipotong mimpi.
Hari Lahir Pancasila bukan untuk dirayakan lalu lupa. Ia kompas, bukan hiasan dinding. Ia ditanya tiap pagi: hari ini kau adil? Hari ini kau persatukan atau memecah?
Maka biarlah upacara selesai, bendera turun. Tapi semangatnya jangan ikut dilipat. Bawa pulang ke rumah, ke kantor, ke jalanan. Jadikan Pancasila kelakuan, bukan sekadar hafalan.
Karena selama lima sila masih hidup di dada anak bangsa. Indonesia tak akan pernah benar-benar tua. Ia akan terus lahir, setiap 1 Juni dan setiap hari setelahnya.
Dirgahayu semangat Pancasila. Hiduplah engkau, di kata, di kerja, di cinta kita 🇮🇩
Pancasila kita sudah terlalu lama dipajang. Ia duduk anggun di dalam kaca: lima sila, marmer, lampu sorot. Tiap 1 Juni kita upacarakan, kita foto, kita unggah. Selesai. Itu bukan pengamalan. Itu pemakaman.
Masalah bangsa ini bukan “lupa Pancasila”. Kita hafal. Anak SD pun hafal. Masalahnya: Pancasila tidak pernah keluar dari halaman buku. Ia jadi prasasti. Dingin, kaku, dan mandul.
“Bumikan Pancasila” adalah perintah, bukan puisi. Bumikan artinya: uji ia di pasar, bukan di panggung. Daat harga naik, apakah pedagang masih jujur? Sila ke-5.
Saat beda agama, apakah masjid mau jadi tempat evakuasi banjir untuk semua? Sila ke-1 & ke-3. Saat debat politik dan beda pilihan, apakah kita masih bisa minum kopi bareng esok harinya? Sila ke-4.
Jika tidak, maka 1 Juni hanya jadi hari libur nasional. Bukan hari lahir. Yang lahir hanyalah seremonial, bukan semangat.
Pancasila tidak butuh lebih banyak orator. Ia butuh lebih banyak pelaku.
Karena bangsa yang gagal bukan karena tidak punya ideologi. Tapi karena ideologinya hanya jadi pajangan.
Bumikan. Atau biarkan ia mati sebagai fosil yang indah. Tentu hal ini kita tidak inginkan sebagai anak bangsa pewaris negri. (Sm)





