Pemimpin Merakyat : Samianto Presiden Forum Kebangsaan

Pemimpin Merakyat : Samianto Presiden Forum Kebangsaan

Sinar5news- Indonesia negri nan elok, Keindahan dan kesuburannya membuat dunia terpesona. Kekayaan alamnya melimpah ruah. Budaya dan peradaban ngerinya sangat tinggi. Artefak peninggalan sejarah kebesarannya menjadi buah bibir bangsa bangsa dunia.

Negri yang memiliki rol model kepemimpinan berdasarkan Pancasila. Maha karya monumental melampaui zamannya. Cocok untuk segala kondisi dan peradaban bumi. Menata kehidupan dengan semangat moderasi dalam kebhinekaan. Menuju keadilan kemakmuran bersama.

Indonesia dengan keanekaragaman nya yang unik. Membutuhkan pemimpin yang sejati, pemimpin yang lahir dari rahim rakyat. Pemimpin yang duduk bersama rakyat. Pemimpin yang memberikan keteladanan. Inilah pemimpin Pancasila sejati.

Ada pemimpin yang kantornya di balik pagar tinggi. Ada juga pemimpin yang mejanya di warung kopi, kursinya bangku kayu, dan kopinya ditraktir warga.

Pemimpin merakyat bukan gelar yang ditempel di baliho. Ia lahir dari langkah kaki yang mau kotor kena lumpur, dari telinga yang mau dengar keluh tanpa diedit humas, dari tangan yang salaman bukan cuma pas kampanye.

Ia hafal harga cabai karena istrinya juga ke pasar. Ia tahu nama RT karena pernah ikut ronda. Ia tidak datang membawa janji yang mengambang. Ia datang membawa ember, semen, dan waktu.

Kekuatannya bukan di pidato yang menggelegar. Kekuatannya ada di saat hujan, ia basah duluan sebelum rakyatnya kebanjiran. Ada di saat gagal panen, ia ikut duduk di pematang dan bilang “kita cari jalan bareng”.

Rakyat tidak butuh pemimpin yang sempurna. Rakyat butuh pemimpin yang hadir. Yang kalau dipanggil “Pak” atau “Bu” jawabnya bukan “melalui asisten saya”, tapi “iya, ada apa?”.

Di negeri yang sering ribut soal citra, pemimpin merakyat mengingatkan kita:
Wibawa tidak diukur dari mobil dinas.
Wibawa diukur dari berapa banyak orang kecil yang berani mengetuk pintunya tengah malam.

Mungkin ia tidak masuk berita nasional.
Tapi namanya disebut di setiap doa ibu-ibu majelis taklim. Dan itu, jauh lebih abadi dari headline.

Pemimpin merakyat itu bukan yang paling tinggi panggungnya. Tapi yang paling sering duduk di tanah, sama dengan rakyatnya. Karena wibawa sejati bukan di mobil dinas, tapi di doa ibu-ibu yang menyebut namanya tiap malam.

Kita punya banyak pemimpin yang jago foto. Datang pas banjir, pulang pas kamera mati. Tapi pemimpin merakyat?
Ia yang dicari warga saat tidak ada wartawan. Ia yang diingat bukan karena spanduknya besar, tapi karena sumurnya tidak pernah kering saat kemarau.

Ia tidak menjanjikan langit.
Ia memperbaiki atap yang bocor. Ia hadir setiap saat mendengar keluh kesah rakyat bukan hanya mendengar bisikan sekelilingnya yang laporan asal bapak senang. Menegur anak buahnya atas bisikan negatif yang memecah belah. Pemimpin yang terus berinovasi mencari jalan untuk kemaslahatan hadirnya kesejahteraan bagi seluruh rakyat ummat bangsa. ( Red )

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA