GEMPARKAN PANCOR! Lautan Ratusan Ribu Jemaah Padati Hultah NWDI ke-91, TGB Serukan Gelombang Kebaikan dan Penataan Hati untuk Bangsa
PANCOR, Sinar5News.com – Bumi Pancor, Lombok Timur, bergetar dalam gema takbir dan shalawat yang membahana. Ratusan ribu jemaah, alumni, serta pencinta Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dari penjuru pelosok nusantara hingga mancanegara tumpah ruah memadati kawasan arena puncak Peringatan Hultah NWDI ke-91 yang dirangkaikan dengan Haul ke-29 Pendiri NWDI, Al-Maghfurullah Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, Ahad (13/9/2026).
Lautan manusia tak bertepi meluber hingga memutihkan ruas-ruas jalan utama Kota Pancor. Kehadiran massa yang spektakuler ini menjadi bukti nyata kokohnya ikatan batin serta besarnya kecintaan umat terhadap warisan perjuangan Sang Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat tersebut.
Di hadapan ratusan ribu pasang mata yang menyimak dengan penuh kekhusyukan, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) NWDI, TGB Dr. KH. M. Zainul Majdi, M.A., menyampaikan amanat dan pengarahan utama yang membakar semangat spiritual sekaligus menyejukkan batin segenap hadirin.
Berikut adalah poin-poin penting isi ceramah dan amanat TGB pada Puncak Hultah NWDI ke-91:
1. Hakikat Perjuangan Pendidikan: Binaul Insan
TGB menegaskan kembali bahwa mahakarya terbesar gerakan NWDI sejak awal berdiri adalah pembentukan karakter manusia (binaul insan). Beliau mengingatkan para pendidik dan orang tua agar tidak terjebak pada capaian formal semata, melainkan fokus membangun jiwa generasi muda.
Anak-anak dan para santri harus ditanamkan rasa cinta yang membara kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta syariat agama, sekaligus dipupuk rasa bangga dan cinta mendalam terhadap Tanah Air Indonesia serta jasa para pahlawan bangsa.
2. Menjinakkan Kedengkian dan Melatih Kelapangan Hati
Poin paling menyentuh dari ceramah TGB adalah mengenai pentingnya pembersihan batin. Beliau menyampaikan bahwa tingkat tertinggi dalam dakwah dan pendidikan bukanlah sekadar mengasah intelektual, melainkan melembutkan hati dan menjinakkan keburukan di dalam dada.
TGB berpesan agar jemaah tidak membiarkan rasa benci, dendam, atau iri hati mengendap di dalam diri. Ketika disakiti atau dijahati oleh orang lain, umat diajarkan untuk meresponsnya dengan kemaafan, kasih sayang (mahabbah), dan kelapangan dada—karena kesucian hati itulah yang menjadi kunci keselamatan sejati di dunia dan akhirat.
3. Meneladani Kerendahan Hati dan Kesabaran Maulana Syaikh
Dalam membimbing masyarakat, TGB menggarisbawahi pentingnya prinsip bertahap (tadarruj). Beliau menggambarkan keteladanan Al-Maghfurullah Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang patut dijadikan iktibar sepanjang zaman.
Meski Maulana Syaikh menguasai ilmu yang sangat dalam dan meraih predikat lulusan terbaik di Madrasah Shaulatiyah Makkah, ketika kembali ke tanah air beliau dengan penuh keikhlasan dan kesabaran turun langsung mengajarkan hal-hal paling dasar kepada masyarakat awam. Keteladanan ini menjadi pengingat bagi para ulama dan dai masa kini agar tetap bersabar, telaten, dan tidak berjarak dengan umat.
4. Mengokohkan Barisan Demi Agama dan Negara
Melihat semangat ratusan ribu jemaah yang hadir, TGB menyerukan agar momentum Hultah ke-91 ini dijadikan sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat barisan pergerakan, serta mengukuhkan komitmen bersama sesuai dengan prinsip perjuangan NWDI: “Tegak Agama, Bangun Bangsa”.
Rangkaian pengajian akbar yang dipenuhi keberkahan ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan kemakmuran bangsa Indonesia. Bagi jemaah yang ingin menyaksikan dan menyimak kembali rekaman lengkap amanat TGB, tayangan siaran ulang dapat diakses melalui kanal YouTube resmi NWDI Media Center. (Amr/Red)




