Bedah Makna Taqwa dan Tradisi Maulid Ala NW, TGKH. Muhammad Suhaidi Tekankan Kesederhanaan dan Kerendahan Hati
SINAR5NEWS.COM — JAKARTA. Masjid Hamzanwadi Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (Ponpes NW) Jakarta kembali dipadati ratusan jamaah dalam majelis bulanan pembacaan wirid Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang dirangkaikan dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Senin (14/9/2026).
Suasana khidmat dan semarak tampak memenuhi area masjid hingga gedung SMA Nahdlatul Wathan Jakarta. Acara yang diawali dengan pembacaan wirid hizib serta alunan shalawat dan rawi Maulid oleh Tim Hadroh Santri NW Jakarta ini menjadi panggung tausiah bernas yang disampaikan Pimpinan Ponpes NW Jakarta, Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ.
Filosofi Taqwa Menurut Ulama Hikmah
Dalam ajaran Islam, ajakan untuk meningkatkan iman dan taqwa selalu diperdengarkan setiap shalat Jumat maupun dalam doa-doa wirid. TGKH. Muhammad Suhaidi membedah secara rinci hakikat taqwa ( ت – ق – و – ي ) berdasarkan penafsiran para ulama tasawuf dan hikmah:
1. Huruf Ta ( ت ): Tadarru’ dan Kerendahan Hati
Huruf pertama mengajarkan tadarru’ (rendah diri dan tunduk kepada Allah). Orang yang bertakwa senantiasa berakhlak mulia kepada sesama manusia tanpa membeda-bedakan. Kiai Suhaidi menekankan pentingnya menjauhi sifat sombong, termasuk dalam urusan nasab atau keturunan.
Beliau mencontohkan keteladanan Pendiri Nahdlatul Wathan, Sultanul Auliya Datuk Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, yang meski memiliki garis keturunan bangsawan dan ulama besar, selalu rendah hati dan melarang pengikutnya untuk menyombongkan silsilah.
“Orang bertakwa itu tidak boleh merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Di akhir zaman ini, tidak ada gunanya membanggakan nasab jika tidak diimbangi amal kebaikan,” tegas Kiai Suhaidi.
2. Huruf Qaf ( ق ): Qana’ah dan Kesederhanaan
Qaf melambangkan qana’ah atau kesederhanaan. Sifat ini menjadi benteng dalam beribadah maupun bermasyarakat agar tidak berlebih-lebihan. Sifat qana’ah inilah yang menjadi pijakan dalam perayaan maulid di lingkungan pesantren NW.
3. Huruf Wawu ( و ): Wara’ (Menjaga Diri dari yang Syubhat)
Huruf Wawu berarti wara’, yakni kehati-hatian dalam menjaga diri dari perkara haram dan syubhat. Kiai Suhaidi menyentil fenomena sosial dan kejahatan korupsi yang marak terjadi karena hilangnya sifat wara’ dalam diri manusia.
4. Huruf Ya ( ي ): Yaqin (Keteguhan Iman)
Huruf terakhir melambangkan yaqin—keyakinan kokoh terhadap ajaran tauhid dan takdir Allah. Beliau mengenang tiga pesan utama pendiri NW saat melepas para santri dan pejuang ajaran NW:
-
Ikhlas dalam berjuang
-
Yaqin pada pertolongan Allah
-
Istiqamah dalam kebaikan
Tradisi Maulid “Ala NW”: Sederhana, Penuh Makna, Tanpa Beban
Di samping membedah makna taqwa, TGKH. Muhammad Suhaidi menjelaskan kekhasan peringatan Maulid Nabi di lingkungan Nahdlatul Wathan yang beliau sebut sebagai Maulid Ala NW.
| Aspek | Peringatan “Ala NW” |
| Bentuk Acara | Pembacaan Hizib/Wirid, Shalawat, Rawi Barzanji, dan Tausiah. |
| Karakteristik | Sederhana, tanpa panggung megah, tanpa petasan, dan tanpa membebani panitia/jamaah. |
| Pendanaan | Menggunakan kas masjid seperlunya dan partisipasi sukarela jamaah. |
| Tujuan utama | Menumbuhkan mahabbah (rasa cinta) kepada Rasulullah SAW dan mempererat silaturahmi. |
“Maulid Ala NW itu sederhana. Yang terpenting adalah isi dan niatnya sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya Rasulullah SAW. Kalau ada sisa rezeki dari sumbangan jamaah, dimanfaatkan untuk menyantuni anak yatim dan pembangunan pesantren,” jelas Kiai Suhaidi.
Doa untuk Keberkahan Bangsa dan Perjuangan
Mengakhiri tausiahnya, Kiai Suhaidi memimpin doa bersama untuk keberkahan para jamaah, kesehatan keluarga, kelancaran pendidikan para santri, serta keberkahan bagi perjuangan Nahdlatul Wathan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama secara penuh kehangatan antarjamaah dan pengurus pesantren. (Amr/Red)





