Bedah Buku Tafsir Hubbul Wathan di PTIQ: TGB Mengupas Kedalaman Al-Qur’an dan Nilai Kebangsaan
Kiprah Literasi SinarLIMA — Kampus Universitas PTIQ Jakarta menjadi saksi atas terselenggaranya kegiatan ilmiah yang sarat makna dan inspirasi. Pada hari Selasa, 20 Oktober 2026, Auditorium Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dipadati oleh segenap pimpinan, dosen, serta ratusan mahasiswa dari berbagai kampus untuk mengikuti acara Bedah Buku Tafsir Hubbul Wathan (Seri 1 & 2).
Kegiatan akademik yang prestisius ini menghadirkan penulis buku tafsir tersebut sekaligus ulama kharismatik yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PBNWDI) dan Ketua OIAI Indonesia, TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA. Selain itu, hadir pula dua narasumber pakar dari internal tuan rumah, yakni Ketua Prodi S3 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta, Associate Prof. Dr. H. Muhammad Haryadi, M.A., dan Ketua Prodi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta, Dr. Abdul Muid Nawawi, M.A. Acara yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme ini dipandu secara lugas oleh Dr. Muhammad Agus Yusron, M.A.
Rangkaian Acara
Susunan acara bedah buku ini berjalan dengan khidmat dan tertib, dimulai dari:
-
Pembukaan oleh Master of Ceremony (MC).
-
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudari Siti Marwani, S.Ag.
-
Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PTIQ.
-
Prosesi Penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) antara Universitas PTIQ Jakarta dan Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama pimpinan kedua belah pihak.
-
Pembacaan doa yang dipimpin oleh Dr. Sayuti Hamdani, M.A.
-
Acara inti: pemaparan materi dari ketiga narasumber yang dipandu oleh moderator Dr. Muhammad Agus Yusron, M.A.
-
Sesi tanya jawab interaktif antara peserta (mahasiswa) dan para narasumber.
-
Penyerahan cinderamata kepada narasumber istimewa, penutupan, serta sesi dokumentasi bersama.
Pemaparan Materi dan Substansi Isi Buku
Dalam sesi pemaparan, ketiga narasumber membedah isi buku Tafsir Hubbul Wathan secara komprehensif dari berbagai aspek:
-
Dr. Abdul Muid Nawawi, M.A. mengawali pemaparan dengan menyoroti urgensi umat Islam dalam membangun kedekatan dialog dengan Al-Qur’an (isti’ntāqul Qur’ān). Beliau menyebut kehadiran karya ini sebagai momentum penting di era modern, layaknya napas baru pasca kehadiran tafsir monumental Al-Mishbah, serta mengapresiasi upaya penulis dalam menjawab kegelisahan sosial umat melalui pendekatan ayat-ayat Al-Qur’an.
-
Associate Prof. Dr. H. Muhammad Haryadi, M.A. mengupas dari sudut pandang metodologis dan penamaan karya. Beliau menilai bahwa penamaan Tafsir Hubbul Wathan lebih kepada pendekatan institusional/tempat (at-tasmiah al-muassasiyah/makaniyah) dan merupakan bentuk hidayah transformatif yang sangat komunikatif serta mudah dicerna oleh masyarakat awam, kendati disusun dalam format populer yang menjembatani teks suci dengan realitas keindonesiaan.
-
TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA selaku penulis memaparkan landasan filosofis di balik penyusunan karya tersebut. Beliau menegaskan bahwa penulisan Tafsir Hubbul Wathan berakar dari upaya meruntuhkan dikotomi antara keislaman dan kebangsaan yang kerap keliru dipahami di tengah masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa penambahan makna Hubbul Wathan (cinta tanah air) dalam bingkai Al-Qur’an menunjukkan adanya keterkaitan erat bahwa Islam tidak hanya berbicara seputar ritual ubudiyah vertikal, tetapi juga mengatur tatanan kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara dalam sistem pemerintahan yang selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an al-Karim. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan utama bahwa tidak ada jurang pemisah antara komitmen keagamaan yang kaffah dengan kecintaan yang mendalam kepada tanah air.
Sesi Tanya Jawab: Interaksi dan Solusi Tuntas
Sesi diskusi berlangsung hidup dengan sejumlah pertanyaan berbobot dari para mahasiswa:
-
Pertanyaan Pertama (Khairul Azmi – Mahasiswa): Menanyakan perihal maraknya ragam penafsiran di tengah masyarakat yang terkadang memicu kebingungan umat.
-
Jawaban: Narasumber menjelaskan bahwa keragaman pemahaman adalah sunatullah sepanjang berada pada ranah furu’iyah dan muamalah. Umat tidak perlu bingung asalkan senantiasa merujuk pada literatur yang sahih, membangun budaya dialog, dan tidak mengklaim kebenaran tunggal secara eksklusif.
-
-
Pertanyaan Kedua (Alfun Fajar Mubarok – Mahasiswa PTIQ): Menoroti kisah Bani Israil dalam Al-Qur’an dan bagaimana proporsi penerapan tanzilul hadari (kontekstualisasi ayat) bagi rakyat maupun pemimpin agar tidak terjadi bias kepentingan.
-
Jawaban: TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA memberikan pencerahan bahwa seringkali ayat-ayat kepemimpinan disalahgunakan oleh pihak tertentu. Al-Qur’an sesungguhnya menuntut pemimpin untuk menegakkan amanah dan keadilan (“Innallāha ya’murukum an tu’uddul-amānāti…”), sementara kepada rakyat diingatkan untuk menjaga komitmen dan ketaatan dalam kebaikan. Al-Qur’an tidak boleh dijadikan alat untuk mengintimidasi pihak lain, melainkan sebagai cermin introspeksi diri.
-
-
Pertanyaan Ketiga (Yuni Ardianti – Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam): Menanyakan strategi praktis bagi mahasiswa PTIQ untuk menerjemahkan nilai-nilai keadilan dan amanah Al-Qur’an guna merespons persoalan bangsa seperti korupsi, kemiskinan, dan ketimpangan sosial.
-
Jawaban: TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA menekankan pentingnya mengobjektifikasi ajaran Islam ke dalam kebijakan publik yang inklusif dan membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘ālamīn), sebagaimana pengalaman beliau menerapkan kebijakan pariwisata ramah Muslim di NTB yang justru mendatangkan kemaslahatan ekonomi secara luas bagi seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.
-
Apresiasi dan Harapan Media Sinar5LIMA
Sebagai media informasi yang senantiasa mengawal rekam jejak keilmuan dan dakwah, Sinar5news.com (media SinarLIMA) memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya bedah buku yang sangat mencerahkan ini.
Kami sangat mengapresiasi pemaparan mendalam dari ketiga narasumber—khususnya sang penulis, TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA—yang telah membuka wawasan akademis dan kebangsaan kita. Besar harapan kami agar seri tulisan dan jilid lanjutan dari Tafsir Hubbul Wathan dapat segera hadir menyapa pembaca, guna terus mengeksplorasi kedalaman makna Al-Qur’an yang senantiasa relevan (ṣāliḥun likullī zamān wa makān) dalam menjawab tantangan zaman. (Amr/Red)




