Getaran Arsy di Sudut Duren Sawit: Catatan Spiritual dari Kediaman H. Sidiq Ariogayo
Malam itu, Minggu menuju Senin, 14 Juni 2026, langit Jakarta Timur seolah meluruhkan keangkuhan megapolitan-nya. Di sebuah sudut di Jl. Benda Jaya Timur 2, Duren Sawit, dinding-dinding rumah baru milik H. Sidiq Ariogayo (Sekretaris PD NWDI Jakarta Timur) menjadi saksi dari sebuah peristiwa yang melampaui sekadar syukuran fisik. Malam itu adalah malam di mana bumi bergetar oleh rindu, dan langit mendekat karena zikir.
1. Ketika Angin Malam Menahan Napas: Kekhidmatan yang Menggetarkan
Suasana khidmat langsung menyergap begitu bait-bait Hizib Nahdlatul Wathan mulai dilantunkan. Ada getaran tak kasat mata yang merayap di dada para jajaran pengurus PW NWDI DKI Jakarta, santri, dan tokoh masyarakat yang hadir.
Membaca Hizib malam itu bukan sekadar melafalkan untaian kata, melainkan sebuah dialog spiritual yang intens. Suara jemaah yang bergemuruh rendah namun padat membubung ke udara, menciptakan resonansi yang menggetarkan sanubari.
Setiap asma Allah yang disebut, setiap salawat yang dialirkan, seakan merontokkan beban duniawi yang menggelayuti pundak. Ada rasa haru yang mendesak di dada, memaksa air mata batin—bahkan air mata fisik—untuk luruh.
2. Gemericik Air dan Ilusi Gunung Salak: Kenikmatan Zikir yang Sejuk
Di tengah khusyuknya perhelatan, ada satu keunikan yang menggenapi kenikmatan malam itu. Desain rumah H. Sidiq yang dilengkapi dengan aliran air menghadirkan simfoni alam yang menenangkan.
Ketua PW NWDI DKI Jakarta, Dr. TGH. Muslihan Habib, M.A., bahkan berkelakar dengan penuh kesan: suasana malam itu membawa jiwa seolah sedang berhizib di lereng Gunung Salak, Bogor.
Gemericik air yang terus mengalir menjadi latar alami yang menjerat ketenangan. Di dalam ruangan, hawa terasa sejuk, bukan hanya karena angin malam, melainkan karena sakinah (ketenangan jiwa) yang diturunkan Allah ke atas majelis tersebut. Menikmati Hizib di sini terasa begitu teduh, membasuh dahaga spiritual di tengah gersangnya kota Jakarta.
3. Benteng Cahaya dan Doa untuk Sang Tuan Rumah
Kekhidmatan itu semakin memuncak ketika TGH. Muslihan Habib mengupas rahasia di balik Shalawat Sepuluh yang dibaca malam itu. Merujuk pada kitab Hizib Nahdlatul Wathan halaman 101, beliau menjelaskan dengan berwibawa:
-
Penolak Bala: Shalawat ini adalah perisai spiritual yang menolak berbagai musibah, bencana, dan kejahatan.
-
Magnet Keberkahan: Rumah yang di dalamnya diledakkan oleh zikir ini akan bertransformasi menjadi benteng cahaya, dipenuhi perlindungan dan keberkahan bagi penghuninya.
Doa-doa pun mengalir deras, mengetuk pintu langit. Rumah itu didoakan agar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan membawa kemaslahatan. Secara khusus, getaran empati dan cinta persaudaraan begitu terasa saat seluruh jemaah menyatukan hati, mendoakan kesembuhan bagi sang pemilik rumah, H. Sidiq Ariogayo, yang saat ini sedang diuji dengan sakit.
4. Visi Dakwah dari Rumah yang Terbuka
Setelah ritual spiritual memuncak, kehangatan itu mencair dalam ramah tamah makan malam yang penuh rasa kekeluargaan. Ust. Zulmaki, S.Pd., selaku Ketua PD NWDI Jakarta Timur yang mewakili sohibul bait, menyampaikan sebuah visi yang mulia.
Rumah baru ini tidak dibangun untuk menjadi menara gading yang angkuh. Sejak awal, detak jantung bangunan ini dirancang untuk umat.
-
Menjadi tempat berkumpul dan berdzikir.
-
Menjadi rumah bagi majelis taklim dan pengajian rutin (bulanan atau tiga bulanan).
-
Menjadi pusat syiar Islam dan mercusuar gerakan Nahdlatul Wathan di Jakarta Timur.
Meskipun Ust. Zulmaki dengan rendah hati meminta maaf atas segala kekurangan karena rumah yang masih dalam tahap penyempurnaan, bagi para jemaah, rumah itu sudah “sempurna” malam itu—sempurna karena telah diisi oleh fondasi terbaik: Zikir dan Shalawat.
Epilog: Pulang Membawa Cahaya
Ketika malam menutup tirainya dengan doa pamungkas dari Dr. TGH. Muslihan Habib, M.A., jemaah melangkah pulang tidak dengan tangan kosong. Ada rasa nikmat yang masih tertinggal di lisan, ada getaran khidmat yang masih menghentak di dada, dan ada kehangatan silaturahmi yang mendekap erat.
Malam itu, di Duren Sawit, Hizib Nahdlatul Wathan telah membuktikan dirinya: bukan sekadar teks bacaan, melainkan sebuah energi hidup yang mampu mengubah sebuah bangunan semen dan bata, menjadi sebuah taman surga yang bercahaya. (S5/Red/Amr)





