Khutbah Jumat Edisi 24 Juli 2026: Peduli kepada Sesama, Tanda Kesempurnaan Iman
Khotbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Kaum muslimin yang berbahagia, sidang jemaah Jumat rahimakumullah,
Pertama dan utama, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas limpahan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan yang terus dicurahkan kepada kita, sehingga pada siang yang penuh berkah ini kita masih melangkahkan kaki ke rumah-rumah Allah untuk menunaikan ibadah Shalat Jumat.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Semoga kelak di yaumil akhir, kita semua termasuk golongan yang mendapatkan syafaat dari beliau. Amin ya rabbal ‘alamin.
Melalui mimbar Jumat ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi khususnya, dan kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jalankan segala perintah-Nya dengan ikhlas, dan jauhi segala larangan-larangan-Nya.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Kita memahami bersama bahwa keimanan seseorang itu sifatnya fluktuatif—naik dan turun. Kadang ia menggunung tinggi karena ketaatan, namun kadang pula merosot tajam akibat kelalaian dan maksiat yang kita perbuat. Semakin kita taat kepada Allah, menjaga ibadah, dan mendekatkan diri kepada-Nya, maka iman itu akan semakin kokoh, bersinar, dan mendalam di dalam dada. Sebaliknya, semakin kita tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan, iman itu akan kian meredup, melemah, bahkan bisa tercabut dari hati sanubari kita.
Di antara amalan mulia yang menjadi indikator kuat naiknya keimanan—bahkan menjadi bukti kesempurnaan iman seseorang—adalah kepedulian kita terhadap sesama manusia. Kepedulian sosial adalah wujud nyata dari hablum minannas (hubungan baik antarsesama manusia) yang tidak boleh diabaikan dalam ajaran Islam. Hubungan ini harus senantiasa kita jaga, rawat, dan tingkatkan kualitasnya agar tercipta keharmonisan hidup bermasyarakat.
Sebagai makhluk sosial, kita semua tentu memiliki keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Di saat saudara-saudara kita sedang diuji dengan kesusahan—baik dalam hal kekurangan harta, dililit kesulitan ekonomi, merosotnya kesehatan, maupun beratnya beban pekerjaan—maka di situlah panggilan keimanan kita diuji.
Janganlah kita menjadi pribadi yang egois, yang hatinya tertutup dan mati rasa tatkala melihat tetangga, kawan, atau saudara seiman kita sedang menangis dalam kesusahan. Janganlah kita hanya peduli kepada seseorang karena ia kaya, berpangkat, atau memiliki kedudukan duniawi semata. Jangan pula kita bersahabat hanya karena ada untungnya.
Jika kita mengaku sebagai seorang sahabat atau saudara, jadilah tempat bersandar dalam keadaan apa pun—baik kala susah maupun senang, saat lapang maupun sempit.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita tentang betapa besar keutamaan membantu dan menolong sesama. Baginda Nabi bersabda dalam sebuah hadis sahih:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)
Perhatikanlah janji Baginda Nabi ini. Jangan pernah berharap pertolongan Allah datang kepada kita jika kita sendiri bakhil, acuh tak acuh, dan enggan mengulurkan tangan untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang menderita.
Pertolongan itu luas bentuknya. Ia bisa berupa harta bagi yang berkelebihan, tenaga bagi yang memiliki kekuatan, ilmu dan nasihat bijak bagi yang bingung, atau sekadar suntikan motivasi dan senyuman tulus yang menguatkan hati mereka yang hampir putus asa. Apabila kita ringan tangan meringankan beban sesama, yakinlah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan segala urusan kita di dunia dan akhirat.
Sebaliknya, mengabaikan penderitaan sesama adalah tanda rapuhnya keimanan seseorang. Sebab, kesempurnaan akhlak seorang mukmin tercermin dari bagaimana ia memperlakukan saudaranya dengan penuh kasih sayang.
Dalam skala yang lebih luas, Al-Qur’an telah mengingatkan kita agar senantiasa menjaga hubungan baik—baik hubungan vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 112:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوۡا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…” (QS. Ali ‘Imran: 112)
Ayat ini menegaskan bahwa jika kita mengabaikan kepedulian sosial, memutus tali persaudaraan, dan hidup egois tanpa peduli sesama, kehinaan dan malapetaka, serta hilangnya berkah kehidupan akan mengintai kita di mana pun berada. Sebaliknya, dengan merawat hubungan baik kepada Allah dan menebar kemaslahatan kepada sesama manusia, Allah akan memuliakan derajat kita, mengangkat kesusahan kita, dan melimpahkan keberkahan hidup yang luar biasa.
Sidang Jumat yang berbahagia,
Mari kita introspeksi diri. Jadikan momentum Jumat ini sebagai titik balik untuk melembutkan hati kita yang mungkin telah mengeras oleh kesibukan duniawi. Mari menjadi pribadi yang peka, yang hadir sebagai solusi bagi kesulitan orang lain, dan menjadi penebar kedamaian serta kasih sayang di muka bumi.
بَارَكَ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيراً كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيماً لِشَأْنِهِ وَتَوْجِيهاً لِمَنْ كَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ صِفَاتِ الْمُؤْمِنِ الْحَقِّ وَأَجَلِّ عَلَامَاتِ كَمَالِ إِيمَانِهِ هِيَ الرَّحْمَةُ وَالشَّفَقَةُ وَالِاهْتِمَامُ بِأُمُورِ الْمُسْلِمِينَ.
إِنَّ الْمُسْلِمَ الْحَقِيقِيَّ لَيْسَ مُنْشَغِلًا بِنَفْسِهِ فَحَسْبُ، بَلْ هُوَ جُزْءٌ مِنْ جَسَدِ الْأُمَّةِ الْوَاحِدَةِ؛ إِنِ اشْتَكَى عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضاً”.
فَالْإِحْسَانُ إِلَى الْخَلْقِ، وَقَضَاءُ الْحَوَائِجِ، وَتَفْرِيجُ الْكُرُبَاتِ، وَإِطْعَامُ الْجَائِعِ، وَإِغَاثَةُ الْمَلْهُوفِ، كُلُّهَا مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، بَلْ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ حُبَّ الْخَيْرِ لِلْآخَرِينَ مِعْيَاراً لِلْإِيمَانِ الْكَامِلِ حِينَ قَالَ: “لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”.
فَلْنَحْرِصْ -عِبَادَ اللَّهِ- عَلَى تَفَقُّدِ أَرْحَامِنَا، وَجِيرَانِنَا، وَالْفُقَرَاءِ وَالْمَحْتَاجِينَ مِنْ حَوْلِنَا، وَلْنَكُنْ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ.
عِبَادَ اللَّهِ: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً}.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ أَعِزِّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلِّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
عِبَادَ اللَّهِ، {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.





