Khutbah Jum’at Edisi, 26 Juni 2026 “Menjaga Lisan di Era Media Sosial”
بِسْمِ اللهِ وَبـِحَمْدِهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰى، وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللهُمّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نـَهْضَةَ الْوَطَنِ فِى الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Pertama-tama, marilah kita sampaikan untaian puji dan rasa syukur yang sedalam-dalamnya ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas izin dan nikmat-Nya, kita kembali diringankan langkah menuju Baitullah yang mulia ini, guna menunaikan kewajiban salat Jumat berjamaah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, nabi yang kita rindukan syafaatnya di hari kiamat kelak, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau sekalian.
Di atas mimbar yang mulia ini, khatib selaku sesama hamba Allah mengajak kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jemaah yang hadir: marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Caranya adalah dengan bersungguh-sungguh menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Kaum Muslimin yang Berbahagia rahimakumullah
Hari ini, kita hidup di sebuah era di mana dunia berada dalam genggaman tangan kita—yaitu era media sosial. Tidak peduli di kota besar, di pelosok desa, bahkan di seluruh penjuru dunia, hampir tidak ada manusia yang terlepas dari aktivitas di dunia maya. Media sosial telah menjadi panggung raksasa. Di sana, manusia bebas mengekspresikan diri, memamerkan gaya hidup, menunjukkan status sosial, hingga membangun profesi agar dikenal khalayak luas.
Kita menyaksikan betapa banyak orang yang mendadak populer, mendadak viral, dan memiliki jutaan pengikut hanya lewat sebuah akun digital, baik di Instagram, Facebook, YouTube, maupun TikTok. Ruang interaksi pun bergeser; layar televisi yang dulu merajai ruang keluarga kini mulai ditinggalkan, digantikan oleh layar ponsel yang mampu menyuguhkan segala peristiwa dari masa lalu, masa kini, hingga prediksi masa depan.
Bagi mereka yang bijak dan pandai memanfaatkan teknologi ini, media sosial menjelma menjadi ladang keberuntungan yang luar biasa. Ia bisa mendatangkan keuntungan materi yang berlipat ganda, menjadi sarana memperluas silaturahmi, ruang saling tolong-menolong dalam kesulitan, serta media promosi yang membuka pintu-pintu rezeki baru.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Namun, bak pisau bermata dua, media sosial juga menyimpan potensi kerusakan yang mengerikan bagi mereka yang tidak pandai mengendalikannya. Betapa banyak kita saksikan saat ini, demi mengejar viewer, demi mengejar popularitas, lisan dan jemari manusia begitu mudah mengeluarkan kata-kata kotor, cacian yang merendahkan, serta kalimat yang menjijikkan.
Lebih memprihatinkan lagi, ketika para pengikut atau penggemar sudah dibutakan oleh rasa suka, apa pun ucapan buruk dari idolanya seolah dianggap sebagai sebuah kebenaran umum. Menghasut, memfitnah, meremehkan, dan mengadu domba menjadi pemandangan sehari-hari. Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya harus berurusan dengan hukum, mendekam di balik jeruji besi akibat jeratan undang-undang ITE.
Padahal, berabad-abad sebelum teknologi ini lahir, sebelum pergaulan manusia meluas tanpa batas seperti sekarang, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan panduan yang sangat tegas dan jelas. Menjaga lisan bukan sekadar perkara sopan santun, melainkan cerminan langsung dari kadar keimanan seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadisnya:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadiri yang Berbahagia,
Hadis ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Ini adalah ukuran: apakah kita benar-benar orang yang beriman atau bukan? Jika dari mulut dan ketikan jari kita masih keluar kata-kata yang menyakitkan, ucapan kotor yang merusak kedamaian, maka sesungguhnya ada yang rapuh dalam iman kita.
Janganlah kita merasa bangga dengan banyaknya ibadah salat kita, jangan terbuai dengan rajinnya mengaji dan zikir kita, jika pada saat yang sama lisan kita masih tajam melukai perasaan orang lain. Sungguh, semua ibadah ritual itu bisa menjadi sia-sia dan tak bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang benar-benar beriman adalah orang yang lisannya membawa manfaat, bahasanya santun, penuh kelembutan, serta mengandung nasihat dan ilmu yang membangun akhlak mulia.
Sejarah dan realita telah membuktikan; betapa banyak hubungan persaudaraan yang hancur berantakan hanya karena lisan yang tak terjaga. Sahabat karib bisa berubah menjadi musuh bebuyutan karena satu kalimat yang salah. Bahkan, peperangan dan pertumpahan darah di muka bumi ini sering kali tersulut oleh ucapan yang merendahkan harga diri sesama manusia. Maka benarlah apa yang dipesankan oleh orang-orang tua kita dahulu: “Mulutmu adalah harimau-mu.” Jika tidak dijaga, ia akan menerkam dan membinasakan dirimu sendiri.
Sidang Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah
Melalui khotbah yang singkat ini, mari kita sama-sama berkomitmen untuk merenung sejenak sebelum berbicara atau menulis sesuatu di media sosial. Bertanyalah pada diri sendiri: “Apakah ucapan saya ini akan membuat orang nyaman dan tenteram? Apakah ini akan merekatkan kasih sayang? Atau justru ucapan saya ini akan menghancurkan hubungan baik yang selama ini telah terbina?”
Jika sekiranya ucapan kita berpotensi merusak, maka tutuplah mulut kita rapat-rapat. Pilihlah untuk diam. Diamnya kita dalam menjaga perasaan orang lain adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah.
Semoga khutbah yang singkat di hari yang penuh berkah dan rahmat ini, mampu mengetuk pintu hati kita, membawa manfaat, serta menjadi petunjuk berharga untuk kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, demi keselamatan kita di dunia maupun di akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلـمُؤْمِنَاتِ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَاْلـمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلـمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلـمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلـمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلـمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلـمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
Bekasi, 10 Muharram 1448 H/1 26 Juni 2026 M
Penulis : Marolah Abu Akrom Hp. 087887270732 (Jurnalis media SinarLIMA/Sinar5News.com, guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan staf pengajar Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta




