
Akhir – akhir ini organisasi Nahdlatul Wathan ( NW ) mendadak trending dan menjadi sorotan tajam pelbagai komunitas serta menjadi perbincangan publik secara nasional dan bahkan internasional seiring dengan gencarnya pemberitaan Media Sosial dalam beberapa hari ini terkait aksi horizontal elemen masyarakat.
Di Jakarta sendiri, akhirnya NW banyak yg kenal dan bahkan menjadi perbincangan yg umum di warung2 kopi, bak gempa bumi yg telah meluluh lantakan Lombok setahun yg lalu.
Ketenaran dan popularitas NW tsb nampak sgt signifikan dan drastis lantaran perseteruan dua kubu NW yg tak pernah mau berakhir dan mungkin tak mau diakhiri utk bersatu (selalu membatu) meminjam bahasa wasiat diatas yg berujung aksi masif warganya di Kanwil Kemenhumham Mataram, NTB pada tgl 19 September 2019.
Sejumlah pengamat dan masyarakat luaran NW menilai model Aksi masif yg tak terkendali dr warga NW tsb sangat mencoreng reputasi NW yg selama ini dikenal senang dan doyan berhizib dan berwirid. Hal ini, karena Hizib dan Wirid sbg syimbol ketenangan dan ketentraman dlm hidup. Lalu seolah dg tanpa ketenangan Massa NW tsb melakukan aksi demo yg tidak terkendalikan dg merusak sejumlah fasilitas dan bahkan jg termasuk menyegel kantor Kanwil Kemenkumham sbg institusi resmi milik pemerintah.
Memang ada pengamat yg menilai bahwa aksi warga NW tsb sepertinya menginginkan sentuhan tangan dingin pemerintah utk segera merespons legalitas formal NW yg merugikan salah satu kubu NW. Dan mungkin sj, jk saat ini turun sentuhan tangan dingin pemerintah tsb, mk perseteruan dua kubu NW sgr berakhir menuju Perdamaian dan Persatuannya.
Demi masa depan NW, maka Pendirinya semasa hayatnyapun selalu berteriak Kompak Utuh Bersatu karena perseteruan dan perpisahan sesama saudara yg tak berujung akan melahirkan banyak fitnah.


