Sinar5news- Di panggung megah Harlah PKB yang ke- 28 di gedung JCC Senayan. Prabowonomic menggema ke seluruh sudut ruangan hingga pelosok negri Nusantara. Menyaksikan lansung sambutan warga besar PKB disertai amanat Ulama untuk menjalankan kemandirian ekonomi bangsa melalui Prabowonomic. Presiden RI Prabowo sangat terharu karena satu nafas dengan perjuangan amanat Pancasila dan UUD 45 yang dijalankan dalam Mazhab Prabowonomic.
Sejak di panggung Davos yang dingin, Januari 2026, seorang pemimpin dari negeri khatulistiwa berdiri. Sepuluh tahun lamanya kursi Indonesia kosong. Kini ia kembali, membawa satu kata baru ke telinga dunia: ” Prabowonomic” .
Bukan sekadar jargon. Bukan pula slogan di spanduk kampanye.
Prabowonomic adalah janji bahwa ekonomi tak lagi diukur hanya dari angka. Ia diukur dari seberapa kenyang anak di dapur, seberapa terang sawah saat panen, dan seberapa kuat bangsa berdiri tanpa menengadah ke negeri orang.
Kedaulatan sebagai Kompas. Istana menyebutnya sederhana: kedaulatan.
Kemandirian pangan. Kemandirian energi. Selama ini kita menyebutnya swasembada. Kini ia dinaikkan menjadi fondasi. Beras tak lagi sekadar komoditas, ia jadi benteng. Listrik tak lagi sekadar daya, ia jadi napas industri.
Di tengah dunia yang retak oleh konflik dan fragmentasi, Prabowo menawarkan narasi berbeda: negara harus hadir. Bukan hanya menjaga pasar, tapi menuntunnya. Hilirisasi nikel, bauksit, sawit — diolah di rumah sendiri.
BUMN dirapikan, dari seribu wajah menjadi 200-240 nahkoda baru bernama Danantara. Bahkan emas rakyat, yang lama tidur di laci, kini dibangkitkan lewat Bank Emas.
Dari Angka ke Rasa. Prabowonomic menolak ekonomi yang kering.
Ia bicara tentang kepercayaan. Tentang regulasi yang tak berbelit. Tentang SDM yang diasah. Ia bicara tentang THR yang cair tepat waktu, tentang diskon listrik saat tagihan menekan, tentang makan bergizi gratis yang katanya membuka 1,5 juta pintu kerja baru.
“Negara tidak sekadar menghabiskan anggaran,” pesan pidato itu di atas mimbar. “Negara membangun manusia Indonesia unggul”. Antara Cita dan Badai. Tentu, tak semua tepuk tangan.
Ada yang bertanya: mampukah nasionalisme ekonomi berdansa dengan globalisasi?
Apakah hilirisasi akan melahirkan industri, atau hanya jadi ilusi baru?
Apakah negara yang terlalu kuat mengemudi, akan membuat pasar kehilangan napasnya?
Prabowonomic menjawab dengan langkah: memberantas “Serakahnomics”. Menata ulang timbangan beras yang curang.
Menahan devisa ekspor di tanah air, agar rupiah tak terus merintih.
Ia Penutup kerang kebocoran : Arah, Bukan Sekadar Kecepatan. Di akhir pidatonya, dunia mendengar satu hal. Indonesia tidak sedang mengejar pertumbuhan demi pertumbuhan. Indonesia sedang mencari arah.
Prabowonomic adalah upaya menenun kembali benang yang putus: antara negara, pasar, dan rakyat.
Antara cita-cita 2045 dan nasi di meja hari ini.
Apakah ia akan berhasil? Sejarah belum menulis. Tapi untuk pertama kalinya setelah lama, Indonesia berbicara di forum dunia bukan sebagai penonton.
Melainkan sebagai penulis naskahnya sendiri.
Indonesia bertekad mengembalikan kejayaan Nusantara sperti zaman Majapahit yang menjadi penguasa bumi dengan kekuatan serta kemandirian pada semua sektor kehidupan.
( Samianto : Presiden Forum Kebangsaan)



