Bincang Hangat SinarLIMA: Semangat Baru Zhelda & Aqilla, Peserta Didik Kelas VII SMP Laboratorium Jakarta 2026
Jakarta, SinarLIMA – Mengawali tahun ajaran baru 2026, SinarLIMA berkesempatan melakukan bincang-bincang santai namun sarat makna di ruang Bimbingan dan Konseling (BK) SMP Laboratorium Jakarta. Wawancara kali ini menghadirkan dua peserta didik baru kelas VII yang penuh semangat, yaitu Zhelda Syaura Azzahra Putri dan Aqilla Thalita Ali.
Berikut adalah petikan wawancara SinarLIMA yang juga bertindak selaku Guru BK, mengenai kesan pertama, motivasi, hingga harapan mereka menempuh pendidikan di SMP Laboratorium Jakarta.
SinarLIMA (Guru BK): Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang Zhelda dan Aqilla. Nyaman juga ya akhirnya pindah dan sekolah di sini. Boleh diceritakan bagaimana awalnya kalian bisa masuk ke SMP Laboratorium Jakarta?
Zhelda: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, Pak, nyaman sekali. Awalnya itu aku didaftarin ke SMPN 199 tapi ternyata tidak masuk. Kata Mama, ada sekolah swasta dekat yang bagus dengan SMPN 199. Akhirnya aku dimasukin ke SMP Laboratorium Jakarta yang ingkungannya ramah-ramah semua.
SinarLIMA (Guru BK): Alhamdulillah kalau merasa nyaman. Dari sekolah ini, pasti pengin nyari prestasi belajar, kan? Apa usaha kalian untuk mendapatkan prestasi tersebut?
Aqilla: Pasti pengin, Pak. Semuanya tergantung dari kitanya sendiri. Usahanya tentu dengan belajar sepenuh hati. Kalau belajarnya cuma setengah hati, susah dapat prestasinya. Selain itu, harus sering latihan.
SinarLIMA (Guru BK): Bagus sekali prinsipnya. Selain pelajaran akademik, apa ada prestasi non-akademik yang ingin kalian raih?
Zhelda: Aku mau cari prestasi lain juga. Kan macam-macam ya prestasinya. Mungkin belajar main gitar, walaupun sekarang belum terlalu tahu. Terus, aku juga suka seni tari, kadang sering juara juga.
Aqilla: Iya, selain itu aku juga mau aktif di Pramuka, Pak.
SinarLIMA (Guru BK): Wah, luar biasa! Lalu, bagaimana perasaan kalian setelah bergaul dengan teman-teman seangkatan dan kakak-kakak kelas di sini?
Aqilla: Baik semua, Pak. Nggak ada yang nge-bully, benar-benar baik semuanya dan sangat perhatian.
Zhelda: Iya, kakak kelasnya juga baik banget. Waktu itu sempat ditanya-tanyain dengan ramah. Kemarin juga diajak muter-muter sekolah, sampai ke lantai atas buat kenalan sama lingkungan sekolah.
SinarLIMA (Guru BK): Namanya juga hidup bersosial, seandainya nanti ada teman yang nyebelin atau ngeselin, bagaimana sikap atau cara kalian membalasnya?
Aqilla: Kalau dia masih sering begitu, paling aku tegur, Pak. Nggak akan aku balas dengan hal yang sama.
Zhelda: Iya, kalau ditegur masih tetap ngeselin, laporin aja ke guru. Tapi yang pasti jangan dibalas. Kita sadar kadang nggak selamanya teman itu baik, pasti ada aja yang jahil. Kita jangan sampai ikut-ikutan. Kalau ada yang jahat, kita tegur dan selalu minta perlindungan kepada Allah agar tidak tergoda oleh setan.

SinarLIMA (Guru BK): Sangat bijak. Apa pesan-pesan dari kalian untuk teman-teman baru yang lain agar bisa lebih akrab?
Aqilla: Pesannya, jangan suka menyendiri. Berani kenalan, main bareng, dan lakuin kegiatan apa aja asal itu positif dan baik.
Zhelda: Apalagi kalau lagi makan bersama seperti pada kegiatan MPLS pagi ini. Dari situ kita bisa bergaul lebih banyak sama teman-teman, merasakan kebersamaan yang kuat dan sulit dilupakan.
SinarLIMA (Guru BK): Betul sekali. Diingat ya, saat makan bersama harus selalu menjaga kebersihan. Di sekolah ini, sekecil apapun kesalahan, kita harus saling mengingatkan. Siapapun kita di sini, tidak boleh ngomong kotor, tidak boleh nge-bully teman, nggak boleh jahil, dan nggak boleh jahat. Kalau ada yang melanggar hukum atau aturan, tegur dulu baik-baik. Kalau tidak mempan, baru lapor ke wali kelas atau ke ruang BK agar bisa diselesaikan secepatnya.
Sebagai penutup, apa doa dan harapan kalian selama bersekolah di sini?
Zhelda & Aqilla: Harapannya semoga kami bisa sukses di sini, bisa menggapai cita-cita. Semoga dapat teman-teman yang baik, bisa kompak, saling membantu, dan pastinya betah bersekolah di sini.
SinarLIMA (Guru BK): Amin. Pesan Bapak untuk masa depan kalian: kalau ada rasa malas, ingat kalian punya masa depan, jadi rasa malas itu harus dilawan. Datang tepat waktu, kalau ada tugas langsung kerjakan, jangan ditunda-tunda. Dan yang paling penting, jangan lupa salat wajibnya dijaga, ditambah salat sunah Dhuha dan Tahajud.
Zhelda & Aqilla: Baik, Pak. Siap!
SinarLIMA (Guru BK): Terima kasih atas bincang-bincangnya hari ini. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Zhelda & Aqilla: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
DATA PENULIS
-
Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)
-
Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)
-
Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.
-
Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.
-
Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.
-
Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV
-
Kontak: 0878-8727-0732
Cegh Kenakalan Remaja dan Narkoba, Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta Ajak Sinergi Lintas Sektor Cetak Generasi Emas 2045
JAKARTA, Sinar5News.com – Dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), SMP Nahdlatul Wathan Jakarta menggelar kegiatan sosialisasi hukum dan pencegahan kenakalan remaja. Menariknya, pemateri utama dalam kegiatan ini adalah seorang alumni yang kini mengabdi sebagai penegak hukum di Kementerian Hukum dan HAM.
Jurnalis SinarLIMA, Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM, (Ust. Amrullah) berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Khotibul Umam, S.Sos, M.Pd, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Muda dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Timur-Utara. Selain bertugas mendampingi anak yang berhadapan dengan hukum, beliau juga diamanahkan sebagai Ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta.
Berikut petikan wawancara lengkapnya:
Misi Preventif: Mengedukasi Sebelum Terjadi Pelanggaran Hukum
SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Khotibul Umam, mohon memperkenalkan diri dan bisa dijelaskan dalam rangka apa kehadiran Bapak beserta tim di SMP Nahdlatul Wathan Jakarta hari ini?
Khotibul Umam: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah, perkenalkan saya Khotibul Umam. Kebetulan saya juga alumni dari Nahdlatul Wathan Jakarta dari SD hingga SMP, dan saat ini diamanahkan menjadi Ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta. Keseharian saya bertugas di Bapas Wilayah Timur-Utara dan Kepulauan Seribu.
Kehadiran kami di sini memenuhi undangan dari pihak sekolah untuk mengisi materi MPLS. Kami membawa misi untuk mensosialisasikan pencegahan kenakalan remaja secara umum, serta secara khusus mengenai pencegahan penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar.
SinarLIMA: Apakah program “Go to School” ini merupakan inisiatif pribadi, negara, atau program sekolah?
Khotibul Umam: Ini adalah bagian dari tugas negara. Salah satu fungsi kami sebagai Pembimbing Kemasyarakatan adalah mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Kami tidak ingin bergerak hanya saat masalah hukum sudah terjadi. Justru tindakan preventif (pencegahan) seperti Go to School ini sangat krusial agar anak-anak remaja kita tidak sampai bermasalah dengan hukum.
Dalam sosialisasi ini, saya tidak sendiri. Kami menurunkan tim yang terdiri dari 4 anggota lintas jenjang: saya sendiri (PK Muda), Ibu Sausan Fauziya dan Ibu Andi Fieda Eky (PK Pertama), serta Ibu Noviana Hapsari (PK Madya). Kami juga menyertakan para Taruna dari Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip) yang sedang magang di kantor kami agar mereka belajar berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Peta Kerentanan Remaja: Batas Antara Wajar dan Pelanggaran Hukum
SinarLIMA: Melihat kondisi saat ini, bagaimana pandangan Anda mengenai kedekatan anak-anak kita dengan potensi kenakalan remaja?
Khotibul Umam: Harus kita akui, anak-anak zaman sekarang cukup rentan terpengaruh. Kenakalan yang terjadi mulai dari yang sifatnya biasa hingga yang berpotensi menjadi tindak pidana. Contohnya pencurian, perundungan (bullying), dan yang sudah masuk tahap darurat adalah penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar.
Banyak dari mereka yang terlibat tindak pidana sebenarnya tidak paham bahwa tindakan yang mereka lakukan itu melanggar hukum. Di sinilah pentingnya pembekalan edukasi hukum sejak dini.
SinarLIMA: Bagaimana cara Anda mengukur atau membatasi mana kenakalan yang masih dianggap wajar dan mana yang sudah tidak wajar secara hukum?
Khotibul Umam: Jika mengacu pada teori dan aturan hukum, kenakalan yang “wajar” dalam tanda kutip—artinya murni dinamika psikologis remaja dan bukan pelanggaran hukum—misalnya bolos sekolah atau menyontek saat ujian.
Namun, ketika kenakalan itu sudah bergeser menjadi perkelahian atau tawuran, itu bukan lagi kenakalan biasa. Di sana ada Undang-Undang Perlindungan Anak yang melindungi fisik dan sosial anak. Begitu juga ketika anak-anak membawa senjata tajam. Walaupun dalihnya hanya disimpan di tas dan tidak digunakan, itu sudah melanggar Undang-Undang Darurat terkait kepemilikan senjata tajam tanpa izin. Banyak anak yang tidak tahu risiko hukum ini karena ikut-ikutan teman agar tidak dibilang “cemen”.
SinarLIMA: Jika ada anak yang terlanjur melakukan pelanggaran hukum, apakah langsung diberi sanksi pidana atau ada pembinaan khusus?
Khotibul Umam: Berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), negara mengutamakan keadilan restoratif melalui proses Diversi—yaitu penyelesaian perkara anak di luar jalur pengadilan formal. Kita utamakan musyawarah dan pembinaan terlebih dahulu, karena anak-anak sering kali menjadi korban lingkungan, ejekan teman sebaya, atau arus media sosial.
Media Sosial dan Pentingnya Sinergi Multi-Pihak
SinarLIMA: Tadi Bapak menyinggung soal media sosial. Seberapa besar pengaruh teknologi terhadap tren kenakalan remaja saat ini?
Khotibul Umam: Sangat besar. Dua faktor paling berpengaruh dari pengalaman kami di lapangan adalah media sosial dan teman sebaya. Dulu, ajakan berbuat tidak baik tidak semudah sekarang. Sekarang, HP sudah di tangan masing-masing. Bahkan dalam beberapa kasus, aksi tawuran itu direncanakan dan dikoordinasikan lewat grup media sosial.
Selain itu, anak-anak sering tidak sadar bahwa menyebarkan berita bohong (hoax) atau melakukan ujaran kebencian di medsos bisa langsung dijerat hukum melalui UU ITE. Tantangan ke depan luar biasa besar.
SinarLIMA: Melihat tantangan yang begitu besar, apa saran Anda untuk pihak sekolah dan masyarakat?
Khotibul Umam: Kita harus bersinergi. Beban guru di sekolah sudah sangat berat untuk mendidik, mengajar, sekaligus memberi teladan. Oleh karena itu, komponen masyarakat, instansi penegak hukum, dan orang tua harus bergerak bersama. Metode pembelajaran hukum secara langsung dari praktisi seperti ini diharapkan bisa memberikan dampak psikologis yang kuat bagi siswa.
Pesan untuk Adik-Adik Kelas dan Harapan Emas 2045
SinarLIMA: Sebagai alumni sukses dari Nahdlatul Wathan, bagaimana nilai-nilai sekolah ini membantu membentuk karier Anda?
Khotibul Umam: Poin utamanya adalah keseimbangan. Di Nahdlatul Wathan, kita tidak hanya dibekali ilmu duniawi seperti matematika, IPA, atau IPS, tetapi juga dibentengi dengan ilmu-ilmu agama yang kuat. Nilai-nilai agama inilah yang menjadi rem dan filter terbaik di luar sana.
Bagi adik-adik yang ingin mengikuti jejak berkarier di kedinasan, kami juga mengajak para Taruna Poltekip hari ini untuk memberikan motivasi. Kami ingin memperlihatkan bahwa anak-anak NW bisa sukses menembus sekolah kedinasan dan mengabdi pada negara.
SinarLIMA: Apa pesan penutup Anda untuk siswa-siswi dan masyarakat luas yang ingin menyekolahkan anaknya di Nahdlatul Wathan?
Khotibul Umam: Untuk adik-adik sekalian, bijaklah dalam bergaul dan batasi diri dalam menggunakan media sosial. Saya ingin mengutip salah satu wasiat dari pendiri Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid: “Tinggalkanlah cerita yang baik bagi generasi yang memahami sejarah.” Jadilah orang baik agar menjadi cerita dan teladan indah bagi generasi setelah kita.
Bagi masyarakat luas, jangan ragu untuk menyekolahkan anak-anak di Yayasan Pendidikan Nahdlatul Wathan. Di sini platform proteksinya lengkap; ilmu umum didapat, dasar agama ditanamkan secara mendalam. Ini modal utama untuk mencetak Generasi Emas 2045 yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlakul karimah.
SinarLIMA: Terima kasih banyak, Pak Khotibul Umam, atas waktu dan pemaparan yang sangat luar biasa ini. Insyaallah membawa manfaat besar bagi pemirsa SinarLIMA. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Khotibul Umam: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih kembali.
Catatan Redaksi: Wawancara ini dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Juli 2026, di sela-sela kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Nahdlatul Wathan Jakarta.
DATA PENULIS
-
Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)
-
Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)
-
Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.
-
Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.
-
Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.
-
Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV
-
Kontak: 0878-8727-0732




