Buka Pekan Ta’aruf, Kepala Ponpes NW Jakarta: Mondok Itu Cari Manfaat, Bukan Cari Enak!

Buka Pekan Ta’aruf, Kepala Ponpes NW Jakarta: Mondok Itu Cari Manfaat, Bukan Cari Enak!

Buka Pekan Ta’aruf, Kepala Ponpes NW Jakarta: Mondok Itu Cari Manfaat, Bukan Cari Enak!

JAKARTA, Sinar5News.com – Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta resmi memulai rangkaian kegiatan Pekan Ta’aruf dan Latihan Dasar Kepemimpinan Santri (LDKS) bagi para santri baru maupun santri lama. Kegiatan ini dibuka secara khidmat melalui apel pembukaan yang dilaksanakan langsung di lapangan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta pada Sabtu, 18 Juli 2026, dimulai pukul 13.00 WIB.

Bertindak sebagai Pembina Apel, Kepala Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, Dr. H. Miftahuddin, LC, MA, memberikan arahan dan motivasi yang mendalam, membakar semangat para santri di tengah terik siang yang menantang.

Memasuki Dunia Baru dan Pentingnya Ta’aruf

Dalam awal arahannya, Dr. H. Miftahuddin menyapa para santri baru yang tengah bertransisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Beliau memaklumi jika di awal-awal masa mondok muncul rasa kurang nyaman karena harus berpisah dengan orang tua dan bertemu dengan lingkungan serta orang-orang baru.

“Di sinilah pentingnya Pekan Ta’aruf. Pekan ini didesain agar kalian saling mengenal satu sama lain. Mengenal siapa yang di depan, belakang, kanan, dan kiri kalian. Tidak hanya sesama santri, kalian juga harus mengenal para asatidz, guru-guru, hingga seluruh fasilitas lingkungan pondok. Jangan sampai mau ke kamar mandi malah masuk dapur karena belum kenal lingkungannya,” ujar Dr. H. Miftahuddin yang disambut senyum para santri.

Beliau juga menekankan hakikat manusia sebagai makhluk sosial (zoon politikon) yang tidak bisa hidup sendirian. Beliau mengilustrasikannya dengan pengandaian yang menarik: jika seseorang dihadiahi seluruh area Taman Mini Indonesia Indah (TMII) namun harus tinggal sendirian tanpa ada orang lain, pasti orang tersebut akan menolak. Hal ini membuktikan bahwa Allah SWT mendesain manusia untuk hidup bersama-sama.

“Mondok Itu Mencari Manfaat, Bukan Cari Enak!”

Secara blak-blakan namun penuh motivasi, Kepala Ponpes menegaskan kepada seluruh santri agar meluruskan niat dan mengubah mindset (pola pikir) sejak awal. Beliau menyampaikan bahwa pesantren bukanlah tempat untuk bersantai atau mencari kemewahan fasilitas.

  • Penuh Tantangan (HTAG): Kehidupan di pondok akan diwarnai dengan Lika-liku, Hambatan, Tantangan, Ancaman, dan Gangguan (HTAG). Mulai dari bangun tidur yang harus didisiplinkan, hingga waktu bermain yang dibatasi untuk belajar.

  • Totalitas Pendidikan 24 Jam: Berbeda dengan lembaga formal yang hanya mengontrol siswa dari pagi hingga siang, pondok pesantren mengawasi dan mendidik santri secara totalitas, sejak mata terbuka di waktu Subuh hingga memejamkan mata kembali di malam hari. Proses pembiasaan (habituasi) ini menutup ruang-ruang kosong yang berpotensi dimasuki hal-hal negatif.

“Mondok itu bukan pilihan yang enak. Kalau ukurannya enak atau tidak enak, maka mondok adalah pilihan yang tidak enak. Tetapi, jika acuannya adalah mencari manfaat, maka memilih belajar di pondok pesantren adalah pilihan yang sangat tepat,” tegasnya.

Mengukir Takdir dan Belajar Memimpin

Lebih lanjut, Dr. H. Miftahuddin menjelaskan bahwa LDKS yang digandeng dengan Pekan Ta’aruf ini menjadi fase awal untuk melatih jiwa kepemimpinan santri. Di pesantren, santri secara perlahan dibimbing untuk memimpin kelompok kecil hingga kelompok yang lebih besar.

“Inti dari pelajaran pondok di mana pun adalah menjadikan kalian pemimpin. Ketika nanti kalian pulang ke rumah dan terjun ke masyarakat, minimal kalian akan diminta menjadi imam mushola, membimbing pengajian, atau memimpin kegiatan sosial. Di sinilah tempat kalian ditempa,” jelasnya.

Beliau juga mengajak para santri untuk optimis dalam menjemput masa depan melalui proses seleksi alam yang ada di pondok.

“Kita sedang mengukir (meng-create) takdir kita. Benar bahwa Allah yang menentukan takdir, tetapi kita dituntut oleh Allah untuk memantaskan diri mendapatkan takdir yang kita inginkan. Jika ingin ditakdirkan menjadi orang sukses dunia-akhirat, maka ayunkan langkah kaki kalian menuju proses belajar di pondok ini,” tambahnya.

Belajar dari Kesederhanaan “Bunga-Bunga Pondok”

Di akhir sambutannya, secara khusus Dr. H. Miftahuddin memberikan apresiasi yang tinggi kepada para asatidz, musyrif, serta pengurus OSNW (Organisasi Santri Nahdlatul Wathan) yang telah merancang kegiatan ini dengan baik.

Beliau sempat berseloroh mengenai fasilitas barak santri yang sederhana yang disebutnya sebagai “fasilitas mewah khas pesantren” yang penuh makna filosofis. Menurutnya, tidur di atas kasur sederhana di dalam pondok mengajarkan santri arti kesederhanaan. Jika santri sudah lulus melatih diri dalam kesederhanaan, maka kelak saat mendapatkan nikmat yang lebih besar di masyarakat, mereka akan menjadi hamba yang luar biasa bersyukur.

Beliau berpesan agar seluruh santri—baik santri lama maupun baru—untuk saling menjaga, saling menyayangi, dan kompak mengikuti seluruh materi. Beliau menutupnya dengan mengutip pesan Al-Qur’an untuk selalu tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa), serta menjauhi perbuatan yang tidak baik.

Apel pembukaan ini berjalan dengan lancar dan ditutup dengan doa bersama, menandai dimulainya perjuangan baru para kader umat dan bangsa di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta. (Kabar Sinar5)

DATA PENULIS

  • Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)

  • Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)

  • Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.

  • Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.

  • Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.

  • Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV

  • Kontak: 0878-8727-0732

 

 

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA