Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 21) Beberapa Indikator Kewalian Maulana Syaikh Bagian 1

Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 21) Beberapa Indikator Kewalian Maulana Syaikh Bagian 1

Setelah kita membaca dan memahami tradisi Tasawuf dalam mengenal Kewalian seperti
di atas, maka selanjutnya untuk menelusuri kewalian dari guru besar kita; Sulthaanul Aulia Al- Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid, maka dalam konteks ini, penulis setidaknya mengajukan minimal
empat indikator sebagai alasan penting dalam mengetahui atau menelusuri soal kewalian
Maulana Syaikh. Untuk empat indikator yang dimaksudkan yaitu, Pertama; Maulana Syaikh
memiliki keseluruhan sifat-sifat Wali ar-Rahman (Wali Allah). Kedua; Maulana Syaikh
Menceritakan Tentang Kewalian. Ketiga; Adanya cerita dari Wali Allah lainnya tentang Maulana Syaikh sebagai Wali Allah. Keempat; Maulana Syaikh adalah ulama atau seorang wali penyusun Tarekat Mu`tabarah. Dan terhadap empat alasan penting yang penulis sebutkan diatas ini, dapat kita telusuri penjelasannya berikut ini.

1. Maulana Syaikh Memiliki Keseluruhan Sifat-sifat Wali ar-Rahman

Sebelumnya pernah kita jelaskan mengenai perbedaan antara Wali ar-Rahman (Wali
Allah) dengan Wali asy-Syaithan (Wali Syetan). Dan terhadap dua model kewalian tersebut, kita sudah memberikan gambaran mengenai sifat-sifat yang harus selalu melekat terhadap Wali ar- Rahman (Wali Allah) dan demikian juga sifat-sifat yang harus selalu melekat terhadap Wali asy- Syaithan (Wali Syetan) tersebut.

Dan secara umum dari keseluruhan sifat-sifat Wali ar-Rahman (Wali Allah), dalam hal
seperti beriman kepada Allah Subhanahu wa ta`ala dan lain-lainnya, bertakwa, ridha dengan ketetapan-Nya, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Dan kemudian ketaatan yang dilakukan secara terus menerus, selalu terlihat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta`ala dan sebagainya itu adalah merupakan sifat-sifat yang selalu melekat dan nampak kita saksikan bersama secara langsung pada diri Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Dengan demikian, ketika menelusuri keseluruhan sifat-sifat Wali ar-Rahman (Wali
Allah) itu dan ternyata semua itu ada pada diri Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, maka kita dapat memaastikan dengan penuh keyakinan bahwa beliau adalah seorang wali Allah Subhanahu wa ta`ala.
Di sisi lain, memang Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid telah diakui pula bahwa beliau ulama pewaris Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi wa sallam yang sejati. Beliau telah mengikuti jejak baginda Nabi Shalallaahu `alaihi wa Salllam, bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya, tetapi juga dalam kapasitas spiritual dan esensi ruhaniahnya (Al-Haqiqah al-Muhammadiyyah).

Dan menurut tradisi Tasawuf, maka beliau adalah seorang khalifah Allah Subhanahu wa ta`ala yang sesungguhnya di muka bumi. Beliau sebagai seorang wali yang sangat dekat dengan Allah, sehingga penglihatan (visinya) tidak berbeda dengan visi Allah—Yandzuru bi nurillahi ta’ala, “melihat dengan Nur Allah Subhanahu wa ta`ala.”

Sementara itu, ketika kita berbicara tentang seseorang yang disebut wali Allah itu adalah
keniscayaannya dalam soal taqwa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Dalam syarat taqwa di sini juga, tentunya dalam pengertian yang hakiki. Dalam bahasanya al-Qur`an al-Karim yang tertera dalam Surah Ali Imran (3), ayat 102 adalah Haqqa tuqatihi, yakni sebenar-benar takwa.

Dan memang takwa di sinipun mengandung dua aspek, yakni ada aspek lahir dan aspek batin. Sebagai aspek lahirnya taqwa adalah pelaksanaan syariat agama. Sementara sebagai aspek batinnya adalah niat yang suci atau dalam bahasa keseharian kita dalam ibadah adalah Lillahita’ala dan mujahadah. Jika seseorang sudah mencapai taqwa yang hakiki ini, maka barulah ia bisa disebut mukmin yang sejati. Dan bagi mukmin yang sejati itulah tempat melekatnya sebutan sebagai seorang Wali Allah Subhanahu wa ta`ala.

Dan dalam konteks ketaqwaan ini, maka tentunya bagi Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai
Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang ulama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai iman dan taqwa. Dan bahkan terhadap organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikannya itu, justeru memiliki semboyan yang khas, yakni Pokoknya NW dan Pokok NW adalah Iman dan Taqwa. Terkait soal taqwa inipun, secara spesifik dalam bukunya, “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru”, antara lain Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mengatakan, seperti berikut ini;

”Auliyaullah berkata selalu
Zaman sekarang maupun dahulu

”Iman taqwa hidupkan olehmu
Kemudian baru mencari sangu”. 53

Dalam bait syair lainnya, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid sebutkan seperti berikut ini;

”Para Auliya’ memanjatkan do’a
Membantu mereka yang hidup jiwa
Membela iman membela taqwa
Tidak tertawan harta dan tahta”. 

Untuk lebih jelasnya tentang Semboyan NW, Lihat, Muslihan Habib, Nilai-Nilai Monumental dalam Semboyan NW, Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, tahun 2013. Lihat juga, M.Noor, at.al, Visi Kebangsaan Religius, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997, Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, tahun 2014, hal. 134.
53 Lihat, Kyai HAMZANWADI, Op. Cit, hal. 34.
54 Lihat, Ibid, hal. 36.

Dalam sisi dzikir kepada Allah Subhanu wa ta`ala, sosok Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-
`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid adalah ulama yang tidak pernah lepas dari dzikir kepada Allah. Penulis sendiri
adalah salah satu murid langsung yang bisa menyaksikan gerak geriknya setiap hari, termasuk saat mengajar. Jari jemari dari tangan beliau itu, seolah tidak pernah lepas dari tasbih yang berputar dan tentunya selalu bertasbih atau berdzikir kepada Allah Subhanu wa ta`ala.

Selain itu, ada hal yang menarik terkait dzikirnya Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dimana, salah seorang murid dekatnya Ustadz
H.Muhammad Suhaidi (Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta), menceritakan fenomena dzikirnya beliau yang tiada hentinya. Dalam hal ini, dapat kita perhatikan sekelumit dalam cerita, sebagaimana berikut ini.

”Suatu ketika, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi (Pimpinan Pondok Pesantren
Nahdlatul Wathan Jakarta) pulang dari Jakarta untuk menghadap Maulana Syaikh
Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam kepentingan
memberikan laporan yang berkaitan dengan progres atau kemajuan pesantren dan
sekaligus mengajukan kepentingan pondok pesantren yang dipimpinnya. Ketika
menghadap itu, rupanya sudah larut malam dan ia disuruh oleh beliau untuk
menginap di rumahnya.

Suatu hal yang menarik dalam kisah ini, dimana ketika itu, ia di suruh tidur atau
istirehat di ruang atau kamar beliau juga. Tapi, sang murid lebih memilih istirehat di
luar rungannya. Dalam hal ini, salah satu yang di sorot atau diperhatikan oleh Al-
Ustadz Haji Muhammad Suhaidi adalah ibadah dan dzikirnya Sulthaanul Aulia Al-
`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dimana, waktu malam yang umumnya kita
gunakan untuk mengistirehatkan badan, agar selalu sehat dan segar bugar, ternyata
sangat beda untuk dirinya. Dari pantauan sang murid yang menginap dan memang
mengaku tidak bisa tidur waktu malam menginapnya itu adalah mengintip ibadahnya
yang tidak pernah putus semalaman itu sampai datangnya waktu subuh. Suara
detakkan tasbih yang diputar di jari-jemaari tangan beliau, sepertinya terus menerus
berputar dan bersambung dengan tiada henti dan tidak pernah lepas perputaranya,
sembari menyebut asma Allah Subhanahu wa ta`ala.” 

Oleh sebab itu, keberadaan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid sebagai seorang Wali Allah, tentu makin nampak dengan indikasi dzikirnya yang tiada henti. Dan hal inipun, tentu memiliki relevansi yang sangat akurat dan tepat dengan haditsnya Nabi Shallallaahu `alaihi wa sallam;

قَالَ رَجُلٌ: يَارَسُوْلَ للهِ مَنْ اَوْلِيَاءُ اللهِ ؟ قَالَ: الَّذِيْنَ اِذَا رُؤُوْا ذُكِرَاللهُ (رواه البذار)
“Seseorang bertanya,”Ya Rasulullah, siapakah wali-wali Allah itu?’Beliau
bersabda,’Yaitu orang-orang yang bila kalian lihat, mereka senantiasa menyebut
nama Allah.” (HR.Al-Badzaar)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA