Hikmah Syuruq: Pranata Sosial

Hikmah Syuruq: Pranata Sosial

Oleh : Pahri Lubis.

” فارفع بضم وانصبن فتحا وجر # كسرا كذكر الله عبده يسر
واجزم بتسكين وغير ما ذكر. # ينوب نحو جاء أخو بني نمر”.
( ابن مالك ).

” Maka rafa’kanlah dengan dhammah, nasabkanlah dengan fathah ( عبدَه ), jarkan lah dengan kasrah ( ِذكر الله jazamkanlah dengan sukun. Selain yang empat adalah pengganti. “. (Ibn Malik ).

Barakallahu fikum, semoga kita dapat memahami syair Ibn Malik ini, yang mengatur prilaku, aktifitas sosial baik tertulis ataupun tidak tertulis yang di kenal dengan pranata sosial, baik pranata keluarga, Agama, ekonomi, politik, dan pendidikan yang berhubungan dengan kehidupan sosial. Pernyataan Ibn Malik bukan hanya di tinjau dari sudut kebahasaan akan tetapi juga di tinjau dari sisi sosial. Bila kita perhatikan isi nya, memiliki empat prinsip dalam kehidupan masyarakat.

Yang pertama: Angkatlah dengan keramahan dan persatuan. Artinya orang yang di angkat derajat nya di tengah tengah masyarakat harus memiliki sikap ramah sehingga terwujud persatuan yang kuat, secara otomatis terangkat derajatnya. Rasulullah SAW selalu ramah dengan para sahabat, bahkan terhadap musuh sekalipun, sehingga membuat posisi nya, derajat nya tinggi di mata masyarakat. Sikap ramah yang di miliki Rasul ramah lingkungan, bukan pemarah bagaimana pun bentuk nya, bila pribadi Rasul di sakiti orang jahiliyah di katain orang gila, penyakit ayan, gila perempuan, dan di teror habis habisan, Rasulullah tetap ramah lingkungan, tidak membalas dengan marah. Rasul marah kalau Islam di injak injak, di hina, bahkan bisa terjadi peperangan, karena menyangkut harga diri Islam yang ramah, rahmat semesta alam.

Yang kedua: tegakkan dengan keterbukaan. Artinya menegakkan keadilan di butuhkan keterbukaan, kejujuran, transparansi, keterbukaan hanya di miliki oleh orang yang jiwa nya tenang. Oleh karenanya dalam hukum fikih seorang yang emosi jiwanya, tidak optimal, maka dia tidak boleh menetapkan suatu hukum, di khawatirkan keputusannya tidak objektif, di sebabkan pengaruh emosi yang tidak stabil. Oleh karena nya sifat terbuka, jujur salah satu syarat dalam menetapkan hukum, mendekati, mengarah lebih objektif.

Yang ke tiga cegahlah dengan kemalasan. Perpecahan itu lemah dan merugikan, dan sifat malas itu dapat menyesatkan seseorang. Sebagaimana kata syair: bersungguhlah, jangan malas, dan jangan lengah, karena penyesalan merupakan akibat bagi orang malas. Penyesalan selalu datang kemudian, setelah melihat teman teman nya sukses, barulah merasa,dia tetap nyari nafkah di kaki lima, sementara teman nya sudah keliling dunia menikmati ilmu yang di miliki. Yang keempat: Laksanakan dengan ketenangan.

Sesuatu yang di kerjakan dengan tenang maka hasilnya bagus. Dalam Shalat di kenal thumakninah menjadi rukun shalat bertujuan agar pelaksanasn shalat tersebut tenang dan baik sesuai dengan aturan yang telah di terapkan, bukan hanya menggugurkan rukun qouli dan fi’li, tapi juga qolbi. Agar shalat kita lebih khusu’ , membaca bacaan shalat dengan benar dan tenang, tidak buru buru, begitu juga dengan fi’liyah nya di lakukan dengan sepenuh hati agar shalat nya menjadi thumakninah rilex dan tenang, semoga Allah menjawab komunikasi kita dengan Nya dalam shalat.

Semoga kita dapat menjalin persaudaraan di antara masyarakat, bersikap terbuka, tidak menutupi sesuatu yang perbuatan yang tidak bermanfaat, berilah motivasi mereka rajin beribadah, serta memiliki rasa thumakninah. Tenang dalam berbicara, berpikir, dan berbuat. Amin ya rabbal’alamin. والله أعلم بالصواب

Senin, 25 Juli 2022.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA