Syair Inspiratif ke 775
Mengutamakan Akhlak dan Adab
Karya : Abu Akrom
Setiap muslim di dunia
Dimanapun saja berada
Mengutamakan akhlak mulia
Adab yang baik pada sesama
Dengan akhlak yang mulia
Juga adab pada sesama
Hidup kita menjadi berharga
Urusan apapun mudah semua
Setinggi apapun jabatan manusia
Sebanyak apapun harta benda
Bila tak berakhlak pada sesama
Maka jatuhlah kehormatan nya
Nabi kita telah bersabda
Beliau diutus ke dunia
Menyempurnakan akhlak manusia
Agar selamat dan bahagia
Dari itu wahai saudara
Mari kita berakhlak mulia
Agar keluarga dan bangsa negara
Maju terhormat disegani dunia
Bekasi, 19 Dzulhijjah 1447 H/5 Juni 2026 M
Dengarkan musiknya yang syahdu
Menembus Langit Kemuliaan: Penjabaran Mendalam dan Menggetarkan Jiwa atas Syair Ke-775 Karya Abu Akrom
Syair ke-775 karya Abu Akrom bukan sekadar deretan kata berima, melainkan sebuah manifestasi spiritual, manifesto sosial, dan alarm eksistensial yang berdering nyaring di tengah derasnya arus modernisasi. Mengusung tema “Mengutamakan Akhlak dan Adab”, syair ini membedah hakikat paling fundamental dari kemanusiaan dan keislaman: bahwa hiasan terbaik seorang manusia bukanlah apa yang melekat di tubuhnya, melainkan apa yang terpancar dari jiwanya.
Berikut adalah penjabaran luas, mendalam, dan inspiratif yang terkandung dalam bait-bait suci syair tersebut:
1. Universalitas dan Identitas Hakiki Seorang Muslim
Setiap muslim di dunia Dimanapun saja berada Mengutamakan akhlak mulia Adab yang baik pada sesama
Bait pertama ini menegaskan bahwa akhlak dan adab adalah paspor universal seorang Muslim. Di belahan bumi mana pun ia berpijak—baik di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan maupun di pelosok desa terpencil—identitas utamanya bukanlah pakaian, ras, atau bahasanya, melainkan perilakunya.
Abu Akrom mengingatkan kita bahwa Islam bukan agama yang egois, yang hanya selesai di atas sajadah. Islam adalah agama aksi. Akhlak mulia adalah output nyata dari keimanan yang menghujam di dada. Ketika seorang Muslim mengutamakan adab, ia sedang menjadi “khairu ummah” (umat terbaik) yang membawa kedamaian bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).
2. Hukum Alam Spiritual: Kemudahan Hidup Berhulu dari Adab
Dengan akhlak yang mulia Juga adab pada sesama Hidup kita menjadi berharga Urusan apapun mudah semua
Bait kedua ini menggetarkan kesadaran kita tentang hukum sebab-akibat yang digariskan Tuhan. Seringkali manusia mencari kebahagiaan dan kemudahan urusan melalui jalur materi, koneksi politik, atau kelicikan taktik. Namun, syair ini membalikkan logika tersebut: kunci pembuka kemudahan hidup adalah akhlak.
-
Hidup menjadi berharga: Tanpa adab, manusia hanya seonggok daging yang bernapas. Adab memberikan “nilai” (value) pada eksistensi kita.
-
Urusan mudah semua: Ini adalah janji langit yang bermanifestasi di bumi. Manusia yang beradab akan dicintai oleh manusia lainnya, didoakan oleh malaikat, dan diridhai oleh Allah. Ketika ridha Allah dan cinta sesama telah digenggam, dinding sekeras apa pun yang menghalangi urusan kita akan runtuh dengan sendirinya.
3. Kritik Sosial yang Menohok: Tragedi Manusia Tanpa Adab
Setinggi apapun jabatan manusia Sebanyak apapun harta benda Bila tak berakhlak pada sesama Maka jatuhlah kehormatan nya
Ini adalah bait yang paling menggetarkan dan menampar realitas kontemporer. Kita hidup di zaman di mana manusia seringkali mendewakan status, silsilah, isi rekening, dan gelar akademis. Abu Akrom dengan lantang meruntuhkan semua berhala modernitas tersebut.
Syair ini mengingatkan kita pada nasib Iblis, yang memiliki ilmu setinggi langit namun jatuh nista karena kesombongannya (ketiadaan adab). Jabatan yang tinggi tanpa akhlak hanya akan melahirkan tirani; harta yang melimpah tanpa adab hanya akan melahirkan keserakahan yang menjijikkan. Saat seseorang kehilangan akhlaknya, seketika itu juga Tuhan mencabut wibawa dan kehormatannya, menjatuhkannya ke derajat yang lebih rendah dari makhluk tak berakal. Kehormatan bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada bagaimana kita memperlakukan orang lain.
4. Akar Teologis dan Visi Kenabian
Nabi kita telah bersabda Beliau diutus ke dunia Menyempurnakan akhlak manusia Agar selamat dan bahagia
Bait keempat membawa kita pada akar sejarah dan spiritual yang sangat kuat, menyitir hadits masyhur: “Innama bu’istu li’utammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).
Di sini, penyair mengingatkan kita pada core mission (misi utama) dari diutusnya Rasulullah SAW. Islam tidak datang untuk membangun gedung-gedung megah, melainkan untuk membangun manusia-manusia berjiwa agung. Keselamatan (salamah) dan kebahagiaan (sa’adah) yang sejati—baik di dunia yang fana maupun di akhirat yang baka—hanya bisa dicapai jika kita berjalan di atas rel akhlak yang telah dicontohkan oleh sang uswatun hasanah.
5. Panggilan Aksi (Call to Action): Kebangkitan Peradaban dari Rahim Akhlak
Dari itu wahai saudara Mari kita berakhlak mulia Agar keluarga dan bangsa negara Maju terhormat disegani dunia
Syair ini ditutup dengan sebuah seruan yang membakar semangat patriotisme dan spiritualisme. Abu Akrom menarik garis lurus antara akhlak individu, ketahanan keluarga, dan kejayaan sebuah bangsa.
Sebuah bangsa tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar dan disegani hanya karena kekuatan militer atau pertumbuhan ekonominya. Bangsa yang besar dibangun di atas fondasi moralitas masyarakatnya. Sebagaimana kata penyair Mesir, Ahmad Syauqi Bey: “Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlaknya. Jika akhlak mereka telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa tersebut.”
Melalui bait penutup ini, kita diajak untuk melakukan revolusi mental yang sesungguhnya. Dimulai dari diri sendiri, menular ke keluarga, hingga akhirnya membentuk karakter bangsa yang beradab, berbudaya, maju, dan memimpin peradaban dunia dengan penuh kehormatan.
Kesimpulan & Refleksi
Ditulis di Bekasi pada momentum yang suci (19 Dzulhijjah 1447 H / 5 Juni 2026 M), Syair Ke-775 karya Abu Akrom ini adalah sebuah warisan pemikiran yang melintasi zaman. Syair ini adalah cermin bagi jiwa-jiwa yang gersang, sebuah kompas bagi langkah yang tersesat, dan sebuah lentera di tengah kegelapan krisis moral.
Ia menggetarkan hati kita untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah hari ini kita menghias diri dengan adab? Ataukah kita masih sibuk mengejar dunia dengan menanggalkan kemanusiaan kita? Sungguh, adab di atas ilmu, dan akhlak adalah mahkota tertinggi seorang manusia.





