Sinar5news- Jakarta- Ada satu layar yang tak pernah bertanya kamu dari mana. Ia tak peduli KTP-mu Aceh atau Papua, tak menakar saldo ATM-mu di Jakarta atau di pelosok NTT. Namanya TVRI. Slogannya pendek, tapi berat: _Media Pemersatu Bangsa.
Ia buka hanya sekedar memberikan tontonan seperti kebanyakan TV lainnya. TVRI tegak lurus memberikan pesan, kita anak bangsa boleh berbeda segala hal tapi cinta kita pada merah putih sama besar. NKRI harga mati. Bangsa yang sedang menata arah jalan melalui slogan ” sapu bersih ” menuju Indonesia sejahtera adi makmur sentosa lahir batin.
Di Piala Dunia 2026 ini, slogan itu turun dari dinding kantor, lalu hidup di ruang tamu kita. Bayangkan: Jam 02.00 WIB, Qatar vs Swiss menggulir di San Francisco.
Di Lombok, seorang nelayan belum tidur karena gelombang. Di Medan, mahasiswa begadang sambil revisi skripsi. Di Manado, ibu warung baru tutup lapak. Tiga dunia berbeda, satu sorakan saat bola masuk gawang.
Itu kerja TVRI. Ia tidak menjual eksklusivitas. Ia membagi milik bersama. Piala Dunia 2026, 11 Juni – 19 Juli 2026, 104 laga, disalurkan gratis lewat TVRI Nasional dan TVRI Sport.
Dari Brasil vs Maroko pukul 05.00 WIB di TVRI Sport, sampai Australia vs Turki pukul 11.00 WIB.
Semua bisa dijangkau antena UHF, satelit Telkom-4, sampai TVRI Klik. Pemersatu itu bukan karena semua suka tim yang sama. Pemersatu itu karena kita bisa marah, kecewa, tertawa,
dalam waktu yang sama, di frekuensi yang sama.
Anak di pegunungan Jayawijaya bisa debat penalti dengan kakek di pesisir Madura.Tanpa TVRI, mungkin mereka tak pernah punya bahan obrolan yang sama.
TVRI Sport lahir 21 Desember 2010.
Kanal terestrial pertama khusus olahraga. Tapi jiwanya bukan soal skor.
Jiwanya adalah mengingatkan: bahwa di tengah perbedaan warna kulit, bahasa, logat, ada satu hal yang bisa membuat 280 juta orang berdiri bersamaan:
sebuah gol di menit 90+3.
Maka saat peluit Piala Dunia dibunyikan,
TVRI bukan cuma menyalakan siaran.
Ia menyalakan rasa kita sebagai satu bangsa. Karena persatuan itu, kadang,
hanya butuh satu layar dan satu bola.
Sebagai jendela Nusantara , TVRI selalu memberikan siaran menyatukan, menyejukkan, jauh dari gosip dan acara diskusi yang saling hujat, mencederai kemanusiaan. Model siaran TVRI haruslah diikuti TV swasta lainnya yang memberikan tuntunan berbudaya bukan hanya tontonan mengejar reting. Agar jati diri bangsa selalu terjaga. (Sm)





