Membentuk Generasi Qurani Berkarakter Kitab: Bincang Hangat Bersama Pengasuh Rumah Tahfiz Darul Wahy Addayana

Membentuk Generasi Qurani Berkarakter Kitab: Bincang Hangat Bersama Pengasuh Rumah Tahfiz Darul Wahy Addayana

Membentuk Generasi Qurani Berkarakter Kitab: Bincang Hangat Bersama Pengasuh Rumah Tahfiz Darul Wahy Addayana

PAMULANG, Sinar5News.com – Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar adu cepat, melainkan sebuah proses menanamkan keistiqomahan dan mempersiapkan bekal akhirat. Semangat inilah yang terpancar kuat saat tim media SinarLIMA berkunjung ke Rumah Tahfiz Darul Wahy Addayana.

Berlokasi di Jalan Bukit Pamulang Indah Blok A19 No. 5, Pamulang Timur, Kota Tangerang Selatan, Rumah Tahfiz yang dipimpin oleh Ibu Hj. Diana Wachyuni ini berdiri teguh di bawah naungan Masjid Tahfiz Al-Marzukiyah, sebuah lembaga yang dipelopori oleh ulama pakar Al-Qur’an, Dr. KH. Marzuki, QH, MH.

Berikut adalah petikan wawancara eksklusif kru media SinarLIMA bersama pengasuh sekaligus pembimbing santri, Ust. Muhammad Yusran Fahmi, S.Pd.:

Profil Pembimbing & Awal Mula Pengabdian

SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Ustaz, mohon memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada pembaca SinarLIMA.

Ust. Yusran: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah, nama saya Muhammad Yusran Fahmi. Saya berasal dari NTB, tepatnya dari Desa Buntiang, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur. Di sini saya diamanahkan sebagai salah seorang pengasuh dan pembimbing santri.

SinarLIMA: Sejak kapan Ustaz mulai bertugas memimpin dan membimbing di Rumah Tahfiz Darul Wahy Addayana ini?

Ust. Yusran: Saya ditugaskan langsung oleh Guru kita, Dr. KH. Marzuki, QH, MH, sejak tahun 2024 lalu untuk membimbing anak-anak di sini.

SinarLIMA: Secara pribadi, apa yang paling Ustaz rasakan selama membimbing para santri di sini?

Ust. Yusran: Yang paling saya rasakan adalah tentang esensi keistiqomahan. Bagaimana kita belajar mengabdi terhadap agama, berbakti dan khidmah kepada guru, serta yang paling utama adalah menyiapkan diri kita sendiri menuju akhirat kelak sekaligus menyiapkan generasi muda untuk masa depan umat. Nilai-nilai itulah yang menjadi motivasi terbesar saya untuk terus bertahan dan bersemangat.

Metode Menghafal Al-Qur’an yang Fleksibel & Disiplin

SinarLIMA: Program tahfiz di sini dirancang langsung oleh Dr. KH. Marzuki. Seperti apa teknis dan metode menghafal yang beliau sarankan dan diterapkan di sini?

Ust. Yusran: Terkait metode, beliau sebenarnya memberikan tiga pilihan cara agar hafalan kuat dan cepat melekat di pikiran:

  1. Langsung menghafal ayat per ayat.

  2. Langsung menghafal per satu halaman penuh.

  3. Membaca terlebih dahulu sebanyak 20 kali per halaman sebelum mulai menghafal.

Di sini kami mengombinasikannya. Di satu sisi, kami mengejar target waktu agar santri disiplin dan tidak terlena dengan keseharian mereka. Namun di sisi lain, kami juga menjaga agar mereka tidak sekadar asal hafal tanpa kualitas.

SinarLIMA: Lalu, berapa target hafalan harian yang ditekankan kepada para santri?

Ust. Yusran: Kami tidak menyamaratakan target secara kaku, karena setiap santri memiliki kualitas hafalan dan tingkat IQ yang berbeda-beda. Jadi tidak ada paksaan. Namun untuk menjaga kedisiplinan, kami menetapkan minimal satu halaman per hari. Faktanya, ada santri yang mampu menyetor satu lembar, bahkan lebih, tergantung kemampuan masing-masing.

SinarLIMA: Bagaimana hasil evaluasi nyata sejauh ini?

Ust. Yusran: Alhamdulillah, setelah terus dievaluasi, hasilnya luar biasa. Ketika kita berikan motivasi, arahan waktu yang tepat, dan tata cara menghafal yang benar, potensi santri keluar secara optimal. Ditambah lagi, santri di sini punya semangat juang yang luar biasa.

Melawan Kejenuhan & Dinamika Santri Mayoritas Lombok

SinarLIMA: Berbicara tentang pengabdian, iman manusia pasti ada pasang surutnya (Yazidu wa Yankush), begitu juga rasa jenuh. Bagaimana cara Ustaz mengatasinya?

Ust. Yusran: Betul, kejenuhan itu pasti ada. Ketika merasa motivasi turun, cara melawannya adalah dengan memperbanyak ibadah. Karena keimanan itu bertambah dengan ketaatan. Rasa malas atau jenuh dalam membimbing itu kami lawan dengan mendekatkan diri kepada Allah.

SinarLIMA: Kalau santri yang mengalami jenuh, bagaimana model penanganannya?

Ust. Yusran: Penanganan santri tentu berbeda. Mereka tidak bisa hanya digerakkan dengan nasihat lisan (lisanul maqol), tapi harus dibimbing dengan keteladanan tindakan (lisanul hal). Mereka harus terus dirangkul dan digerakkan oleh gurunya, sampai nanti tiba waktunya mereka matang dan mampu mandiri dalam ibadah serta hafalannya.

SinarLIMA: Saat ini ada berapa santri dan dari mana saja asal mereka? Mengapa terlihat sangat akrab satu sama lain?

Ust. Yusran: Saat ini yang menetap menghafal sekitar 10 orang. Kalau bicara asal daerah, mayoritas berasal dari Lombok, NTB. Mengapa demikian? Karena Kyai kami, Dr. KH. Marzuki, juga orang Lombok, sehingga pengaruh kedekatan emosional itu membawa mereka ke sini. Tapi ada juga satu-dua santri yang berasal dari luar Lombok.

Manajemen Waktu: Dari Tahajud Hingga Kursus Bahasa

SinarLIMA: Bisa digambarkan bagaimana rutinitas harian santri dari pagi hingga malam?

Ust. Yusran: Kegiatan kami terjadwal ketat namun berkah, di antaranya:

  • Sepertiga Malam: Shalat Tahajud bersama.

  • Subuh: Shalat Subuh berjamaah di masjid, dilanjutkan dengan mempersiapkan hafalan masing-masing. Di waktu ini, saya juga menyimak setoran santri secara online.

  • Pukul 09.00 WIB: Program penambahan hafalan baru (ziadah) sekaligus mengulang hafalan lama (murojaah).

  • Siang & Sore: Mengulang hafalan secara mandiri, wirid, dan kami juga memberikan kelonggaran jika ada santri yang diminta membantu warga sekitar (tetangga) untuk mengajar anak-anak mereka mengaji.

  • Ba’da Isya: Ini program penguatan akademik. Kami ada kelas Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang saya bimbing langsung, serta program Tahsin Al-Qur’an bersama Ustaz Agus.

Kami juga menerapkan sistem kontrol yang ketat. Setiap santri yang sudah mencapai progres hafalan 2,5 lembar—baik didapat dalam sehari atau dua hari—wajib melakukan tes pengulangan (tasmi) di depan saya agar hafalannya tidak lepas.

Prospek Alumni: Kuliah ke Mesir hingga Program “Taba”

SinarLIMA: Jika nanti ada santri yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz, ke mana arah penyaluran alumni selanjutnya?

Ust. Yusran: Bagi santri yang memiliki kemampuan dana lebih, baik dari orang tua maupun donatur, bisa kita berangkatkan melanjutkan studi ke Mesir. Bagi yang menetap di tanah air, mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah karena kita sudah ada MOU dengan beberapa kampus.

Namun sebelum itu, lumrahnya setelah hafal 30 juz, mereka wajib masuk program lanjutan yaitu Pendalaman Kitab. Sebab, kalau hanya sekadar menghafal teks Al-Qur’an, orang non-muslim pun ada yang bisa melakukan. Yang kita inginkan adalah mereka paham isinya.

SinarLIMA: Di mana tempat pendalaman kitab tersebut dan apa saja kurikulumnya?

Ust. Yusran: Tempatnya di Yayasan Eksponesia Amanah Cendekia. Programnya digagas langsung oleh Dr. KH. Marzuki dengan nama Program Taba (Tahfiz dan Bahasa) yang ditempuh selama 2 tahun dengan pembagian tiap 6 bulan:

  • 6 Bulan Pertama: Tahfiz & Pendalaman Bahasa.

  • 6 Bulan Kedua: Tahfiz & Praktek Sorogan Kitab.

  • 6 Bulan Ketiga: Tahfiz & Fikih.

  • 6 Bulan Keempat: Tahfiz/Tafsir.

Alhamdulillah, alumni dari program ini sudah banyak yang tersebar, baik di Lombok maupun di Jabodetabek, dan mereka sudah mahir membaca serta memahami kitab gundul (kitab kuning).

Catatan Khusus Santri & Pesan Penutup

SinarLIMA: Secara personal, salah satu santri di sini adalah anak saya, Abdul Quddus Al Majidi. Bagaimana Ustaz melihat keseharian dan konsistensinya dalam menghafal?

Ust. Yusran: Masya Allah, kalau berbicara tentang Ananda Majidi, dia adalah anak yang sangat tekun. Yang saya kagumi, dia tidak hanya mengaji pada saat jam program wajib saja, tetapi di luar waktu program pun dia sering terlihat memanfaatkan waktunya untuk tetap memegang dan menjaga Al-Qur’an. Melihat perjuangan dan kegigihannya, insya Allah saya sangat optimis ke depannya Majidi bisa menyelesaikan hafalan 30 juz dengan baik. Amin.

SinarLIMA: Terakhir Ustaz, apa pesan yang ingin disampaikan kepada para orang tua dan seluruh santri di mana pun berada agar tetap terpacu menghafal Al-Qur’an? Termasuk apa motto dari Darul Wahy Addayana ini?

Ust. Yusran: Pesan saya, yang pertama adalah istiqomahlah menjaga shalat berjamaah di mana pun berada. Urusan menghafal ini adalah urusan mencari ilmu, sedangkan yang punya ilmu adalah Allah SWT. Karena kita yang butuh ilmu, maka bahagiakanlah Allah, buatlah Allah rida dengan ketaatan kita, maka Allah akan memberikan jaminan kemudahan, sebagaimana prinsip Wattaqullah wa Yu’allimukumullah (Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberikanmu ilmu).

Untuk mottonya, kami selalu memegang prinsip: “Bersama Al-Qur’an, Kita Hebat!”

SinarLIMA: Masya Allah, terima kasih banyak Ustaz atas waktu dan ilmu yang dibagikan. Semoga Ustaz selalu diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, keikhlasan dalam membimbing, dan rumah tahfiz ini terus melahirkan cahaya bagi umat. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ust. Yusran: Amin ya Rabbal ‘Alamin. Terima kasih kembali. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

DATA PENULIS

  • Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)

  • Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)

  • Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.

  • Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.

  • Karya: Penulis puluhan buku & Pencipta 12 album lagu religi.

  • Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV

  • Kontak: 0878-8727-0732

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA