JAKARTA – Peringatan Haul ke-29 Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Masjid Hamzanwadi, Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, pada Kamis, 22 Oktober 2026 dari pukul 18:00 sampai dengan selesai, menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada guru, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan komitmen melanjutkan perjuangan para ulama.
Dalam sambutannya, pimpinan Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta–Bekasi, Kyai Haji Muhammad Suhaidi, SQ, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir. Mereka terdiri atas pengurus organisasi, tokoh masyarakat, pimpinan pondok pesantren tahfizul Qur’an, para habaib, tuan guru, alumni, santri, dan jamaah.
Kyai H. Muhammad Suhaidi menegaskan bahwa kehadiran para tamu bukan sekadar bentuk partisipasi dalam kegiatan haul, melainkan juga wujud kecintaan dan penghormatan kepada ulama yang telah berjasa besar dalam membangun pendidikan Islam dan membimbing umat.
Ia berharap doa yang dipanjatkan bersama menjadi wasilah turunnya rahmat Allah Swt. kepada almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, diangkat derajatnya, diampuni segala dosanya, serta ditempatkan bersama hamba-hamba Allah yang saleh.
Mengenang Nasihat Guru dan Sejarah Perjuangan
Dalam kesempatan tersebut, Kyai H. Muhammad Suhaidi juga menceritakan pengalaman sejarah ketika dirinya memohon izin kepada Maulana Syaikh pada 1994 untuk mengadakan tasyakuran atas usia beliau yang mencapai satu abad.
Menurutnya, terdapat pesan penting yang disampaikan Maulana Syaikh agar penyelenggaraan kegiatan tidak dilakukan secara berlebihan. Nasihat tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para murid agar senantiasa mengedepankan adab, ketaatan kepada guru, serta kebijaksanaan dalam menjalankan perjuangan.
Ia juga mengenang berbagai kendala yang pernah terjadi dalam penyelenggaraan kegiatan, mulai dari hujan deras, petir, gangguan listrik, hingga persoalan teknis yang menyulitkan para tamu. Hal ini disebabkan karena tidak mengindahkan nasihat Maulana Syaikh agar jangan melakukan hal yang berlebihan.
Pengalaman itu, menurutnya, mengajarkan bahwa semangat perjuangan harus disertai ketaatan terhadap nasihat guru, perencanaan yang matang, dan sikap rendah hati. Niat baik perlu diwujudkan dengan cara yang tepat agar tidak menimbulkan kesulitan bagi orang lain.
Menguatkan Pendidikan Al-Qur’an dan Peran Alumni
Selain mengenang sejarah perjuangan Maulana Syaikh, Kyai H. Muhammad Suhaidi menyoroti pentingnya keikhlasan dan keyakinan dalam membangun pendidikan Islam. Ia mengapresiasi para pimpinan pondok pesantren yang berjuang memberikan kesempatan kepada santri untuk menghafal Al-Qur’an, termasuk melalui program pendidikan tanpa biaya.
Menurutnya, upaya tersebut merupakan bentuk pengabdian yang membutuhkan keyakinan, pengorbanan, dan dukungan berbagai pihak. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan karakter generasi yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Ia mengajak para alumni untuk terus mengambil bagian dalam perjuangan pendidikan dan pengembangan pesantren. Kontribusi tidak harus selalu berbentuk materi, tetapi dapat diwujudkan melalui tenaga, pemikiran, ilmu, doa, dan kesediaan untuk berkhidmat.
Dalam perjuangan tersebut, ia menekankan tiga prinsip utama yang perlu terus dipegang, yakni yakin, ikhlas, dan Istiqamah. Keyakinan menjadi landasan untuk memulai perjuangan, keikhlasan menguatkan langkah dalam menghadapi kesulitan, sedangkan istiqamah menjaga agar perjuangan tetap berlanjut meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Haul sebagai Momentum Mendoakan Guru
Kyai H. Muhammad Suhaidi juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada guru tidak cukup diwujudkan melalui peringatan haul setiap tahun. Kecintaan itu harus tercermin dalam kesungguhan meneruskan ilmu, menjaga akhlak, memelihara persatuan, serta mengamalkan nasihat dan teladan guru dalam kehidupan sehari-hari.
Pembacaan Al-Qur’an, selawat, zikir, tahlil, dan doa dalam rangkaian haul menjadi bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus mengenang jasa para ulama yang telah membimbing umat.
Ia berharap para alumni dan generasi penerus tidak hanya menjaga tradisi peringatan haul, tetapi juga memahami sejarah, keilmuan, dan perjuangan Maulana Syaikh. Karena itu, kegiatan keagamaan hendaknya menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, bukan untuk mempertajam perbedaan atau saling mencela.
Menurutnya, menjaga penghormatan kepada guru juga harus diwujudkan melalui sikap tertib, ketepatan dalam menyampaikan sejarah, serta penghargaan kepada para ulama dan tokoh yang telah berjasa.
Membangun Peradaban untuk Generasi Mendatang
Menutup sambutannya, Kyai H. Muhammad Suhaidi menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan memohon maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan.
Ia mengajak seluruh keluarga besar Nahdlatul Wathan, para alumni, dan masyarakat untuk terus mendukung pendidikan pesantren serta melanjutkan perjuangan para ulama secara berkesinambungan.
Menurutnya, perjuangan membangun peradaban tidak berhenti pada satu generasi. Perjuangan tersebut harus diteruskan dengan menyiapkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta mampu memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Peringatan Haul ke-29 TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat ikatan batin antara murid dan guru, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan tekad untuk meneruskan perjuangan melalui pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada umat.
Melalui semangat yakin, ikhlas, dan istikamah, nilai-nilai perjuangan Maulana Syaikh diharapkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.




