Penutupan PPKT Mahasiswa STAINDO Jakarta di SDI NAHDLATUL WATHAN JAKARTA

Penutupan PPKT Mahasiswa STAINDO Jakarta di SDI NAHDLATUL WATHAN JAKARTA

Setelah menjalani masa dua bulan PPKT di SDI Nahdlatul Wathan – Penggilingan, akhirnya, usai sudah ke-sepuluh mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia (STAINDO) Jakarta melaksanakan tugas praktik akademiknya tersebut. PPKT adalah Praktik Profesi Keguruan Terpadu, dan merupakan pembelajaran yang melulu praktik di sebuah sekolah yang ditunjuk oleh Laboratorium PPKT di STAINDO Jakarta. PPKT, yang dahulunya bernama KKN (Kuliah Kerja Nyata) ini memiliki scoring enam SKS, dan menjadi salah satu syarat keharusan sebelum dilaksanakannya wisuda.

Adapun ke-sepuluh mahasiswa tersebut adalah Muhammad Taufiq (Ketua Tim PPKT) , mahasiswa Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. Lalu, Nisa Khaerunnisa (Sekretaris Tim PPKT) dari Jurusan Pendidikan Agama Islam dan bendahara Yeni Erviyanti. Ada pula, Sebagai anggotanya : Deti Rohayati, Maylisan Maolana, Muhammad Nasrulloh, Abdul Rahman, Ramli Ahmad, Dewi Ayu Lestari, Siti Sopiah. Kesemuanya adalah jurusan Pendidikan Agama Islam.
Secara resmi, acara penutupan PPKT mahasiswa STAINDO Jakarta di SDI Nahdlatul Wathan ini ditutup dengan perhelatan secara sederhana, pada Sabtu, 8 Maret 2020 di Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jakarta.

Hadir dalam acara penutupan ini, Kepala Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jakarta Bapak H. Sofawi, S.pd, Wakil Kepala Sekolah Ustd Ma’sum Ahmad, S.pdi, dosen pembimbing PPKT dari STAINDO Jakarta yakni Ibu Liyanatul Qulub, Mpd. Tak ketinggalan, para guru dan staf SDI Nahdlatul Wathan Jakarta.
Mengawali sambutannya, Muhammad Taufiq selaku Ketua Tim PPKT STAINDO Jakarta menjelaskan, dirinya merasa banyak sekali dapat menimba ilmu pengetahuan khususnya teknik-teknik dalam praktik mengajar. “Tak terasa, dua bulan sudah kami lalui, dan banyak sekali manfaat yang kami peroleh selama PPKT ini. Tak hanya untuk urusan bagaimana menjadi seorang guru atau pengajar yang baik, tapi juga lebih dalam lagi, kami banyak belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum, penilaian, hingga kepada sosialisasi dan komunikasi antar guru kepada siswa, sesama guru, dan sebagainya,” kata Taufiq terus-terang.

Sementara itu, dosen pembimbing PPKT dari STAINDO Jakarta ketika memberikan sambutannya mengatakan, banyak-banyak berterima kasih kepada Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jakarta yang telah menerima, membimbing dan mengarahkan secara luar biasa kepada sepuluh mahasiswa peserta PPKT. “Terima kasih kami yang terhingga kepada Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jakarta, dan mohon maaf bila banyak kekurangan maupun yang telah dilakukan oleh para mahasiswa kami, selama mereka menjalankan PPKT. Mudah-mudahan, kerjasama antara Fakultas Tarbiyah STAINDO Jakarta dan Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jalarta dapat terus harmonis, langgeng dan saling memberikan banyak manfaat bagi kedua belah pihak,” ujar Ibu Liyanatul Qulub, Mpd.

Sedangkan Bapak H. Sofawi, S.pdi kepala sekolah SDI Nahdlatul Wathan jakarta, dalam sambutannya mengatakan, selama waktu dua bulan dengan menyelesaikan PPKT belumlah cukup untuk menjadikan para mahasiswa sekalian berprofesi sebagai guru yang baik dan profesional di sebuah sekolah.
“Masih banyak lagi yang musti harus diperdalam, digali dan dikembangkan. Sebab, meskipun Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jakarta ini dapat menjadi lahan PPKT, namun hanya terbatas pada bagaimana memberikan pembelajaran mengenai tata cara pengajaran saja. Belum kepada hal-hal yang berkaitan dengan pengabdian, atau pun juga penelitian,” ujarnya. Pak H. Sofawi, S.pdi juga menjelaskan bahwa untuk PPKT kali ini, adalah merupakan tahun pertama dari pelaksanaan PPKT mahasiswa semester akhir Fakultas Tarbiyah STAINDO Jakarta, yang memilih Sekolah SDI Nahdlatul Wathan Jakarta sebagai rujukan lokasi praktik terbaiknya.

Meski demikian, kata Pak H. Sofawi, S.pdi, waktu yang dua bulan ini tetap saja dapat menjadi modal penting sebelum kelak benar-benar terjun dan berprofesi menjadi seorang guru.
“Karena, dalam PPKT ini, yang paling harus dapat dipraktikkan adalah bagaimana menguasai diri sendiri dan mengendalikan kelas. Baru setelah itu, menyusul upaya yang keras untuk melakukan pembekalan, pendalaman materi dan wawasan tentang pembelajaran dan sebagainya,” jelasnya. (bayu sugara)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA