2. Maulana Syaikh Menceritakan Tentang Kewalian
Penulis dan para murid-murid/santri serta jama`ah NW, umumnya kompak dan sangat sepakat dengan mengatakan bahwa Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah sebagai seseorang Wali Allah. Hal ini, lantaran beliau sendiri, kadang-kadang yang memberitahukan dan menceritakan tentang hal ihwal kewalian itu. Dan beliau sendiri banyak menyebut keberadaan para wali Allah Subhanu wa ta`ala.
Dalam konteks topik ini, penulis sebelumnya pertegas bahwa bukanlah yang dimaksudkan bahwa Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung bercerita dengan mengatakan, saya adalah seorang Wali, tapi beliau menceritakan hal ihwal para wali yang datang ketika Hultah NWDI misalnya. Dan sering kami mendengar beliau sendiri bercerita pula bahwa setiap hari siang dan malam tamu-tamu dari kalangan rijal al-Ghaib selalu berdatangan mengunjunginya, namun tentunya bagi orang awam tak bisa melihatnya.
Selain itu pula, dengan sangat sering kali dalam pengajian rutinnya di Mushalla Al-Abror NW yang berada dekat dengan kediamannya, beliau Maulana Syaikh menceritakan tentang hal ihwal para wali Allah yang berdatangan. Apalagi menjelang kegiatan acara Hari Ulang Tahun Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (Hultah NWDI). Menurutnya, menjelang hari H, kegiatan Hultah NWDI misalnya, ribuan para wali datang hadir memenuhi undangan beliau untuk mengikuti dan meramaikan momentum hari ulang tahun tersebut. Dan rupanya, beliau mengundang para Wali itu hadir, seperti halnya mengundang pejabat negara atau tamu penting lain umumnya, yakni dengan membuat surat undangan resmi dan kirim secara resmi pula ke alamatnya masing-masing. Dan hebatnya, beliau tidak tanggung-tanggung dalam mengundang. Dimana, beliau mengundang para Wali dari seluruh dunia, sehingga jumlahnya yang datang hadirpun, tidaklah dalam jumlah puluhan atau ratusan orang. Tapi justeru, yang hadir adalah jumlah ribuan orang Wali Allah. Dan hal inipun, ada benarnya juga, karena memang beliau adalah imamnya mereka para Wali tersebut di zamannya itu.
Memerhatikan deskripsi ini, maka kita mendapatkan suatu kesimpulan yang menunjukkan bahwa beliau juga Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang Wali Allah Subhanu wa ta`ala. Dalam hal ini pun, penulis selalu kembali pada pernyataan yang sudah masyhur dalam tradisi Tasawuf bahwa “Hanya Wali Allah yang mengenal Wali Allah.” Dan ketika beliau banyak mengetahui hal ihwal para wali tersebut, maka kuatlah dugaan kita bahwa beliau juga adalah diantara mereka para wali Allah itu.
Untuk memperkuat argumentasi yang satu ini, penulis dapat mengungkapkan dokumen penting yang menjelaskan tentang hal ini pula. Dimana, menjelang Hultah NWDI ke-59 pada tahun 1995, pernah secara langsung tim dari wartawan Majalah Sinar Lima, NW DKI Jakarta mendapatkan kesempatan untuk wawancara eksklusif dengan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dan dalam wawancara eksklusif tersebut, tim wartawan Majalah Sinar Lima mengajukan salah satu pertanyaan menarik seputar kewalian, dengan pertanyaan seperti berikut ini;
“Ada kabar, Hultah kali ini, (Hultah NWDI ke 59) akan dihadiri oleh waliyullah?.
Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjawab dengan mengatakan;
”Ya. Pada hari Jumat lalu, (tanggal 14 Juli 1995), Saya di datangi oleh utusan Rijal al-Ghaib. Ia katakan bahwa ”Kami melihat kegigihan orang Nahdlatul Wathan. Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang seperti Nahdlatul Wathan rajinnya mendo`akan umat Islam, baik melalui pengajian maupun Hizibnya. Karena itu, kalau dulu kami mengirimkan 4000 Rijalul Ghaib dari seluruh dunia, sekarang akan ditambah menjadi 5000 orang. Bagaimanapun, kami kan orang Islam. Apakah kami tidak menghargai jasa orang NW itu?.”
Lebih lanjut, tim wartawan ‘Majalah Sinar Lima” mengajukan salah satu pertanyaan lagi dalam seputar kewalian juga, dengan mengatakan;
“Apakah mereka datang dari dulu, semenjak Hultah NWDI pertama?.
Sebagai jawaban Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seperti berikut ini;
“Ya. Tapi tidak banyak. Kadang-kadang 25 orang atau lebih. Sekarang saja mereka telah mulai menjaga arena Hultah, 150 orang tiap hari Jumat. Untuk Hultah nanti (Hultah NWDI ke-59) mereka akan di pimpin oleh Sayyid Lukamanul Hakim”.
Memerhatikan dokumentasi diatas, maka sangatlah jelas tentang keberadaan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sebagai Wali Allah. Dan cerita beliau mengenai kedatangan tamu dari para Rijal al-Ghaib, tentunya tidak hanya waktu ada kegiatan Hultah NWDI saja.
Namun, kebiasaannya yang secara massif para wali Allah itu berdatangan, ketika Hultah NWDI tersebut, sampai ribuan berdatangan dan ikut serta berkumpul dalam acara tersebut. Dan menurut beliau, setiap hari, siang dan malam, tamu-tamu dari kalangan Wali Allah selalu berdatangan mengunjunginya secara ghaib, sehingga orang awam tak bisa melihatnya. Barangkali karena itulah, Wali Allah itu selama lebih dari 10 tahun tidak tidur.
Dalam sebuah dokumen dalam bentuk kaset, termuat rekaman langsung yang sangat jelas dan terang sekali tentang isi ceramah Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang disampaikan dalam sebuah pengajian menjelang Hultah NWDI tahun 1982 yang menjelaskan tentang bagaimana kewalian itu. Salah satunya adalah penyebutan datangnya Syaikh Maulana Malik Ibrahim di Pengkores dan ucapan terima kasihnya Beliau sendiri (Maulana Syaikh) kepada Maulana Malik Ibrahim. Dan hal inipun, telah termuat juga dalam buku karyanya Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang berjudul, “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru.”
Syaikh Maulana Malik Ibrahim di Pengkores
Syaikh Maulana Malik Ibrahim, merupakan seorang Wali Songo yang paling senior dari para wali lainnya. Beliau berasal dari Persia dan datang menyebarkan Islam di Pulau Jawa pada tahun 1339 M dan disebut menyebarkan Islam di Tanah Jawa selama 20 tahun. Dan beliau wafat di Gersik, Jawa Timur pada tahun 1419 M.
Berikut ini, dalam bait Syair Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru berikut ini, guru besar kita Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyebutkan keberadaan Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang pernah bermukim di Pengkores (Gunung Rinjani) yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ungkapan bait Syair Wasiat tersebut, mengatakan sebagaimana berikut ini;
”Wali Songo Malik Ibrahim
Sentral da’wahnya pernah bermukim
Beberapa waktu di Pengkores intim
Suku sasak Islamnya salim”.
Ungkapan bait syair Wasiat tersebut diatas ini, rupanya makin mempertegas pernyataan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebelumnya yang menyebut nama Maulana Malik. Dalam hal ini, tidaklah meleset bahwa yang dimaksudkan adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Dan dalam rekaman pengajiannya, beliau sempat menjelaskan secara runut keberadaan Wali Songo yang memiliki arti kelompok ulama penyebar agama Islam di pulau Jawa. Disebut Wali Songo, sebab mereka berjumlah sembilan orang. Songo dalam bahasa Jawa, berarti Sembilan dan wali artinya ulama yang tinggi derajatnya.
Khusus untuk Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang berdakwah menyebarkan agama islam di tanah Jawa selama 20 tahun lamanya, terkenal gigih dan tekun. Sasaran dakwahnya menyeluruh, mulai dari kalangan bawah sampai bangsawan. Dan satu hal yang penting tercatat dalam mengembangkan dakwahnya adalah dengan mendirikan Pondok Pesantren. Selain itu, untuk Maulana Malik Ibrahim terkenal sebagai seorang da`i yang pandai menyesuaikan diri dengan masyarakat, sehingga dakwahnya dengan mudah diterima. Ketika berdakwah, beliau tidak pernah menyakiti rakyat dan tidak pernah meresahkan rakyat, sehingga beliau tidak pernah mendapatkan perlawanan yang keras, baik dari kalangan masyarakat biasa ataupun penguasa. Beliau memang tidak dapat mengajak para pembesar kerajaan untuk memeluk agama Islam, tetapi mereka tidak menghalangi dakwahnya.
Selanjutnya, penjelasan yang termuat dalam bait Syair Wasiat diatas, tentu mengungkapkan pada kita dengan jelas lagi tentang bantuan syaikh Maulana Malik Ibrahim kepada guru besar kita; Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dimana beliau menyebutkan bahwa sentral atau pusat dakwahnya Syaikh Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim beberapa waktu di sebuah tempat bernama Pengkores. Tempat ini beliau jadikan sebagai pijakan atau pangkalan dakwah dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok yang akhirnya sukses mejadikan suku Sasak di pulau ini menganut Islam yang salim (selamat).
Dan sebagaimana yang tertuang dalam bait Syair Wasiat diatas, penulis temukan sebuah dokumen dalam bentuk rekaman ceramah guru besar kita; Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang disampaikan pada tahun 1980, menjelang Hultah NWDI ke 45. Dalam ceramah pengajian menjelang Hultah tersebut, beliau menceritakan dengan jelas tentang sentral dakwahnya Wali Songo Maulana Malik Ibrahim di Pengkores tersebut. Dan diawalnya, beliau menjelaskan pula tentang arti Pengkores itu.
Untuk lebih jelasnya, penulis akan mencoba meringkas secara umum isi kandungan ceramah pengajian Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tentang Pengkores tersebut berikut ini;
” Pengkores itu dari kata Quraisy yang artinya berani. Dalam hal ini, berani menjadikan orang-orang untuk beragama dengan agama yang dibawa oleh orang Quraisy, yaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallaahu `alaihi wa sallam.”
Dan lebih lanjut, dijelaskan bahwa Penkores itu sebuah tempat di Gunung Rinjani yang dijadikan sebagai sentral atau pusat pijakan dakwahnya al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan para wali lainnya dalam penyebaran Islam di Pulau Lombok. Dan di Pengkores ini didirikan sebuah masjid yang dijaga oleh seorang marbot (penjaga masjid) banci yang memiliki nama samaran Marang. Sedangkan nama aslinya adalah Amir bin Mukhtar. Para wali itu melakukan shalat fardhu di masjid penkores tersebut, minimal satu kali dalam sehari.
Jadi Penkores ini, sebuah masjid yang ada puncak Gunug rinjani yang dijadikan sebagai pangkalan dakwahnya, setelah selesai keliling melakukan safari dakwah ke berbagai pelosok daerah Lombok. Dan menurut Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, mereka dengan mudah saja bolak balik, karena mereka adalah para wali tingkatan afdhal yang telah diberikan karomah oleh Allah Subhanahu wa ta`ala. Dimana bagi mereka itu dunia itu, berada dibawah langkahnya, sekali jalan, set… set… set…dengan cepat sampai tujuan”.
Terima Kasih Maulana Malik Ibrahim
Pada bait syair Wasiat berikut ini, kita mencoba cermati lagi pernyataan Guru Besar kita Sulthaanul Aulia al-`Aalim al-`Allamah al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang banyak berterima kasih pada al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim, seorang wali senior yang menyebarkan Islam di tanah Jawa pada tahun 1392 M dan wafat di Gersik pada tahun 1419 M.
Dalam konteks ini, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyebut al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim itu, sebagai seseorang yang banyak memberikan jasa dan kontribusi pada beliau dalam bentuk bantuan hiburan nyata. Untuk lebih jelasnya, dapat kita perhatikan gubahan bait syairnya tersebut dengan mengatakan;
.”Maulana Malik banyak berjasa
Memberi bantuan hiburan nyata
Terima kasih berjuta-juta
Wasysyukrulahu abadan abada”.
Memerhatikan data kongkrit seperti ini, maka bagi para murid dan jama`ah Nahdlatul Wathan, sepertinya tidak pernah meragukan lagi kewalian dari sang maha guru, yaitu Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Pada bait Syair diatas ini, merupakan bukti dan indikator kuat atas kewaliannya. Dimana keberadaan beliau itu, menurut alamnya selalu bertemu dengan al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan merasa banyak dibantu dalam bentuk hiburan.
Dalam konteks ini, mungkin saja beliau merasakan sekali beratnya tugas dakwah menyampaikan risalah Allah Subhanahu wa ta`ala dan Rasul-Nya di tanah Selaparang Lombok. Tentunya berbagai macam ujian, cobaan dan tantangan dakwah, silih berganti menyelimuti perjuangannya. Lalu, ketika itulah sang waliullah Syaikh Maulana Malik Ibrahim datang menghampiri memberikan hiburan nyata. Dan tentu hal ini, lumrah adanya sebagai bentuk motivasi perjuangan, sehingga kita dapat memerhatikan lagi pernyataan beliau yang mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan mengatakan; ”Terima kasih berjuta-juta, wasyukrullahu abadan abada (bersyukur kepada Allah selama-lamanya).
Ketika kita membaca nama al-Syaikh Maulana Malik pada bait syair wasiat diatas, sepertinya tidak meleset untuk kita menyebut Syaikh Maulana Malik Ibrahim, seorang Wali Songo senior dan termasuk salah seorang wali dan ulama yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Seorang ulama pengembara. Dan beliau adalah yang memiliki nama lengkap Maulana Malik Ibrahim atau al-Syaikh Makdum Ibrahim As-Samarkandy yang diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Dan dalam Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Bagi al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai al-Syaikh Maghribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Beliau bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Untuk Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad shallallaahu `alaihi wa sallam.
Dalam sejarahnya juga disebutkan bahwa al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Beliau malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra, yaitu Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan al-Syaikh Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M, al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyebutkan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali, adalah desa Sembalo, suatu daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari utara kota Gresik.
Sebagai aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok setiap hari yang dijualnya dengan harga murah. Selain itu secara khusus, al-Syaikh Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai seorang tabib (ahli pengobatan), kabarnya pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Dalam konteks ini, ada indikasi tentang besar kemungkinan isteri raja tersebut masih kerabat dari istrinya juga.
Selain itu, Kakek Bantal juga mengajarkan masyarakat tentang tata cara-cara baru bercocok tanam. Rupanya, beliau bisa merangkul masyarakat bawah kasta yang disisihkan dalam agama Hindu.
Dalam konteks ini, maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M, al-Syaikh Maulana Malik Ibrahim wafat. Dan makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
Dan pada kesimpualnnya, dalam buku karyanya Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang berjudul “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, di dalamnya banyak sekali mengupas persoalan Rijalul Ghaib ataupun soal-soal kewalian. Dalam bait syair berikut ini, dapat kita perhatikan petikannya.
“Rijalulghaib utusan Quddus
Hanya menyuruh berbuat bagus
Atau membisik secara halus
Agar insani selalu tulus
———-
Rijalul ghaib tidak mengajar
Supaya orang berkurang-ajar
Yang suka menyuruh kerjakan mungkar
Rijalul’aib Dajjalul-mungkar.”




