Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta menggelar Salat Iduladha 1447 H dengan penuh khidmat pada Rabu, 27 Mei 2026, bertepatan dengan 10 Zulhijah 1447 H. Kegiatan tersebut dihadiri para jamaah, alumni, masyarakat sekitar, serta santri mukim pesantren.
Bertindak sebagai khatib, Dr. H. Miftahuddin, LC., MA menyampaikan khutbah yang sarat pesan keimanan, pengorbanan, dan kesabaran dalam menjalankan syariat Allah SWT.
Dalam khutbahnya, beliau menyoroti persoalan antrean panjang ibadah haji di Indonesia yang saat ini bahkan mencapai puluhan tahun. Menurutnya, tibanya antrean haji merupakan bagian penting dari istitha’ah atau kemampuan menunaikan haji.
“Bagi mereka yang antrean hajinya belum tiba, maka belum wajib melaksanakan ibadah haji. Karena ibadah haji dilakukan di tempat dan waktu yang terbatas, maka antrean menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari,” jelasnya di hadapan jamaah.
Beliau juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri berangkat haji dengan cara-cara yang tidak benar atau tidak terhormat. Sebaliknya, umat Islam diminta memperkuat kesabaran, meluruskan niat, memperbanyak doa, dan melakukan persiapan yang matang sambil menunggu giliran keberangkatan.
Dalam penjelasannya, Dr. Miftahuddin mengaitkan kondisi tersebut dengan kisah para sahabat yang tidak ikut dalam Perang Tabuk karena memiliki uzur syar’i, namun tetap mendapatkan pahala jihad sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Khutbah kemudian berlanjut pada kisah agung pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dengan penuh penghayatan, khatib menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim diuji oleh Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya sendiri.
Beliau menerangkan bahwa ujian tersebut bukan sekadar tentang penyembelihan, melainkan ujian keimanan dan kesanggupan mengalahkan ego serta hawa nafsu demi menaati perintah Allah SWT.
“Target sesungguhnya bukan kematian Nabi Ismail, tetapi bagaimana Nabi Ibrahim mampu memenangkan imannya dan mengalahkan egoismenya,” ungkapnya.
Khatib juga menegaskan bahwa ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT, maka Allah mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan seekor kibasy yang besar sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ash-Shaffat.
Selain itu, dalam khutbahnya beliau turut menyinggung perkembangan teknologi modern seperti robotik, big data, kecerdasan buatan (AI), dan ChatGPT yang kini semakin mendominasi kehidupan manusia. Menurutnya, kemajuan sains dan teknologi tidak boleh membuat manusia melupakan nilai-nilai religius dan ketergantungan kepada Allah SWT.
“Manusia jangan sampai menjadikan sains dan teknologi sebagai tuhan baru dalam kehidupan,” pesannya.
Di akhir khutbah, Dr. Miftahuddin mengajak umat Islam untuk menghidupkan sunnah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan pengorbanan kepada Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa ibadah kurban merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu.
Beliau juga mengimbau para pekurban agar menyaksikan langsung penyembelihan hewan kurbannya serta mendistribusikan daging kurban kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan.
Pelaksanaan Salat Iduladha di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta berlangsung dengan lancar. Jamaah tampak mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai sambil mempererat silaturahmi antarwarga pesantren, alumni, dan masyarakat sekitar.




