SinarLIMA:
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat malam, Pak Direktur. Sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PW NWDI) DKI Jakarta, bisa dijelaskan apa saja program terdekat yang akan segera dilaksanakan oleh organisasi? Mengingat pergerakan NWDI ini mencakup banyak lini, mulai dari pendidikan, sosial, dakwah, hingga ekonomi keumatan.
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Ya, benar sekali. Pergerakan kita memang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan ekonomi keumatan. Namun, dalam konteks dakwah saat ini, salah satu program unggulan utama kita di DKI Jakarta adalah penyebaran Hizib Nahdlatul Wathan secara masif ke tengah masyarakat.
Untuk menyukseskan program ini, kita sengaja membentuk struktur pengurus khusus yang bernama Majelis Hizib Nahdlatul Wathan Jabodetabek. Sayap organisasi inilah yang bertanggung jawab penuh, mulai dari mengondisikan tempat-tempat keliling (roadshow) hingga mendata jemaah. Alhamdulillah, gerakan jemput bola ini sudah berjalan konsisten selama 2 tahun. Bahkan kemarin pada momentum Idul Adha, setelah mengikuti kegiatan kurban di Pondok Ampara NW Cinere, jemaah langsung melaksanakan pembacaan Hizib secara berjemaah di lokasi tersebut.
SinarLIMA:
Luar biasa. Lalu, untuk agenda terdekat di bulan Juni 2026 ini, ke mana arah pergerakan Majelis Hizib selanjutnya, Pak Kyai?
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Nah, dari evaluasi kemarin di Cinere, saya selaku pimpinan wilayah memberikan arahan agar seluruh lokasi berhizib di Jabodetabek didata dan dijadwalkan secara rapi setiap bulannya. Untuk agenda terdekat pada hari Sabtu, 6 Juni 2026, pengurus sudah sepakat akan menggelar pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan di Masjid Baiturrahim Koramil 02 Matraman, Jakarta Timur.
Saya sampaikan kepada seluruh pengurus bahwa lokasi Matraman ini sangat strategis. Tempat itu berada di tengah jantung ibukota, titik lalu lalang masyarakat yang hendak menuju pusat Jakarta. Jadi, terserah mau dibuat judul “Matraman Berhizib” atau apa, yang jelas tujuannya agar lantunan bait-bait doa Hizib Nahdlatul Wathan ini menggema dan didengar oleh masyarakat luas di ibukota.
Sedangkan untuk program ekspansi wilayah, insyaallah dalam waktu dekat ini, kita juga akan meresmikan satu basis majelis tetap baru di wilayah Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Tepatnya di kediaman Bapak Drs. H. Ahmad Yani. Tempat itu akan resmi kita kukuhkan dengan nama Majelis Nahdlatul Wathan Ahmad Lutfiah, yang diambil dari nama sohibul wilayah (Bapak Ahmad Yani) dan istrinya. Majelis tetap berskala wilayah seperti ini nantinya akan berdiri di berbagai tempat, namun tetap berada di bawah koordinasi penuh Majelis Hizib pusat.
SinarLIMA:
Terkait fungsi spiritual, sejauh mana urgensi pembacaan Hizib ini, terutama dalam menjaga kondisi iman dan hidayah umat di era modern saat ini?
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Prinsip dasar yang selalu saya tekankan setiap kali memimpin majelis adalah: berhizib itu intinya adalah berzikir dan berdoa. Hizib ini adalah kumpulan doa. Ketika kita melantunkan huruf-hurufnya dari awal sampai akhir, esensinya adalah zikir kepada Allah.
Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa dengan zikir, hati sanubari kita akan menjadi tenang dan damai. Ini adalah konsep konkret beragama Islam dalam mencari kebahagiaan sejati. Saya sering membuat analogi, masyarakat modern yang tidak memiliki konsep ketenangan spiritual yang jelas, mereka sering mencari kebahagiaan dengan pergi ke pinggir pantai untuk menenangkan pikiran (refreshing). Islam tidak melarang hal tersebut, itu perkara mubah. Baginda Rasulullah SAW sendiri menyarankan untuk mengistirahatkan hati (rahatul qulub).
Namun, Islam menawarkan cara yang jauh lebih konkret dan bernilai ibadah, yaitu dengan zikir. Hizib karya Guru Besar kita (Al-Magfurulah Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) ini adalah warisan fenomenal yang sangat relevan dengan kebutuhan manusia modern. Ritme dan seni membacanya membuat para pengamalnya merasa enjoy, bersemangat, dan sama sekali tidak monoton.
SinarLIMA:
Melihat antusiasme jemaah selama 2 tahun ini, banyak yang rela datang dari tempat jauh, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya sendiri demi menghadiri Majelis Hizib keliling ini. Menurut pandangan Anda, apa rahasia di balik militansi jemaah ini?
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Pertama, tentu karena ini adalah panggilan jiwa. Jemaah merasakan adanya kebutuhan spiritual yang terpenuhi. Kedua, di dalam Majelis Hizib ini terbangun ikatan silaturahmi dan kekeluargaan yang sangat kuat. Di sana tidak hanya sekadar membaca doa, tetapi juga menjadi wadah konsolidasi organisasi. Setelah berhizib, biasanya kita adakan ramah tamah, pencerahan agama, diskusi perjuangan, hingga bertukar pikiran sesuai profesi masing-masing—ada yang bahas pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Semua menyatu tanpa sekat.
Selain itu, secara strategis, Hizib ini memiliki keunikan tersendiri. Lagu atau irama bacaan Hizib NWDI memiliki ciri khas yang berbeda dengan majelis lain. Ketika kita kompak membaca bersama-sama dalam jumlah banyak, masyarakat umum yang melihat pasti akan tertarik dan bertanya, “Itu sedang membaca apa? Karya siapa?” Dari sanalah pintu dakwah dan perkenalan organisasi kita terbuka lebar. Jadi, strateginya memang harus ‘jemput bola’ dengan keliling mendatangi tempat-tempat jemaah. Kalau kita pasif dan diam saja, gerakan dakwah ini akan monoton.
SinarLIMA:
Sebagai sebuah pegangan hidup, energi spiritual seperti apa yang sebenarnya ditanamkan di dalam Hizib ini agar pengurus dan jemaah tetap kuat menghadapi tantangan zaman?
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Kekuatan terbesar dari Hizib ini ada pada kekuatan doa. Melalui untaian doa di dalamnya, ada energi besar yang menggiring kita untuk selalu bersikap optimis dalam hidup, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.
Ini yang penting saya sampaikan: kita harus berhati-hati jangan sampai terjebak pada paham Jabar (Jabariyah) yang fatalistik. Paham yang membuat orang pasrah total pada nasib tanpa mau berikhtiar. Misalnya berkata, “Saya miskin sudah nasib, saya bodoh sudah nasib, saya sakit tidak perlu ke dokter karena sudah nasib.” Itu pemikiran yang salah dan fatal dalam kehidupan!
Islam mengajarkan kita untuk berjuang, dan doa adalah bagian integral dari ikhtiar itu sendiri. Di dalam Hizib, ada doa ‘Bulugul Maqasid’—kita meminta kepada Allah agar tujuan, cita-cita, dan rencana hidup kita disampaikan dan dikabulkan. Dengan rajin berhizib, problem kehidupan pengamalnya akan terurai, mentalnya menjadi kuat, dan dia akan selalu optimis melangkah ke depan menghadapi segala tantangan.
SinarLIMA:
Sebagai pertanyaan penutup, Pak Direktur, bagaimana Anda melihat fungsi dan peran media internal kita, SinarLIMA, dalam menyokong program dakwah dan penyebaran Hizib ini ke depan?
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Peran media SinarLIMA ini sangat, sangat strategis. Media adalah sayap syiar perjuangan kita. Kita memublikasikan kegiatan ini bukan untuk kesombongan atau pamer, melainkan agar dakwah Islam dan program unggulan dari PW NWDI Jakarta ini diketahui luas oleh umat.
Tanpa media, kegiatan penting yang bernilai besar ini akan tertutup, tidak ada orang yang tahu, dan tidak ada yang mendukung. Dengan adanya pemberitaan dari SinarLIMA, informasi dakwah ini tersampaikan kepada masyarakat luas. Orang-orang yang membaca menjadi tertarik dan akhirnya tergerak hatinya untuk ikut bergabung dengan kita.
Dalam kaidah agama, siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya. Di sinilah peran mulia media kita: sebagai instrumen penguatan dakwah sekaligus jembatan pelipat ganda pahala perjuangan. Saya yakin SinarLIMA akan terus menjadi pilar strategis dalam menyebarkan program-program keumatan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Terima kasih.
SinarLIMA:
Terima kasih banyak atas waktu, pencerahan, dan jawaban yang sangat luar biasa ini, Pak Direktur. Semoga perjuangan dan cita-cita luhur NWDI senantiasa mendapatkan pertolongan, rida, dan keberkahan dari Allah SWT. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Dr. H. Muslihan Habib, MA:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Amin, amin, ya Rabbal alamin





