PERESMIAN PANTI ASUHAN NAHDLATUL WATHAN GABUS GEDONG BEKASI JAWA BARAT

PERESMIAN PANTI ASUHAN NAHDLATUL WATHAN GABUS GEDONG BEKASI JAWA BARAT

 

Bekasi, 19 Oktober 2019.

 

Alhamdulillah, atas izin dan pertolongn Allah SWT melalui hamba-hambanya yang istiqomah dalam menjalankan amanah Maulana Asy-Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid melalui perjuangan Nahdlatul Wathan telah selesai tahap pembangunan Asrama Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Bekasi Jawa Barat yang diprakarsai oleh Pengurus Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus Bapak Sanin bserta jama`ah dan para alumni sekaligus diresmikan oleh Ketua Yayasan Mi`rajus Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta Bekasi Drs. TGKH Muhammad Suhaidi, SQ.

Acara peresmian dan tasyakuran atas selesainya pembangunan Panti Asuhan tersebut diawali dengan pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan yang dipimpin oleh salah satu Kader Pejuang Nahdlatul Wathan Gabus Bekasi Ustadz Bayu Sugara, dilanjutkan oleh Ketua Pusat Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta Ustadz Muhammad Suruji, dan Pengurus IANW Jakarta Cabang Bogor Ustadz Ujang Supriyatna serta ditutup pembacaan Asmaul Husna dan do`a yang dipimpin oleh Kepala Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta Ustadz H. Miftahuddin, Lc. M.Ag.

Acara yang dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ. Dalam sambutannya, beliau merasa bersyukur dan sangat bahagia karena malam ini beliau dapat berjumpa dengan anak-anaknya para alumni Panti Asuhan dan Lembaga-Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang tesebar di mana-mana.

Acara yang dihadiri oleh para sesepuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur pemerintahan, para asatidz, jama`ah, dan para alumni yang datang dari berbagai wilayah di Bekasi seperti Kampung Gabus, Kampung Pulo Puter, Tambun, Kampung Turi, Pulo Kukun, Blagedor, Mura Gembong, Jakarta bahkan Bogor.

Serta para pejuang agama Allah SWT, yang sedang menjalankan amanah, mengingatkan ajaran islam dari satu masjid ke masjid lainnya (Jama`ah Tabligh) ´´yang kalau saya diminta berpakaian seperti mereka saya tidak mampu, inilah pakaian islam, inilah penampilan islam dan mereka adalah saudara-saudra kita“. Lanjut beliau (TGKH Muhammd Suhaidi, SQ.)

Dalam sambutannya, beliau menyampikan bahwa acara malam ini yang pertama Tasyakuran Atas Selesainya Pembangunan Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Bekasi, dan yang kedua silaturrahmi para Alumni.

Di awal sambutannya, beliau meminta kepada seluruh Alumni untuk menggemakan Mars Nahdlatul Wathan, karena beliau meyakini karya Sang Maulana ini sangat luar biasa bahkan sambil mengenang dan becerita dalam proses akreditasi SMA Nahdlatul Wathan yang beberapa waktu berlangsung dibuka dan disambut oleh Syair Mars Nahdlatul Wathan, salah satu Asesor yang merupakan seorang Pendeta mengatakan ´´jika isinya diamalkan oleh seluruh manusia maka bangsa dan negara ini akan aman, damai dan sejahtera“. Bahkan Asesor tersebut meminta untuk ditampilkan kembali Syair tersebut diacara penutupan bahkan beliau diberikan teksnya dan dibawa pulang. Atas dasar itulah TGKH Muhammad Suhaidi, SQ meminta kepada para alumni sebelum sambutan beliau dilanjutkan Alumni diminta berdiri dan melantunkn syair Mars Nahdlatul Wathan untuk menimbulkan dan membangkitkan semangat para pejuang Nahdlatul Wathan.

Di dalam berjuang lanjut beliau, akan ada godaan. Maka, disinilah jiwa para pejuang kembali dibangkitkan oleh beliau dengan mengibaratkan bahwa para alumni Nahdlatul Wathan yang pertama harus Marfu` menjadi baris depan. Menjadi garda terdepan dalam berjuang. Marfu` ini tingkatan tertinggi dalam mengibartkan semangat para pejuang yang terus berjuang menegakan ajaran agama islam melalui perjuanga Nahdlatul Wathan di mana saja berada sesuai kemampuan dan cara masing-masing.

Kedua, mansub (baris atas) Jiwa pejuang yang mansub ini masih harus dipertahankan. Kecintaan terhadap perjuangan Nahdlatul Wathan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai kemampuan dan masih ada keinginan untuk memperjuangankan perjuangannya meskipun tidak secara langsung dalam berjuang. Seperti cukup bercerita terkait Nahdlatul Wathan di manapun terhadap siapapun.

Ketiga, majrur (baris bawah) Alumni yang memiliki type pejuang majrur ini harus terus dirangkul dan diingatkan. Jangan menjadi Pejuang yang ke empat yaitu Majzum (sukun/mati) tidak ada gairah dan hasrat dalam berjuang bahkan beliau mengatakan bahwa pejuang yang seperti ini sudah tidak lagi peduli bahkan menjelek-jelekan perjuangannya sendiri sehingga mereka pantas disebuat sebagai pejuang yang Majzum yaitu pejuang yang mati. Namun demikian, dengan kecintaan beliau kepada ana-anaknya meskipun ada yang memiliki type pejuang yang Majzum beliau tetap mengingatkan bahwa Majzum lebih baik diam.

Beliaupun berpesan kepada para alumni khususnya, ´´Jangan malu bertemu dengan saya karena alasan tidak bawa apa-apa. Bapak lebih senang kalian menceritakan perjuangan Nahdlatul Wathan, itu sudah seperti kalian memberikan dunia ini dan seisinya, saking senangnya bapak (panggilan sayang anak-anaknya) mendengar perjuangan perkembangan Nahdlatul Wathan.”

´´Murid membanggakan guru itu biasa dan sudah sewajarnya, yang membanggakan jika guru membanggakan murid-muridnya. Artinya jika guru meridhoi perjuanganmu, jadilah kamu“. Sambung beliau.

Beliau pun bepesan agar mengambil pelajaran dari seekor kuda, dicambuk, dipukul, tapi dia tetap berjalan dan selamat sampai tujuannya.

Di akhir sambutannya, beliau mendoakan seluruh jama`ah, seluruh pejuang Nahdlatul Wathan, Para Alumni dan semua yang terkait dengan Nahdlatul Wathan mudah-mudahan diberikan keberkahan oleh SWT.

´´Uje“

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA