Pembacaan Hizib Seperti Ini Yang Harus Diistiqomahkan.

Pembacaan Hizib Seperti Ini Yang Harus Diistiqomahkan.

Lantunan suara Hizib para siswa menyejukkan suasana pagi lingkungan komplek Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta, serta menyentuh relung hati para pembacanya.

Pagi-pagi sekitar pukul 06:40 menit para siswa sudah mulai mengatur shaf untuk melaksanakan shalat duha di tengah lapangan yayasan Mi’rajush Nahdlatul Wathan Jakarta.

“Sawwu Syufufakum fainna taswiyatasysyufuf min tama mishshalat” suara Ust.Sugi. memberikan arahan untuk meluruskan dan merapatkan shaf shalat.

Seluruh siawa dari SD, SMP, dan SMA Bersama-sama melaksanakan shalat duha, kemudian ditutup dengan pembacaan doa shalat duha, sebagai penghantar untuk memulai pembacaan Hizib.

Kali ini, pembacaan Hizib dipimpin oleh Muzakki Wahdi dan Syamsul Anwar siswa SMA kls 10 IPS.

Dengan suara khas yang mereka punya, mampu menjadikan pembacaan Hizib menjadi lebih khidmat dibanding dengan hari-hari sebelumnya.

Kekhusyuan dalam pembacaan Hizib kali ini terlihat jelas dari raut muka dan kondusifitas ketika proses pembacaan Hizib berlangsung.

Apalagi melihat antusias siswa SD kelas unggulan yang begitu semangat dalam membaca, suaranya serempak dan mukanya penuh keceriaan. Mewarnai Khidmatnya Hiziban hari ini (1/11/2019).

Saya merasakan Hiziban hari ini jauh lebih khidmat dibanding kemarin. Jelas dika fauzi siswa kelas Xl IPA menceritakan perasaannya ketika Hiziban.

Bahkan dari pengunjung yang sengaja ingin melihat pesantren NW Jakarta Roslihadi el banoki dan kawan-kawan dari lombok, merasa sangat terkesan ketika mendengarkan pambacaan Hizib. “Kuat sekali anak-anak itu duduk lama dalam membaca Hizib, suaranya serempak, kedengarannya enak.”

Farhan el hanani pengunjung di pesantren NW Jakarta mengatakan “Masih ada anak-anak kecil di zaman gejet sekarang ini, kuat duduk membaca doa ber jam-jam (Berhizib).

“Hiziban yang seperti ini harus terus dilaksanakan, bahkan kalau bisa ditingkatkan kualitas pelaksanaannya biar lebih khidmat dari ini. Karena dalam agama, kita disuruh untuk berusaha menjadi lebih baik. Jangan puas dengan kebaikan yang sudah ada.” Jelas Supawan S.IKom. salah satu pengunjung dari lombok timur. (fathi)

Moga Manfaat

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA