Kisah Perjalanan Rasulullah Untuk Berjumpa Dengan Allah SWT

Kisah Perjalanan Rasulullah Untuk Berjumpa Dengan Allah SWT

Sidratul muntaha adalah nama sebuah pohon yang tumbuh di langit ke enam, tetapi menjulang hingga langit ke tujuh…

hanya Rasulullah saw yang bisa melewati sidratul muntaha tersebut.

Dinamakan Sidratul Muntaha karena segala yang Naik dari Bumi berakhir di sana, lalu ditahan. Begitu pula segala yang diturunkan dari atas akan berakhir di sana. Pohon ini di yakini menjadi Penanda Akhir dari Langit dan menjadi Penanda Batas dimana Makhluk tidak dapat Melewatinya.

Hanya Rasulullah Saw yang bisa melewati Sidratul Muntaha tersebut.

Sebelum Bertemu Dengan Allah Swt, Rasulullah Saw berkeliling di Surga dengan ditemani Malaikat Jibril As.

Ketika Rasulullah Saw berjalan-jalan di Surga, tiba-tiba ada Sungai yang pinggirnya berupa Kubah dari Mutiara Berongga.

Rasulullah Saw pun Bertanya :
“Apa ini, wahai Jibril?”.

Jibril menjawab :
“Inilah Al-Kautsar yang Allah berikan untukmu”.

Ternyata Tanahnya aroma wanginya terbuat dari Minyak Misk Adzfar.

Kemudian Rasulullah Saw Melihat pada Pintu Surga Tertulis :
“Pahala Sedekah dibalas 10x lipat, sedangkan Memberi Hutang dibalas 18x lipat”.

Rasulullah Saw pun Bertanya :
“Wahai Jibril, mengapa orang yang memberi Hutang lebih Utama daripada Sedekah?”.

Jibril menjawab :
“Karena orang yang meminta, (Secara umum) dia itui meminta, sedangkan dia sendiri dalam keadaan mempunyai harta. Sedangkan orang yang berhutang, ia tidak akan berhutang kecuali dalam keadaan butuh.”
(Sunan Ibnu Majah : 2422)

Kemudian Rasulullahi Saw melanjutkan perjalanannya dan Melihat ada beberapa Sungai. Sungai itu terbuat dari Susu yang rasanya tidak akan berubah.

Setelah berjalan-jalan di Surga, Rasulullah Saw juga diajak untuk melihat-lihat Neraka.

Dikisahkan, bahwa tidaklah Nabi Melihat sesuatu di Neraka kecuali hanya Kemarahan, Kemurkaan dan Siksaan Allah.

Dan seandainya Batu ataupun Besi dilemparkan kesana, niscaya akan hancur berkeping-keping.

Disana Rasulullah Saw Melihat suatu kaum yang memakan bangkai. Ketika ditanya siapa mereka, Malaikat Jibril menjawab :
“Mereka adalah orang-orang yang suka memakan bangkai Manusia (Ghibah)”.

Kemudian Rasulullah Saw juga melihat Malaikat penjaga Neraka.

Dikatakan, Malaikat tersebut Berwajah masam, menyeramkan dan tidak terlihat di wajahnya kecuali kemarahan.

Rasulullah Saw pun mengucapkan Salam kepadanya, namun Pintu Neraka itu langsung ditutup tanpa Rasulullah Saw masuk ke dalamnya.

Ketika Rasulullah Saw dan Malaikat Jibril melewati Sidratul Muntaha yang diliputi oleh Awan yang di dalamnya memancar Kilauan Cahaya yang berwarna-warni, maka Malaikat Jibril memilih untuk mengundurkan diri dan membiarkan Nabi Saw Berjalan sendiri.

Mengetahui hal itu, Nabi pun berkata kepadanya :
“Ya Jibril, jangan tinggalkan aku seorang diri”.

Malaikat Jibril menjawab :
“Tidak ada Daya dan Kekuatan bagi kami, sebab Dia (Allah) Memiliki tempat tertentu dan khusus yang tidak bisa kami lalui”.

Malaikat Jibril pun akhirnya mencoba berjalan bersama Rasulullah Saw…Namun tidak lama kemudian, Malaikat Jibril hampir terbakar oleh Pancaran Keagungan, dan Kemuliaan Cahaya itu.

Akhirnya, Rasulullah Saw pun Mi’raj (Naik)k sampai ke sebuah tingkatan.

Disana, Beliau Melihat ada seorang laki-laki yang dinaungi Cahaya Arsy Milik Allah Swt.

Kemudian Rasulullah Saw Bertanya :
“Siapakah itu? Apakah dia Malaikat?”.

Dikatakan : “Tidak”.

Rasulullah Bertanya lagi :
Apakah dia adalah Nabi?”.

“Tidak”.

“Lalu, siapa dia?”.

“Dia adalah seorang laki-laki yang Lisannya ketika Dunia selalu Berdzikir Kepada Allah, dan Hatinya Terikat dengan Masjid serta tidak pernah menyakiti kedua orang tuanya”.

Tibalah waktunya Rasulullah Saw Bertemu dengan Tuhannya.

Diriwayatkan, jarak antara Rasulullah Saw ketika Bertemu Allah hanya sekadar 2 anak panah, bahkan dikatakan Lebih Dekat. Dan di situlah Allah Mewahyukan Kepada Hamba-Nya.

Pada saat Rasulullah Bertemu Dengan Allah Swt, Beliau Menundukkan diri dengan Bersujud dan Mengucapkan Salam seraya Berkata :

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ.

“Seluruh Kehormatan, Keberkahan, Rahmat, dan Kebaikan adalah Sepenuhnya Milik Allah”.

Allah Swt langsung Menjawab Salam tersebut seraya Berkata :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه.

“Kesejahteraan, Kasih Sayang, dan Keberkahan Allah untukmu, Wahai Nabi”.

Mendengar jawaban Allah itu, Nabi Saw ingin Hamba-Hamba Allah yang Sholeh mendapat bagian dari pertemuan Agung tersebut seraya Berkata :

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ.i

“Kesejahteraan atas kami dan Hamba-Hamba Allah yang Sholeh”.

Kemudian Allah Swt Berfirman Kepada Nabi Muhammad Saw :
“Wahai Muhammad, mintalah apapun Dari-Ku”.

Rasulullah Saw Menjawab :
“Yaa Allah, Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Sahabat-Mu, Engkau telah Menjadikan Musa sebagai satu-satunya yang bisa Bercakap-Cakap Dengan-Mu, Engkau telah memberikan Daud kekuasaan yang luas dan Engkau telah melunakkan besi untuknya serta menundukkan Gunung untuknya, Engkau juga telah memberikan Sulaiman Kekuasaan yang luas serta menaklukkan Jin, Manusia, bahkan Angin untuknya. Engkau telah mengajarkan Taurat dan Injil kepada Isa, Engkau juga memberinya kemampuan untuk menyembuhkan orang buta serta menghidupkan orang mati dengan Izin-Mu”.

Maka Allah Swt pun Berfirman Kepada Nabi Muhammad Saw :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku telah Menjadikanmu sebagai Kekasih-Ku, dan Aku Mengutusmu untuk seluruh manusia sebagai pembawa Kabar Gembira juga pembawa Peringatan”.

“Sungguh, Aku juga telah melapangkan Dadamu, Meringankan Bebanmu dan Meninggikan Penyebutanmu. Tidaklah Aku disebut kecuali Namamu juga disebut Bersama-Ku”.

“Aku Jadikan Ummatmu sebaik-baiknya Ummat, dan Aku telah Menjadikanmu Nabi pertama yang Ku Ciptakan (Cahayanya) dan yang paling terakhir di Utus”.

“Aku Berikan padamu apa-apa yang tak Ku berikan kepada Nabi-Nabi sebelummu, Aku Berikan kepadamu Telaga Kautsar dan Aku Berikan Kepadamu 8 Kemuliaan yaitu : Islam, Hijrah, Jihad, Sedekah, Puasa, sertai Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar”.

“Ketahuilah, jika Kekasih telah Mencintai Kekasihnya, sungguh mampu baginya untuk Mengkhususkan dan Memuliakannya dengan sebuah Kedekatan…Maka mintalah segala sesuatu yang kau sukai, karena tentu Aku mampu untuk Memenuhinya”.

Sumber :
Kitab Al-Maroqil Aliyyah fil Anwaril Bahiyyah.

Allahumma Shalli ‘Alaa
Sayyidina Muhammad Wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA