__Aku bahagia jika hati selalu terkoneksi dengan Allah
Aku bahagia jika diri ini terhubung dengan Rasulullah
Aku bahagia saat dapat melayani manusia dengan kasih sayang
Aku bahagia ketika kalamullah berada di genggamanku
Aku bahagia waktu bersama dengan para ahli ilmu_
*By Harapandi*
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham berjalan dan melewati seorang yang terlihat sedang bersedih, lalu beliau berhenti dan berkata; wahai Saudaraku bolehkah aku bertanya tentang tiga perkara?. Lelaki itu melirik dan berkata; “boleh, silahkan!”. Lalu Ibrahim pun bertanya; Mungkinkah terjadi satu perkara tanpa keinginan Allah?, jawab lelaki tersebut; tentu tidak mungkin”, lalu Ibrahim melanjutkan; apakah rezeki yang Allah telah tentukan pada diri seseorang dapat berkurang dan berpindah kepada orang lain?, itu tidak mungkin terjadi sahut lelaki itu, lalu apakah “ajal” yang telah dituliskan Allah dapat berkurang walau sedetik pun?, jawabnya “tidak akan mungkin diundur maupun dimajukan walau sekejap”.
Mendengar jawaban cerdas lelaki itu Ibrahim Ibn Adham pun berkata kepadanya; “Jika jawaban-jawabanmu itu benar dan engkau sadar mengatakannya lalu mengapa engkau larut dalam kesedihan dan kegelisahan? bukankah semua yang kita alami atas kehendak Ilahi?.
Pengajaran yang dapat diambil dari nasihat yang didesain melalui metode dialog tersebut terlihat dengan jelas bahwa keyakinan yang mendalam terhadap taqdir dan ketentuan Allah dapat mengubah cara pandang dan pola pikir kita terhadap semua penomena yang terjadi pada diri kita. Karena itu, renungkanlah makna hadits qudsi yang difirmankan Allah; “Sesiapa yang tidak rilda dengan taqdirKu dan tiada bersyukur terhadap berbagai anugerahKu, maka silahkan mencari Tuhan selain diriKu”.
Kata kunci dari sebuah perjalanan menuju ilahi ialah menerima ketentuan yang sedang kita jalani dengan penuh kepasrahan dan mensyukuri segala anugerah yang kita rasakan. Jika kedua kunci ini dapat kita yakini dan jalani, maka kehidupan bahagia seperti pada bait-bait awal tulisan ini akan dapat dirasakan.
Al-Syaikh Ibnu ‘Atahillah dalam al-Hikam menegaskan bahwa; jika terbersit keinginan dalam jiwa untuk berbuat maksiat maka ingatlah darimana datangnya rizki yang kita makan, renungkan pula bahwa tempat tinggal yang kita diami adalah milik Allah.
Bayangkan bahwa jika manusia telah didatangi oleh pencabut kelezatan dan perusak kebahagiaan yakni al-maut (kematian), tiada seorangpun yang dapat menghalanginya sekalipun kita bersembunyi di benteng batu yang sangat kuat.



