Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa. Bukan hanya karena kekayaan alam semata, tapi juga tentang visi dan misi besarnya. Indonesia terkenal dengan konstitusi dan sumber hukumnya, yakni UUD 45. Di dalamnya terukir cita-cita mulia, yakni “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dalam pergerakan menuju cita-cita mulia itu, Indonesia dibantu oleh sebuah ‘mesin’ yang bernama Pendidikan.
Pendidikan di Indonesia tidak lepas daripada perjuangan dan maha karya Ki Hajar Dewantara. Seorang tokoh pejuang dan intelektual dari Yogyakarta, yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Ia tetap hidup bersama dengan tiga semboyan pendidikannya yang terangkai indah dalam rajutan zaman dan menjadi pedoman bagi siapa saja yang sadar akan arti pendidikan. Semboyan itu berbunyi “𝘐𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘢𝘳𝘴𝘰 𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘭𝘰𝘥𝘰, 𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘥𝘺𝘰 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘴𝘰, 𝘵𝘶𝘵 𝘸𝘶𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪”.
Sayangnya, dalam perjalanan waktu, nilai-nilai pendidikan itu seolah mulai bergeser. Memang sangat indah dan penuh makna. Akan tetapi, yang namanya perubahan akan selalu ada. Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Adakah dari Anda yang memiliki pertanyaan yang sama seperti saya, apakah pendidikan yang dulu digagas oleh Ki Hajar Dewantara itu, masih sama dengan pendidikan yang sekarang diterapkan di Indonesia? Apakah semangat untuk bebas dari kebodohan dan “perbudakan pikiran” itu masih dijunjung tinggi dan didukung oleh pemerintah yang sekarang? Apakah problem sistem pendidikan yang sejak dulu dipertentangkan oleh sebagian orang memang tidak ada tindak lanjutnya atau belum menemukan titik penyelesaiannya?
Pemerintah bisa berganti, rezim pun bisa berubah, bahkan menteri pendidikan juga terus berganti. Akan tetapi, persoalan pendidikan di Indonesia bisa dibilang masih konsisten bermasalah sampai hari ini. Memang benar sekolah rakyat akan dibangun untuk anak-anak miskin, begitu juga dengan sekolah garuda, ataupun sekolah pintar nasional. Apapun nama sekolahnya, jika yang diterapkan adalah sistem pendidikan yang sama, maka outputnya pun akan tetap sama. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘦 𝘥𝘶𝘦 𝘭𝘪𝘬𝘶𝘳.
Salah satu contoh permasalahan dalam sistem pendidikan adalah ketika sekolah menerapkan standarisasi kelulusan berbasis ujian atau tes. Hal ini 𝘬𝘢𝘯 secara tidak langsung menyamaratakan kemampuan setiap anak. Padahal, dari dulu Ki Hajar Dewantara pernah bilang bahwa “𝘱𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨. 𝘗𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘫𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯”. Pandangan tersebut juga sejalan dengan perkataan Albert Einstein. Ia mengatakan “𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘫𝘢𝘵 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢”. Artinya, setiap orang memiliki potensi dan jalan tumbuhnya masing-masing.
Lantas, sebenarnya apa tujuan pendidikan kita hari ini? Apakah sekedar membuat kita pintar? Mendapat nilai bagus dan selalu juara kelas? Atau sekedar untuk mendapatkan pekerjaan? Kalo menurut Ki Hajar Dewantara, salah satu yang menjadi tujuan pendidikan itu adalah memerdekakan manusia. Apa yang dimaksud dengan manusia merdeka? Menurut beliau, manusia merdeka adalah manusia yang selamat raganya dan bahagia jiwanya. Inilah yang kemudian diterangkan dalam filosofi 𝘛𝘳𝘪 𝘙𝘢𝘩𝘢𝘺𝘶 miliknya.
Tapi, terlepas dari berbagai macam paradigma tentang pendidikan, pada momentum bersejarah ini, mari kita “mengheningkan cipta” sejenak, mengenang jasa para pahlawan bangsa, termasuk Ki Hajar Dewantara. Karena dengan kegigihan, perjuangan, dan kerja keras beliau-lah, kita dapat menikmati pendidikan yang layak hingga hari ini. Tidak cukup sampai di situ, selanjutnya mari kita sama-sama melakukan refleksi, kemana arah pendidikan Indonesia ini akan dibawa. Jangan sibuk bertanya tentang apa yang akan Anda dapatkan dari Indonesia, tapi mari berpikir tentang kebaikan apa yang akan Anda berikan untuk Indonesia, demi kemajuan dan kesejahteraan kita bersama.
Indonesia memiliki cita-cita yang sangat mulia, yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Maka, pendidikan harus benar-benar menjadi jalan untuk memanusiakan manusia, bukan hanya mencetak lulusan siap kerja. Sebab pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sekolah atau tingginya nilai ijazah, akan tetapi oleh kualitas manusia yang lahir dari pendidikan itu sendiri.
Penulis: Istariadi


