Sinar5news.com- Lombok Barat- TGB HM Zainul Majdi Ketua Umum DT PBNW melanjutkan Safari Dakwahnya ke Lombok Barat. Di Pondok Pesantren Raudatul Ilmi Nahdlatul Wathan (NW) Lingsar. Dilansir dari Nahdlatul Wathan Media Center (NWMC), beberapa hal disampaikan oleh Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia. Dalam pembukaan ceramahnya TGB Zainul Majdi menyampaikan(9/3) “Silaturahmi bukan hanya kita utarakan dengan lisan. Ajakan mari kita kokohkan kekompakan, ini tidak cukup,”
“Di dalam Alquran, disampaikan Innamal mukminuna ikhwah, kewajiban persaudaraan yang ditumbuhkan sebagai sikap nyata. “Alhamdulillah, mudah-mudahan silaturahim kita memperkokoh persaudaraam kita. Kita besemeton bapak-ibu nggih,” ucap Ketua DT PBNW ini.

Pria yang sukses memimpin NTB selama dua periode ini juga menyampaikan , Indonesia menjadi negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia. Paling banyak China, India, kemudian Amerika. Bila melihat Alquran membahasakan peradaban, modal yang utama pergerakan di kehidupan bukan terletak pada banyaknya pohon dan air.
“Tapi, bagaimana manusia yang ada disana. Artinya, Allah sayang dengan memberikan modal kita manusia berjumlah 260 juta,” bebernya. “Termasuk anak-anak kita ini. Maka tugas dari tiang dan pelungguh selain menyiapkan generasi yang terbaik,” lanjutnya.
Persiapan yang paling hebat, kata TGB, telah disampaikan di dalam Alquran yaitu wahyu pertama, iqra bismirabbikalladzi khalaq.
“Anak-anak kita harus bisa membaca. Baik Alquran maupun sumber pengetahuan lainnya. Turunan dari Alquran ada kitab fiqih, hadist, tafsir, buku kimia, matematika, fisika, dan banyak lagi,” terangnya.
Lebih lanjut, Imam Syafi’i mengatakan, ilmu adalah nur. Semuanya cahaya Allah. Anak-anak harus bisa membaca itu semua. Sanggup membaca buku ilmu pengetahuan. “Termasuk bisa membaca gejala alam. Belajar dari kelapa, dari atas sampai bawah menghadirkan manfaat,” urainya.
Diantara yang dihasilkan kelapa, tutur TGB, minyak kelapa atau kerap disebut jeleng. Kini, minyak ini dianggap kuno karena hadirnya minyak dari bahan kelapa sawit.
“Semua rumah kemudian memakai minyak kelapa sawit. Dan ternyata hasil penelitian minyak terbaik berasal dari kelapa peninggalan orang tua kita,” jelasnya.
Cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid ini melanjutkan, peninggalan para orang tua didasarkan ilmu. Yang dinamakan ilmu bukan hanya tertulis di buku dan bisa diteorikan. Ilmu juga berasal dari pengalaman orang tua.
“Dari perjalanan panjang orang tua,” ucapnya. Pun begitu dengan Daun Kelor, lanjut TGB, dari kecil sudah terbiasa dengan Sayur Kelor. Kemudian datang makanan dari luar, sekarang baru semua tahu di dalam Kelor ada anti oksidan luar biasa. Bisa menetralisir racun.

“Makan Kelor, zatnya bisa membentengi kita dengan izin Allah,” urainya.
TGB kemudian menyinggung mengenai filosofi berugak. Dibuatnya berugak dengan empat tiang. Dari cerita, disebut bila tiang tersebut menjadikan sandaran ketika orang bertikai. Segala persoalan diselesaikan di berugak.
“Empat teken (tiang) ada masing-masing pihak, dengan perantara tokoh agama dan tokoh masyarakat,” kata Doktor Ahli Tafsir Alquran ini.
“Jangan kayak sekarang, kedik-kedik ngaduang ke polisi (sedikit-sedikit diadukan ke polisi). Temannya diadukan, bahkan ada ibunya diadukan polisi karena mengambil hartanya,” sambungnya.
Padahal dalam Islam, lanjut TGB, anta wamaluka li abiika, badanmu dan hartamu adalah milik ayahmu. Ada hak dari orang tua.
“Sumber pembelajaran kita banyak. Tumbuhkan semangat mencari ilmu pengetahuan, tak hanya berasal dari kelas. Ambil juga dari orang tua dan sumber pengetahuan di sekitar kita,” tukasnya.



