Khotbah Jumat Edisi 6 November 2026: Menghadapi Ujian dengan Sabar
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita bersyukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada siang hari ini, dengan izin dan nikmat-Nya, kita dapat kembali melangkahkan kaki ke masjid yang kita cintai ini untuk menunaikan kewajiban mulia, yaitu salat Jumat secara berjamaah. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Mengawali khutbah Jum’at pada siang hari ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: mari kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Laksanakanlah segala perintah-Nya dengan istiqomah, dan jauhilah segala larangan-lNya dengan penuh kesadaran.
Hadirin jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Kehidupan dunia adalah panggung ujian yang tidak pernah sunyi dari dinamika. Apapun latar belakang suku, bangsa, dan status sosial kita, setiap manusia pasti akan menghadapi ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ujian tersebut datang dalam dua bentuk yang berbeda: kadang kala berupa kesusahan—seperti kekurangan harta, sakit, atau musibah—namun tidak jarang pula datang dalam bentuk kenikmatan yang berlimpah ruah.
Agar kita dapat melewati seluruh ujian ini dengan selamat, bijak, dan meraih predikat mulia di sisi-Nya, Allah telah membekali kita dengan satu senjata mental yang luar biasa, yaitu kesabaran. Sabar bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan jiwa dalam menerima ketetapan Allah sekaligus mengarahkan diri untuk selalu bersikap dan bertindak secara benar.
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan keutamaan orang-orang yang sabar ketika menghadapi musibah:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Kaum muslimin yang berbahagia 1rahimakumullah,
Selama ini, pandangan umum manusia seringkali keliru. Kita mengira bahwa ujian hidup itu hanyalah sebatas kesusahan, kemiskinan, atau penderitaan semata. Padahal, ujian yang tidak kalah berat—bahkan sering kali melalaikan—adalah manakala kita diuji dengan kenikmatan.
Harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, kesehatan yang prima, serta kesuksesan yang diraih adalah ujian besar. Apakah dengan semua kenikmatan itu kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan rasa syukur dan berbagi, atau justru membuat kita sombong, lupa diri, menindas sesama, dan merasa paling hebat?
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“…Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Oleh karena itu, dalam menghadapi silih bergantinya roda kehidupan ini, mari kita lekatkan sifat sabar dan syukur di dalam dada. Saat diuji dengan kesulitan, janganlah mudah mengeluh, berputus asa, atau menyalahkan keadaan. Yakinkanlah diri bahwa di balik kesabaran itu, Allah menjanjikan pahala yang sangat besar tanpa batas, serta senantiasa membersamai orang-orang yang sabar:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“…Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Sebaliknya, saat kita diuji dengan kenikmatan, pandanglah nikmat tersebut sebagai amanah. Manfaatkan kesehatan untuk beribadah, gunakan harta untuk berinfak dan menolong sesama, serta amalkan ilmu untuk kemaslahatan umat.
Sebagai pengingat penutup, sebuah pepatah bijak universal, “Patience is a bitter plant, but its fruit is sweet” (Kesabaran adalah tanaman yang pahit, namun buahnya sangat manis), mengajarkan kepada kita bahwa proses bersabar memang melelahkan dan penuh ujian, namun buah manis berupa ridha Allah dan kemuliaan hidup akan senantiasa menanti di ujungnya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan kekuatan, kesabaran, dan ketulusan hati kepada kita semua dalam menghadapi setiap takdir dan ujian-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولساير المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khotbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ.
أَيُّهَا المُسْلِمُونَ، إِنَّ الحَيَاةَ الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ وَامْتِحَانٍ؛ يُمْتَحَنُ العَبْدُ فِيهَا بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَبِالنِّعْمَةِ وَالمُصِيبَةِ. فَالصَّبْرُ عِنْدَ البَلَاءِ شَجَاعَةٌ، وَالشُّكْرُ عِنْدَ النِّعْمَةِ امْتِنَانٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.




