Sinergi Dakwah dan Al-Qur’an: Wawancara Eksklusif SinarLIMA bersama Pimpinan Ponpes Tahfizh Al-Akbar Gandul di Ponpes NW Gabus
BEKASI, Sinar5News.com – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Abror di lingkungan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Gabus, Bekasi, pada Kamis malam (2/7/2026) bakda Isya. Di tengah kekhusyukan agenda mabit dan khataman Al-Qur’an, kru media SinarLIMA berkesempatan melakukan wawancara mendalam bersama Ustaz Rusdi Sofyan Akbar, M.Ag., pimpinan sekaligus pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Akbar yang berlokasi di Gandul, Cinere, Kota Depok.
Berikut adalah petikan wawancara lengkap mengenai misi silaturahim, evaluasi metode menghafal, hingga rencana besar pengembangan cabang tahfizh baru:
Misi Silaturahim dan Amanat Khidmat
SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ustaz Rusdi Akbar: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
SinarLIMA: Alhamdulillah, sebuah kehormatan bagi kami. Mohon perkenalkan diri secara lengkap, Bapak, dan apa tujuan utama kedatangan rombongan ke Ponpes NW Gabus ini?
Ustaz Rusdi Akbar: Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirobbilalamin, wabihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin. Perkenalkan, nama saya Rusdi Sofyan Akbar, M.Ag., selaku pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Akbar di Gandul, Cinere, Depok. Kegiatan sehari-hari saya mengasuh santri dan mengelola kegiatan perkuliahan di PTQ pusat Cinere.
Kehadiran kami di sini didasari dua niat utama. Pertama, tentu untuk menyambung tali silaturahim. Kedua, ini merupakan bentuk penunaian amanat dari Mudir Muassis Nahdlatul Wathan Gabus, Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Suhaidi. Beliau adalah guru sekaligus orang tua kami. Beliau meminta kami untuk bersama-sama membangun majelis khatam Al-Qur’an di sini, yang dirangkai dengan kegiatan mabit (bermalam) bagi seluruh santri serta diisi dengan pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan.
SinarLIMA: Terkait bentuk khataman Al-Qur’an yang dilaksanakan tadi, modelnya seperti apa? Apakah berupa setoran hafalan, ujian, atau tilawah bersama?
Ustaz Rusdi Akbar: Modelnya seperti khataman yang umum dilakukan masyarakat, dalam bentuk tilawah atau baca biasa, bukan metode simakan hafalan. Kebetulan kami membawa sekitar 23 orang santri. Jadi, setiap santri diberikan tanggung jawab memegang satu juz masing-masing. Alhamdulillah, seluruh 30 juz dapat diselesaikan dalam kurun waktu kurang lebih dua jam, lalu ditutup dengan zikir dan doa khatam Al-Qur’an.
Studi Banding dan Rencana Ekspansi Cabang Tahfizh
SinarLIMA: Bagaimana respon dan kesan para santri setelah melihat kondisi lingkungan di NW Gabus ini jika dibandingkan dengan tempat belajar mereka sehari-hari?
Ustaz Rusdi Akbar: Dari sisi fasilitas dan kondisi lingkungan, di NW Gabus ini jauh lebih memadai dan sempurna. Fasilitasnya sangat menunjang, ada masjud dan ruang tempat duduk yang sangat luas untuk kegiatan menghafal. Sementara di tempat kami di Gandul, kondisinya masih sedikit apa adanya karena masih dalam proses pembangunan dan persiapan fasilitas penunjang. Bagi kami, lingkungan NW Gabus ini sudah sangat efektif dan ideal untuk melaksanakan kegiatan pesantren atau belajar menghafal Al-Qur’an.
SinarLIMA: Melihat efektivitas tempat ini, apakah ada rencana ke depan untuk membuka cabang tahfizh di sini, bekerja sama dengan Tuan Guru KH. Suhaidi?
Ustaz Rusdi Akbar: Insyaallah, betul sekali. Semalam kami sempat berdiskusi panjang dengan beliau. Melihat anak-anak santri yang kami bawa sudah memiliki hafalan antara 5 sampai 10 juz, beliau memiliki pemikiran visioner. Beliau mengamanatkan kepada kami untuk mengawali langkah baru di sini. Rencananya, dalam tahun ini insyaallah akan dimulai dengan menempatkan 5 orang santri terlebih dahulu beserta 1 orang mentor atau pendamping Al-Qur’an. Mohon doa dari semua kalangan agar niat dan hajat beliau dalam mensyiarkan cabang Nahdlatul Wathan Gabus melalui ruang tahfizh baru ini dimudahkan oleh Allah SWT.
Tantangan Operasional dan Kemandirian Pesantren
SinarLIMA: Perjalanan dua hari yang padat dan melibatkan banyak santri tentu memerlukan pendanaan yang tidak sedikit. Bagaimana pengelolaan sumber dana operasional pesantren selama ini? Apakah didukung penuh oleh Tuan Guru atau ada sumber donatur lain?
Ustaz Rusdi Akbar: Perlu kami luruskan, untuk agenda silaturahim dan mabit ini, sejatinya adalah pemenuhan amanat yang saya jalankan secara pribadi sebagai bentuk tabarruk (mengambil berkah) kepada beliau. Bagi santri, ini lebih kepada studi banding untuk memperkaya pengalaman mereka di luar pondok.
Adapun untuk operasional keseharian di Ponpes Al-Akbar Gandul, kebutuhan makan dan fasilitas santri sejauh ini full subsidi (gratis). Syarat utama bagi santri pemula yang ingin bergabung hanyalah satu: memiliki kemauan kuat untuk bersama-sama belajar menghafal Al-Qur’an.
Terkait sumber dana, saya pribadi selaku pengasuh bertanggung jawab penuh. Kami mengupayakannya melalui kegiatan-kegiatan majelis dan usaha mandiri. Jujur saja, sampai saat ini kami belum mendapatkan donatur tetap yang produktif dan konsisten setiap bulannya—misalnya seperti orang tua asuh yang rutin memberikan infak. Mayoritas yang ada saat ini sifatnya donatur tidak tetap, yang menyumbang sewaktu-waktu sesuai kelapangan rezeki mereka.
SinarLIMA: Meskipun belum ada donatur tetap, pesantren tetap bisa berjalan konsisten hingga saat ini. Bagaimana perkembangannya?
Ustaz Rusdi Akbar: Alhamdulillah, memasuki tahun ketiga ini, dari yang awalnya merintis hingga sekarang sudah membina sekitar 25 santri, kegiatan belajar mengajar berjalan dengan cukup baik dan lancar. Bagaimanapun kondisinya, roda pesantren harus tetap berjalan. Memang kami akui masih memerlukan banyak pembenahan, terutama peningkatan fasilitas harian yang lebih memadai. Kami menjalani hari-hari sesuai kemampuan yang ada sembari terus mengetuk pintu langit. Kami berharap ada hamba-hamba Allah yang dikaruniai kelebihan rezeki yang tergerak untuk ikut serta menjadi donatur produktif demi keberlangsungan dakwah Al-Qur’an ini.
Metode Pembelajaran dan Solusi Mengatasi Kejenuhan
SinarLIMA: Apakah di Ponpes Al-Akbar Gandul santri hanya fokus menghafal Al-Qur’an, atau ada pendidikan formalnya?
Ustaz Rusdi Akbar: Prioritas utama kami adalah tahfizh Al-Qur’an. Namun, kami tidak menutup mata terhadap masa depan pendidikan formal anak-anak. Oleh karena itu, kami bermitra dengan sekolah formal. Mulai tahun ini, kami resmi menjalin kolaborasi atau MoU dengan pihak NW Cakung. Jadi, santri-santri kami yang membutuhkan ijazah atau pendidikan formal tingkat SMP dan SMA, sekolahnya akan diakomodasi melalui kemitraan tersebut. Jadi, hafalan Al-Qur’an tetap jalan, sekolah formalnya pun sukses.
SinarLIMA: Selama dua hari mengamati dinamika di NW Gabus, apa evaluasi yang bisa diterapkan agar kualitas mengaji santri ke depan bisa lebih baik lagi?
Ustaz Rusdi Akbar: Poin penting yang kami pelajari adalah bahwa kegiatan mengaji dan mengulang hafalan (murojaah) itu tidak boleh terbatas hanya pada ruang kelas formal. Kita harus mengevaluasi metode agar lebih fleksibel. Murojaah bisa dilakukan di sela-sela aktivitas bermain, saat santri sedang bersantai, bahkan saat sedang ‘nongkrong’ dan minum kopi bersama. Pendekatan informal ini justru sering kali membuat santri lebih rileks dan efektif dalam menjaga hafalan mereka.
SinarLIMA: Mengelola pesantren sendirian dari hulu ke hilir selama 3 tahun tentu menguras energi. Pernahkah Ustaz berada di titik jenuh, dan bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana pula cara memotivasi santri yang sedang drop?
Ustaz Rusdi Akbar: Sebagai manusia biasa, rasa jenuh dan suntuk itu pasti ada, apalagi semua tanggung jawab, mulai dari kurikulum belajar hingga urusan dapur, saat ini masih saya tangani sendiri. Cara saya mengatasi kejenuhan adalah dengan mencari variasi kegiatan yang sama sekali berbeda dari rutinitas pondok. Misalnya berolahraga, mengisi undangan kajian di luar, atau berdiskusi mengenai bisnis dengan kolega. Pengalihan aktivitas ini terbukti ampuh sebagai sarana refreshing untuk men-charge kembali semangat kerja.
Sedangkan untuk anak-anak santri yang psikologisnya masih labil dan sering naik-turun motivasinya, kami memiliki “obat” yang paling manjur. Jika mereka mulai malas atau rindu rumah, saya akan meminta mereka menelepon orang tua kandung mereka langsung. Nasihat, doa, dan dukungan moril dari orang tua terbukti jauh lebih membekas di dalam jiwa mereka, mengingatkan kembali tujuan awal mereka merantau dan berhijrah ke Jakarta untuk menghafal Al-Qur’an.
Sokongan Spiritualitas Tuan Guru H. Suhaidi
SinarLIMA: Bagaimana pandangan Ustaz mengenai sosok Tuan Guru H. Suhaidi, dan bagaimana kedekatan hubungan keluarga antara Ustaz dengan beliau?
Ustaz Rusdi Akbar: Secara silsilah keluarga, hubungan kami adalah hubungan kekerabatan yang dekat, bertumpu pada hubungan persaudaraan sepupu di tingkat orang tua kami (bapak kami dengan beliau adalah sepupu/nisan). Jadi beliau adalah orang tua sekaligus guru saya.
Bagi saya yang muda ini, beliau adalah sosok tokoh yang luar biasa konsisten, pejuang dakwah yang tidak kenal lelah, dan berjiwa sangat visioner. Beliau selalu mengajarkan kami untuk terus melakukan improvisasi, tidak boleh mandek di satu titik agar pola pikir kita selalu ter-update. Prinsip dari beliau yang selalu saya pegang adalah: “Kerjakan saja dulu, nikmati prosesnya, nanti proses itulah yang akan mendidik kita.”
Alhamdulillah, melihat suksesnya acara perdana ini, beliau meminta agar program mabit dan khataman seperti ini diprogramkan secara rutin, minimal empat kali dalam satu tahun.
SinarLIMA: Terakhir Ustaz, apa pesan motivasi untuk para pembaca SinarLIMA dan para santri, serta ke mana masyarakat bisa menyalurkan dukungannya jika ingin membantu Ponpes Al-Akbar Gandul?
Ustaz Rusdi Akbar: Pesan saya untuk para santri, pegang teguh hadis populer: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya.” Dan ingatlah firman Allah bahwa meluangkan waktu untuk berniaga dengan Al-Qur’an lewat tilawah adalah perniagaan yang tidak akan pernah merugi (tijaratan lan tabur).
Bagi para dermawan, kaum muslimin, maupun donatur yang tergerak hatinya untuk berinvestasi akhirat menyokong kebutuhan operasional dan pembangunan fasilitas santri tahfizh kami, silakan menghubungi kami di saluran komunikasi berikut:
Informasi Donasi & Kontak Pengasuh:
No. HP/WhatsApp: 0823-4099-9577 (Ustaz Rusdi Sofyan Akbar, M.Ag)
Rekening Bank: Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rekening: 7293886401
Atas Nama: Yayasan Ponpes Tahfizh Al Akbar CINere
Mari kita tutup dengan doa, semoga di tempat yang mulia ini, Ponpes Nahdlatul Wathan Gabus Bekasi, Allah SWT senantiasa memanjangkan umur Tuan Guru H. Suhaidi dalam kesehatan, serta melahirkan tokoh-tokoh besar agama dan bangsa yang bermanfaat luas, mulai dari tingkat TK hingga sarjana. Amin ya Rabbal Alamin.
SinarLIMA: Amin ya Rabbal Alamin. Terima kasih banyak atas waktunya, Ustaz. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ustaz Rusdi Akbar: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
(Reporter/Kru Media: SinarLIMA TV / Sinar5News.com)





