KARHUTLA ADALAH BENCANA TAFSIR* _Ketika “Khalaqa Lakum” Dibaca Sebagai Cek Kosong

KARHUTLA ADALAH BENCANA TAFSIR* _Ketika “Khalaqa Lakum” Dibaca Sebagai Cek Kosong

Oleh: M. Rusli Nasir¹

Setiap tahun, Indonesia seolah mengulang dosa yang sama. Lebih dari tiga ratus ribu hektare hutan hangus menjadi abu, asap pekat menutup peradaban dari Sumatera hingga Kalimantan, dan negara harus menanggung kerugian hingga puluhan triliun rupiah. Ini bukan semata bencana alam. Ini adalah bencana kerakusan. Bencana dari tangan manusia yang sengaja membakar.

Ironisnya, ini terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya setiap hari menengadahkan tangan, meyakini bahwa bumi ini adalah ciptaan Allah. Namun justru bumi itulah yang kita perkosa, atas nama investasi, atas nama pembukaan lahan. Seolah-olah firman Allah _khalaqa lakum_ — “diciptakan untuk kalian” — adalah cek kosong dari langit yang memberi kita kuasa untuk mengeruk tanpa batas.

Padahal, sebelum kita mempersoalkan apa makna _lakum_ itu, kita seharusnya terlebih dahulu bertanya: sudahkah kita memahami untuk apa kita sendiri diciptakan dan diletakkan di atas bumi ini? Apakah sebagai pemilik yang berhak menghabiskan, atau sebagai khalifah yang dititipi amanah untuk menjaga?

Pada titik inilah, kuliah perdana Syekh TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA di Pascasarjana IAIH Pancor pada Sabtu (24-10-2026) pagi tadi menjadi sangat relevan.

_”Perbedaan cara pandang seseorang dalam menafsirkan satu ayat, bahkan satu huruf, bisa membuat orang itu berbeda dalam menilai bumi Allah ini,”_ tutur Syekh TGB.

Sebagai contoh, beliau membedah isu Karhutla melalui firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 29:

*هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا*

_”Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu…”_ (QS. Al-Baqarah: 29)

Menurut TGB, kunci persoalan Karhutla sesungguhnya tersembunyi pada satu kata kecil di ayat itu: _lakum_.

“Banyak ulama tafsir memaknakan huruf _Lam_ pada kata _lakum_ itu sebagai _Lam Lil-Intifa’_ — lam yang bermakna untuk dimanfaatkan dan dinikmati. Namun, Ibnu Jarir justru lebih condong memaknakannya sebagai _Lam Lil-I’tibar_ — lam yang bermakna untuk direnungi dan diambil pelajarannya,” jelas beliau.

Dari perbedaan satu huruf inilah, corak pandang manusia terhadap alam menjadi sangat berbeda. Kebanyakan kita selama ini memilih penafsiran pertama, sebagaimana yang banyak tertulis dalam kitab-kitab tafsir, sehingga wajar jika lahir sikap ganas mengeksploitasi bumi secara berlebihan, padahal idealnya tidak demikian.

“Kalau maknanya _Intifa’_, ia bisa melahirkan manusia yang rakus. Ia merasa semua yang ada di bumi adalah miliknya untuk dihabiskan. Tapi kalau maknanya _I’tibar_ dan _Tadabbur_, ia akan melahirkan manusia yang hanya mengambil pelajaran darinya, yang memandang alam dengan mata penjaga, bukan mata perampas,” ujar TGB.

Karena itulah, kita tidak boleh berhenti memaknai bumi hanya dalam bingkai _lil-intifa’_ semata. Pemaknaan yang parsial inilah yang melahirkan mentalitas eksploitatif. Untuk menahan laju kerakusan itu, kata Syekh TGB, Al-Qur’an sesungguhnya telah menyediakan perspektif lain yang jauh lebih komprehensif dan mengikat secara teologis.

*Pertama, perspektif _al-fasad_ dan _al-ifsad_.* Al-Qur’an secara tegas melarang manusia melakukan perusakan di muka bumi. Bencana Karhutla adalah bentuk nyata dari _al-fasad_ itu. Allah berfirman:

*وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا*

_”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”_ (QS. Al-A’raf: 56)

Bahkan Allah mengaitkan kerusakan di darat dan di laut sebagai akibat langsung dari ulah tangan manusia sendiri:

*ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ*

_”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”_ (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini seakan menggambarkan asap Karhutla yang kita saksikan hari ini.

*Kedua, perspektif _khalifah fil-ardh_.* Manusia tidak diciptakan sebagai pemilik, melainkan sebagai penjaga. Kesadaran sebagai khalifah akan melahirkan rasa tanggung jawab, karena sesuatu yang dijaga tentu enggan untuk dirusak. Allah menegaskan identitas ini sejak awal penciptaan:

*إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً*

_”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”_ (QS. Al-Baqarah: 30)

Dan dipertegas kembali:

*وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ*

_”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi…”_ (QS. Al-An’am: 165). Seorang khalifah tidak akan membakar istana yang dititipkan kepadanya.

*Ketiga, perspektif _al-amanah_.* Bumi ini adalah amanah agung dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Amanah ini memiliki konsekuensi untuk ditunaikan, dalam konteks menjaga bumi maka pemanfaatan bumi harus adil dan proporsional.

*إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا*

_”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”_ (QS. An-Nisa: 58).

Kata Syekh TGB, bisa juga kita menggunakan ayat berikut:

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ*

_”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”_ (QS. Al-Anfal: 27).

Dengan tiga perspektif ini — _larangan berbuat fasad, kesadaran sebagai khalifah, dan beban amanah_ — maka cara pandang kita terhadap bumi akan berubah total. Bumi bukan lagi objek untuk dihabiskan, melainkan subjek yang harus direnungi, dijaga, dan kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

_Wa Allah A’lam!_
Pancor, 24 Oktober 2026 M.

¹ Mahasiswa Pascasarjana S2 IAIH NWDI Pancor.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA