KHOTBAH PERTAMA:
Khutbah Jum’at Edisi 3 Juli 2026: “Menemukan Kembali Kunci Kekuatan Umat Islam melalui Ukhuwah Islamiyah”
بِسْمِ اللهِ وَبـِحَمْدِهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰى، وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللهُمّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ اُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نـَهْضَةَ الْوَطَنِ فِى الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Hadirin jamaah yang berbahagia rahimakumullah,
Puji syukur alhamdulillahirobbilalamin, pada Jumat edisi kali ini kita kembali dipertemukan dan dipertautkan dalam rangka melaksanakan ibadah salat Jumat secara berjamaah di masjid yang mulia dan tercinta ini. Selawat serta salam tak lupa kita sampaikan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam, juga kepada segenap keluarga dan para sahabatnya. Moga-moga kita semua mendapatkan syafaat beliau di akhirat nanti. Amin ya robbal alamin.
Sebagai khatib, sudah menjadi tugas dan rukun khotbah untuk senantiasa mengajak diri saya pribadi dan jamaah sekalian untuk meningkatkan rasa takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mari kita sama-sama membuktikan takwa itu dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah kaum muslimin yang berbahagia rahimakumullah,
Selama ini, mungkin banyak di antara umat Islam yang tidak menyadari dari mana sesungguhnya sumber kekuatan hakiki umat ini—sebuah kekuatan yang sangat ditakuti oleh mereka-mereka yang membenci dan mendengki Islam. Untuk mencegah munculnya kekuatan tersebut, dengan segala cara musuh-musuh Islam menghalang-halangi agar umat ini tidak memiliki taji yang dapat meruntuhkan pengaruh negatif yang mereka sebarkan. Mereka ingin menguasai peradaban dunia dengan segala macam cara secara global.
Mereka sadar betul, ketika umat Islam menemukan kunci dan rahasia untuk menggalang kekuatannya, maka pasti umat Islam akan kembali tegak, jaya, dan memimpin berbagai peradaban serta teknologi modern yang tak tertandingi.
Di manakah kunci kekuatan itu? Kunci itu ada pada Ukhuwah Islamiyah yang mesti ditegakkan selama hidup di dunia. Ukhuwah Islamiyah artinya persaudaraan umat Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, persatuan, kedamaian, dan kekompakan dalam segala macam keadaan.
Secara psikologis, ukhuwah ini memanggil jiwa kita untuk senantiasa menjaga kerukunan, merawat hubungan baik, dan bersama-sama membangun peradaban lewat karya-karya tinggi demi kemaslahatan umat manusia. Untuk menciptakan ukhuwah yang betul-betul kokoh, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan bimbingan yang sangat hebat dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.”
Kaum muslimin dan jamaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,
Jika kita merenung lebih dalam, ayat di atas memberikan tiga langkah strategis agar ukhuwah islamiyah benar-benar terbangun dengan kokoh:
1. Berpegang Teguh pada Tali Agama Allah
Artinya, kita menjadikan ajaran Islam sebagai acuan utama dalam segala aspek kehidupan. Islam diibaratkan sebagai tali yang mengikat setiap individu agar tidak lepas dari ketentuan demi keselamatan hidupnya.
Ibarat kita menghimpun beberapa kayu yang berserakan, ketika kayu tersebut diikat dengan kuat, maka mereka akan terjaga kokoh di satu tempat. Namun, jika ikatan itu lepas, kayu-kayu itu akan terhempas, terinjak, bahkan dianggap mengganggu lalu lintas manusia hingga akhirnya disingkirkan dan dibakar sampai hangus tak tersisa.
Demikian pula umat Islam. Manakala kita bercerai-berai dan tidak menjadikan ajaran Islam sebagai pengikat, kita akan berserakan dan kehilangan taji. Kita hanya akan menjadi bagaikan buih di lautan yang terombang-ambing oleh ombak yang menghempasnya.
2. Janganlah Bercerai-berai
Setelah berpegang teguh pada Islam, kita wajib merawatnya dengan cara tidak bercerai-berai. Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena perbedaan pendapat, perbedaan budaya, tingkat pengetahuan, atau status sosial. Perbedaan mestinya menjadi kekayaan dan sumber kekuatan untuk saling melengkapi.
Ketahuilah, perceraian dan perpecahan—apa pun alasannya—akan menghancurkan hubungan di antara kita, menyumbat komunikasi, dan meruntuhkan kekuatan umat. Sadarlah, setiap kali muncul keinginan untuk berpecah belah, itulah sesungguhnya yang paling diinginkan oleh musuh-musuh Islam.
Mengenai hal ini, Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita dalam sebuah hadis:
الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
“Berjamaah (bersatu) adalah rahmat, sedangkan bercerai-berai adalah azab.” (HR. Ahmad)
Perceraian adalah azab yang akan menyengat hidup kita, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Benarlah pepatah orang tua zaman dulu: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Jangan biarkan persatuan ini retak, karena di celah keretakan itulah musuh-musuh Islam akan masuk dengan leluasa untuk merusak kita dari dalam.
3. Ingatlah Nikmat Allah
Langkah ketiga adalah mengakui, meyakini, dan senantiasa mengingat nikmat Allah yang begitu melimpah, terutama nikmat persaudaraan. Tidak ada kenikmatan yang melebihi indahnya hidup bersaudara dalam iman. Oleh karena itu, haram bagi kita untuk saling menyakiti, saling membelakangi, atau saling merendahkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dengan sangat jelas:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya (dalam kesusahan), dan tidak boleh merendahkannya.” (HR. Muslim)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ingatlah, satu-satunya agama yang dapat merawat harmonisasi dalam kerukunan dan kedamaian sejati adalah Islam. Satu-satunya agama yang menegakkan keadilan mutlak adalah Islam. Dan Islam pulalah agama yang diamanahkan untuk merawat alam semesta beserta isinya (Rahmatan lil ‘Alamin), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Inilah tiga poin pokok yang harus kita genggam erat untuk menjaga kekuatan umat Islam agar tetap tegak dan jaya sepanjang masa. Jangan sampai kita lemah dan dilemahkan. Sebab, jika kepemimpinan dunia jatuh ke tangan mereka yang zalim, maka peradaban akan diisi dengan penindasan. Namun, jika Islam yang memegang kendali peradaban, maka umat manusia akan merasakan indahnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang membawa keamanan, kenyamanan, kedamaian, dan keselamatan di atas muka bumi.
Hadirin jamaah yang berbahagia rahimakumullah, inilah untaian sikap yang dapat khatib sampaikan sebagai kompas dan panduan kita. Mari kita bulatkan tekad, rapatkan barisan, dan tanpa kenal lelah senantiasa menjaga kekuatan ukhuwah Islamiyah ini di mana pun dan kapan pun kita berada.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْر الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلـمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلـمُؤْمِنَاتِ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَاْلـمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلـمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلـمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلـمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلـمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلـمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
Bekasi, 18 Muharram 1447 H/3 Juli 2026 M
Penulis : Marolah Abu Akrom Hp. 087887270732 (Jurnalis media SinarLIMA/Sinar5News.com, guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan staf pengajar Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta





