AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM YANG PERTAMA

AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM YANG PERTAMA

Sinar5News.Com – Jakarta – Sumber adalah tempat pengambilan, rujukan atau acuan dalam penyelenggaraan ajaran Islam, karena itulah sumber memiliki peranan yang sangat penting bagi pelaksanaan ajaran Islam.

Dari sumber inilah umat Islam dapat memiliki pedoman-pedoman tertentu untuk melaksanakan proses ajaran Islam, tanpa adanya suatu sumber maka umat Islam akan terombang-ambing dalam menghadapi ideologi dan bisa jadi akan berahir pada kesesatan atau kenistaan.

1. Pengertian Al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam 

Secara etimologi Al-Qur’an berasal dari kata “qara’a, yaqra’u, qira’atan, qur’anan” yang berarti mengumpulkan dan menghimpun huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian ke bagian lain secara teratur. 

Ada juga sumber lain mengatakan bahwa Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yng sungguh tepat, karena tiada satu bacaanpun sejak anusia mengenl baca tulis yang dapat menandingi Al-Qur’an al-Karim.

Secara terminologi Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang diampaikan lewat malaikat jibril, yang dikomunikasikan dengn bahasa arab, harus dipercayai tanpa syarat dan menjadi pedoman bagi para pengikutnya yaitu umat Islam diseluruh dunia.

2. Pengertian Asbabun Nuzul

Ungkapan asbabun nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata asbab dan nuzul. Secara etimologi, asbabun nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Namun kata asbabun nuzul hanya dipergunakan khusus untuk Al-Qur’an. Para ulama berpendapat bahwa ketika memaknai kata nuzul, inzal, dan tanzil yang terdapat pada ayat Al-Qur’an, ada yang memaknai idhar yaitu melahirkan Al-Qur’an.

Menurut az-zarqani asbabun nuzul adalah khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya Al-Qur’an sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi. Mayoritas ulama sepakat bahwa konteks kesejarahan yang terakumulasi dalam riwayat-riwayat asbabun nuzul merupakan suatu hal yang signifikan untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an. Bahkan al-wahidi menyatakan ketidakmungkinan untuk menginterpretasikan Al-Qur’an tanpa mempertimbangkan aspek kisah dan asbabun nuzul.

Dalam uraian yang lebih rinci, Az-Zarqani mengemukakan urgensi asbabun nuzul dalam memahami Al-Qur’an sebagai berikut:

a. Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan-pesan ayat Al-Qur’an.

b. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.

c. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an, bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus dan bukan lafazh yang bersifat umum.

d. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan ayat Al-Qur’an turun.

e. Memudahkan untuk menghafalkan dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya

3. Tahapan Turunnya Al-Qur’an

Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi. Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan nabi Muhammad SAW dan umatnya dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Allah menurunkan kepada manusia melalui 3 tahap yaitu:

a. Al-Qur’an diturunkan  Allah dari Lauhul Mahfudz

Al-arqani tidak menyinggung lebih jauh tentang kapan penurunan Al-Qur’an di Lauhul Mahfudz ini. Beliau hanya menyatakan tidak ada yang tahu persis kapan Al-Qur’an diturunkan di Lauhul Mahfudz kecuali Allah sendiri.

b. Dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izza

Yaitu langit yang pertama yang tampak ketika dilihat di dunia ini namun tidak diketahui letak persisnya. Adapun jumlahnya adalah semuanya pada waktu Lailatul Qadr. Namun tanggalnya tidak diketahui, dan pada bulan Ramadhan.

Al-Qurtubi telah menukil dari Muqtil bin Hayyan riwayat tentang kesepakatan bahwa turunnya Al-Qur’an sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izza di langit di dunia. 

c. Dari Baitul ‘Izza ke Rasulullah

Tahapan ketiga atau yang terakhir adalah Al-Qur’an diturunkan dari Baitul ‘Izza kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat jibril. Penurunannya tidak secara langsung sekaligus, namun diangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun berdasarkan kebutuhan, peristiwa atau bahkan melalui permintaan malaikat jibril. Adapun kitab-kitab lain seperti tauraut, zabur dan injil diturunkan oleh Allah SWT dengan cara sekaligus tidak secara berangsur-angsur.

4. Isi dan Pesan-pesan Al-Qur’an

Alqur’an diturunkan kepada nabi Muhammad kurang lebih selama 23 tahun, dalam dua fase yaitu 13 tahun pada  fase sebelum beliau hijrah ke Madinah (Makiyah) dan 10 tahun pada fase sesudah hijrah ke Madinah (Madaniyah). Isi Al-Qur’an terdiri dari 114 surat, 6236 ayat, 74437 kalimat, dan 325345 huruf. Proporsi masing-masing fase tersebuut adalah 86 surat untuk ayat-ayat Makiyah dan 28 surat untuk ayat-ayat Madaniyah.

Dari keseluruhan isi Al-Qur’an itu, pada dasarnya mengandung pesan-pesa sebagai berikut; masalah tauhid, termasuk didalamnya masalah kepercayaaan pada yang gaib; masalah ibadah, yaitu egiatan-kegiatan dan perbuatan-perbuatan yang mewujudkan dan menghidupkan didalam hati dan jiwa;  masalah janji dan ancaman yaitu janji dengan balasan baik bagi mereka yang berbuat baik dan sebaliknya ancaman siksa  bagi mereka yang berbuat jahat; jalan menuju kebahagiaan dunia akhirat, berupa ketentuan-ketentuan yang hendaknya dipenuhi untuk mencapai keridhaan Allah SWT; riwayat dan cerita, yaitu sejarah orang-orang terdahulu baik sejarah bangsa-bangsa, tokoh-tokoh maupun Nabi dan Rosul.

Ada dua segi pembahasan isi/kandungan Al-Qur’an, yaitu dimensi keagamaan dan dimensi keilmuan.

a. Dimensi keagamaan

Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan. Pertama, akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia, yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan; kedua, mengenai syariat dan hukum,dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya; ketiga, mengenai akhlak yang murni, dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya baik secara individual maupun kolektif.

b. Dimensi keilmuan

Al-Qur’an adalah sumber segala pelajaran dan pengetahuan, didalamnya pembicaraan-pembicaraan dan kandungan isinya tidak semata-mata terbatas pada bidang-bidang keagamaan, ia meliputi berbagai aspek hidup dan kehidupan manusia.

Menurut Dr. Muhammad Ijazul Khatib dari Universitas Damaskus, tak ada yang lebih menekankan pentingnya sains dari pada kenyataan bahwa: berbeda dengan bagian legislatif yang hanya 250 ayat saja, sedangkan 750 ayat Al-Qur’an –hampir seperdelapannya- menegur orang-orang mukmin untuk mempelajari alam semesta, untuk berfikir, untuk menggunakan penalaran yang sebaik-baiknya, untuk menjadikan kegiatan ilmiah ini sebagai bagian dari kehidupan umat. Pandangan mengenai Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan bukanlah merupakan sesuatu yang baru, karena banyak ulama besar kaum muslimin yang berpandangan demikian.

Sedangkan menurut Masyfuk Zuhdi bahwa isi atau kandungan ajaran Al-Qur’an pada hakekatnya mengandung lima prinsip, yaitu:

a. Tauhid

Sekalipun Nabi Adam AS sebagai manusia pertama dan Nabi pertama adalah seorang monotheisme/muwahhid dan mengajarkan tauhid kepada turunannya, namun kenyataannya tidak sedikit manusia keturunannya itu yang menyimpang dari ajaran tauhid. 

b. Janji dan ancaman tuhan

Tuhan menjanjikan kepada setiap orang yang beriman dan selalu mengikuti semua petunjuk-Nya akan mendapatkan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya Tuhan akan mengancam kepada siapa saja yang ingkar kepada tuhan dan memusuhi nabi/rasul-Nya serta melanggar perintah-perintah dan larangan-laranga-Nya, akan mendapat kesengsaraan hidup di dunia maupun akhirat.

c. Ibadah 

Tujuan hidup manusia didunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Pengertian ibadah menurut Islam adalah cukup luas, sebab tidak hanya berbatas pada shalat, puasa, haji dan semacamnya. Tetapi semua aktifitas yang dilakukan manusia denga motivasi niat yang baik seprti untuk mencari ridlo Allah, semuanya dipandang ibadah. 

d. Jalan dan cara mencapai kebahagiaan

Setiap orang yang breagama pasti bercita-cita ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Untuk bisa mencapai cita-citanya, Tuhan dalam Al-Qur’an memberikan petunjuk-petunjuk-Nya bahwa manusia harus menempuh jalan yang lurus dengan cara menghayati dan mematuhi segala aturan agam yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya.

e. Cerita-cerita/sejarah-sejarah umat manusia sebelum Nabi Muhammad SAW

Didalam Al-Qur’an terdapat cerita-cerita tentang para nabi dan umatnya masing-masing. Cerita-cerita tersebut diungkapkan kembali didalam al-quran dengan maksud agar dijadikan pelajaran bagi manusia sekarang tentang bagiamna nasib manusia yang taat kepada tuhan. 

5. Fungsi dan Tujuan Al-Qur’an

Menurut Dr. M. Quraish Shihab dalam “wawasan Al-Qur’an menyebutkan delapan tujuan diturunkannya Al-Qur’an:

a. Untuk menbersihkan dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta mementapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi tuhan semesta alam.

b. Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia merupakan umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengapdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.

c. Untuk menciptakan perstuan dan kesatuan.

d. Untuk mengajak manusia berfikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

e. Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit dan penderitaan hidup,serta pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan juga agama.

f. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang.

g. Untuk memberikan jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

h. Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan suatu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia dengan panduan dan panduan Nur Ilahi.

Berikut adalah fungsi al-quran menurut nama-namanya:

a. Al-huda (petunjuk) Dalam al-quran terdapat 3 kategori tentang posisi al-quran sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Kedua, al-quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Ketiga, petunjuk bagi orang-orang beriman.

b. Al-furqan (pemisah) Dalam al-quran dikatakan bahwa ia adalah ugeran untuk membedakan dan bahkan memisahkan antara yang hak dan batil.

c. Asy-syifa (obat) Al-quran dikatakan berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit dalam dada. Yang dimaksud penyakit dalam dada adalah penyakit-penyakit psikologis.

d. Al-mauizhah (nasihat) Al-quran berfungsi sebagai nasihat orang-orang yang bertakwa.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA